- Mengabaikan pernyataan asli
- Membuat pernyataan baru yang seakan-akan milik lawan bicara
- Mengalahkan pernyataan baru buatannya sendiri
- Mengumumkan kemenangannya
- Memberikan tarian kemenangan
Strawman Fallacy: Saat Argumen Kamu Dipelintir dalam Diskusi

- Strawman fallacy adalah sesat pikir ketika seseorang mengabaikan argumen asli, lalu menciptakan versi yang dipelintir agar lebih mudah diserang dan diklaim kalah.
- Trik ini dapat muncul karena keinginan menang debat secara praktis, malas memahami konteks, terburu-buru menyimpulkan, atau bias kognitif terhadap lawan bicara.
- Dampaknya membuat diskusi tidak produktif dan berpotensi memicu misinformasi; responsnya adalah tetap tenang, meluruskan argumen asli, meminta bukti, lalu menghentikan debat bila perlu.
Pernah gak kamu melakukan sebuah diskusi, kemudian lawan bicaramu menyerangmu dengan mengubah argumenmu menjadi argumen baru yang sama sekali gak kamu maksudkan? Mendengar frasa seperti “Berarti kamu berpendapat bahwa...” dalam konteks tertentu rasanya menyebalkan, bukan. Frasa semacam itu kerap digunakan untuk memelintir ucapan seseorang.
Nah, dalam logical fallacy atau sesat pikir, memelintir omongan orang lalu menyerangnya dengan argumen-argumen lain disebut sebagai strawman fallacy. Kenapa bawa-bawa strawman alias orang-orangan sawah? Supaya kamu lebih memahami apa itu strawman fallacy, simak ulasan lengkapnya!
1. Definisi strawman fallacy

ilustrasi orang bertengkar (pexels.com/Budgeron Bach) Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, strawman berarti orang-orangan sawah. Trik strawman fallacy ibarat seseorang enggan bertarung dengan sosok aslimu, lalu ia membuat orang-orangan sawah untuk bisa menepisnya hingga jatuh, kemudian mengeklaim bahwa dirinya menang.
Orang dengan trik ini punya cara untuk mengubah argumenmu menjadi argumen baru yang seolah-olah milikmu, padahal kamu gak pernah berucap demikian. Argumen baru yang dibuat pelaku biasanya terkesan konyol, gak masuk akal, atau gak nyambung sama sekali. Hal tersebut ia maksudkan agar ia bisa dengan mudah menjatuhkanmu sebagai lawan bicaranya.
Contoh strawman fallacy seperti ketika kamu memutuskan untuk unfollow akun influencer karena merasa kontennya gak relevan lagi dengan minatmu. Namun, temanmu malah merespons dengan bilang bahwa kamu membencinya dan gak mendukung karya lokal. Padahal, kamu hanya ingin merapikan lini masa media sosial, tapi argumenmu dipelintir seakan-akan kamu punya kebencian personal.
Secara garis besar, pelaku strawman fallacy biasanya menerapkan lima langkah berikut dalam menjalankan triknya.
2. Penyebab strawman fallacy

ilustrasi orang bertengkar (pexels.com/Liza Summer) Kenapa orang bisa melakukan strawman fallacy? Sebagaimana telah dikatakan di awal, trik ini termasuk sesat pikir karena seseorang menciptakan argumen versi buatannya sendiri dari argumen lawan bicara agar lebih mudah diserang. Hal tersebut dimaksudkan agar mereka dapat memenangkan perdebatan secara praktis. Menganalisis argumen yang berbobot tentu memerlukan effort. Bagi pelaku strawman fallacy, daripada harus repot-repot menyanggah secara rasional dan berpikir kritis, memelintir argumen jauh lebih efisien untuk membuat lawan bicara terlihat salah.
Selain itu, trik ini juga dapat lahir karena pelaku yang malas memahami konteks. Gak sedikit dari kita yang hanya menangkap sepenggal kalimat tanpa berusaha menyimak dan memahami maknanya secara menyeluruh. Kita buru-buru menyimpulkan, kita tergesa-gesa merespons. Alhasil, pemahaman keliru yang didapat diubah menjadi senjata untuk menjatuhkan.
Bias kognitif juga bisa menjadi penyebabnya. Ketika individu merasa gak suka atau telah memiliki asumsi buruk terhadap seseorang, ia cenderung menyimpulkan ucapan orang itu secara negatif, bahkan ekstrem.
3. Dampak strawman fallacy terhadap komunikasi

ilustrasi orang sedang berdebat (pexels.com/https://kaboompics.com/) Sebagai salah satu jenis sesat pikir, strawman fallacy tentu punya dampak buruk dalam komunikasi. Orang yang menggunakan trik ini secara gak langsung merusak kualitas percakapan dan hubungan dengan lawan bicara. Akibatnya, diskusi jadi gak produktif karena percakapan habis untuk mengklarifikasi ucapan yang dipelintir, bukannya fokus pada topik utama yang dibahas.
Adapun di ruang digital, cara pikir yang sesat ini kerap kali memicu misinformasi. Audiens yang mudah terkecoh dan gak jeli bisa langsung memercayai bahwa argumen seseorang emang seburuk itu. Pihak yang menjadi korban pun jelas merasa dirugikan dengan kondisi tersebut.
4. Cara menyikapi strawman fallacy

ilustrasi orang sedang mengobrol (pexels.com/Ryder Meehan) Lantas, kalau kamu diserang oleh pelaku strawman fallacy, bagaimana kamu menyikapinya? Berikut sejumlah cara yang bisa kamu implementasikan.
- Jangan tersulut emosi. Ketenangan menjadi hal penting dalam sebuah perdebatan. Kamu bisa berlatih untuk mengontrol diri agar kamu gak mudah terkecoh untuk mempertahankan argumen palsu buatan lawan bicaramu itu.
- Luruskan argumen asli. Ketika lawan bicaramu memilintir ucapanmu, luruskan argumen aslimu secara tegas, misalnya dengan mengatakan “Bukan itu yang saya maksudkan”. Tarik kembali percakapan yang melebar ke konteks awal.
- Minta klarifikasi atau bukti. Minta lawan bicaramu untuk menunjukkan bagian mana dari argumenmu yang mengacu pada kesimpulan konyolnya. Strategi ini bisa menyadarkan mereka kalau argumen yang dibuat mereka itu sama sekali gak berdasar.
Kalaupun di suatu waktu kamu mendapati kondisi ini dan lawan bicaramu tetap kekeh memelintir ucapanmu, sudahi saja perdebatan yang gak produktif itu.
Dengan pemahaman mengenai strawman fallacy, diharapkan kita bisa lebih peka ketika seseorang melakukan trik ini. Pemahaman ini juga bisa jadi bahan refleksi diri agar kita gak melakukannya dalam sebuah percakapan untuk menciptakan komunikasi yang sehat.
Sumber referensi:
Hidayat, D. N., Defianty, M., Kultsum, U., & Sufyan, A. (2020, October). Logical fallacies in social media: A discourse analysis in political debate. In 2020 8th International Conference on Cyber and IT Service Management (CITSM) (pp. 1-5). IEEE.
Ruangguru. (2025, 20 Februari). Berbagai Macam Sesat Pikir (Logical Fallacy) Part 2. Diakses pada Oktober 2026
Fhandy Pandey. Pengertian Dan Jenis-Jenis Sesat Logika (Logical Fallacy) Yang Sering Terjadi Saat Berargumen. Diakses pada Oktober 2026





















