Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kapan Bayi Mulai Mengenali Namanya? Ini Tahapan dan Cara Melatihnya

4 min read
Kapan Bayi Mulai Mengenali Namanya? Ini Tahapan dan Cara Melatihnya
ilustrasi bayi memakain beanie hat (pexels.com/william-fortunato)

Nama adalah salah satu kata yang paling sering didengar bayi sejak lahir. Namun, mengenali bunyi nama dan memahami bahwa panggilan itu ditujukan kepadanya membutuhkan proses seiring perkembangan kemampuan komunikasinya. Karena itu, gak semua bayi langsung menoleh saat namanya dipanggil.

Lalu, pada usia berapa bayi mulai mengenali namanya sendiri? Ada beberapa tahapan yang perlu kamu pahami, termasuk cara sederhana untuk membantu si kecil belajar merespons panggilan. Yuk, simak penjelasannya!

  1. 1. Kapan bayi mulai mengenali namanya?

    seorang ibu melatih bayi sikat gigi
    ilustrasi seorang ibu melatih bayi sikat gigi (pexels.com/martproduction)

    Sebagian besar bayi mulai mengenali namanya sendiri pada usia 4–9 bulan. Sebelum mencapai tahap ini, bayi biasanya mulai menunjukkan kemampuan untuk menemukan arah sumber suara dan merespons suara keras pada usia sekitar 2–4 bulan, misalnya dengan terkejut ketika mendengar klakson mobil atau gonggongan anjing.

    Dikutip dari The Bump, menurut Julie Capiola, MD, dokter anak di Premier Pediatrics, bayi diharapkan mulai menoleh sebentar ketika namanya dipanggil saat berusia 9 bulan. Meski begitu, setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Ada bayi yang mulai merespons lebih awal, sementara bayi lainnya membutuhkan waktu lebih lama.

    “Semua perkembangan berlangsung secara bertahap dan berkesinambungan,” ujar Capiola.

    Capiola menekankan bahwa hal terpenting adalah perkembangan sosial bayi secara keseluruhan, termasuk kemampuannya merespons orang lain dan mengeluarkan suara untuk menarik perhatian. Pada usia 9–12 bulan, bayi diharapkan mulai merespons namanya secara konsisten, misalnya dengan tersenyum, melakukan kontak mata, atau menoleh. Jika belum menunjukkan respons tersebut, konsultasikan dengan dokter anak untuk mengetahui apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

  2. 2. Bagaimana bayi mempelajari namanya?

    ilustrasi bayi memakain beanie hat
    ilustrasi bayi memakain beanie hat (pexels.com/william-fortunato)

    Bayi mulai mempelajari namanya jauh sebelum mampu mengucapkannya sendiri. Proses ini berlangsung melalui interaksi sehari-hari, terutama ketika orangtua atau pengasuh berulang kali menyebutkan namanya saat mengajak bicara, bermain, atau melakukan aktivitas bersama.

    Jana Sarno, seorang analis perilaku bersertifikat dan kepala petugas klinis di Hopebridge Autism Therapy Centers, dikutip dari The Bump, menjelaskan bahwa proses komunikasi bayi dimulai dari kemampuan bahasa reseptif (receptive language). Kemampuan ini berkaitan dengan pemahaman terhadap kata-kata dan suara yang didengar. Menurut Sarno, bayi kemungkinan akan belajar mengenali suara orang-orang yang merawatnya sebelum mulai mengenali kata-kata tertentu.

    Seiring bertambahnya usia, bayi mulai menghubungkan bunyi nama yang sering didengarnya dengan dirinya sendiri. Jocelyn M. Wood, seorang terapis wicara dan bahasa bilingual yang berbasis di New York City, dikutip laman yang sama, menjelaskan bahwa bayi mungkin mendengar namanya lebih sering daripada kata-kata lainnya karena orangtua kerap menyebutkan nama tersebut dalam rutinitas sehari-hari, termasuk ketika menggunakan nama panggilan.

    “Bayi mengenali rutinitas ini. Ketika mendekati usia 6–7 bulan, mereka mulai memilah kata-kata tersebut dan memahami bahwa kata-kata itu merujuk kepada diri mereka sendiri,” ujar Wood.

    Artinya, kebiasaan sederhana seperti menyebut nama bayi saat menyambutnya pada pagi hari atau mengajaknya bermain bisa menjadi bagian dari proses belajar. Pengulangan membantu bayi semakin terbiasa dengan bunyi namanya hingga perlahan mampu memberikan respons ketika mendengarnya.

  3. 3. Cara mengajarkan nama kepada bayi

    ilustrasi bayi memakai jacket dan beanie hat
    ilustrasi bayi memakai jacket dan beanie hat (pexels.com/yankrukov)

    Salah satu cara sederhana membantu bayi mengenali namanya adalah dengan menyebutkannya secara konsisten dalam percakapan sehari-hari, misalnya, “Selamat pagi, Kai,” atau “Olivia, lihat ini.” Menurut Wood, penggunaan kosakata yang sama dalam rutinitas harian membantu anak memahami lingkungan dan mengenali kata-kata yang sering didengar.

    Ajaklah bayi berbicara meskipun ia belum bisa menjawab. Ceritakan kegiatan sehari-hari, seperti mengganti popok atau menyiapkan makanan. Capiola menyarankan penggunaan beragam kata sifat dan kata kerja untuk mendukung perkembangan bahasa anak.

    Kamu juga bisa bermain cilukba sambil menyebutkan namanya, menyanyikan lagu yang memuat namanya, atau membacakan buku yang dipersonalisasi. Sarno menyarankan kalimat sederhana seperti, “Di mana Liam? Itu dia!” agar bayi terbiasa mendengar namanya melalui permainan.

    Wood turut menyarankan orangtua mengajak bayi bercermin sambil menyebutkan namanya. Kegiatan ini membantu bayi mengenali dirinya sekaligus mengamati gerakan mulut saat orangtua berbicara. Agar lebih fokus, kurangi gangguan seperti suara televisi atau musik ketika berinteraksi dengannya.

    Setiap bayi punya waktu sendiri untuk mengenali namanya, jadi kamu gak perlu buru-buru membandingkan perkembangannya dengan anak lain. Terus ajak si kecil berbicara dan bermain sambil menyebut namanya, ya, karena interaksi sederhana yang penuh kasih sayang bisa menjadi bagian penting dari perjalanan belajarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More