Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kamu Terus Mencari Validasi, Mungkin Penyebabnya Harga Diri Rendah

3 min read
Kamu Terus Mencari Validasi, Mungkin Penyebabnya Harga Diri Rendah
ilustrasi self-esteem menurun (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Kurangnya validasi, penghargaan, atau penerimaan pada masa kecil dapat membentuk keyakinan negatif dan harga diri rendah hingga dewasa.
  • Harga diri rendah membuat persetujuan, pujian, dan perhatian orang lain dicari untuk meredakan rasa tidak berharga, meski kepuasannya hanya sementara.
  • Kebiasaan mencari validasi eksternal dapat dikurangi dengan validasi internal, mengenali kekuatan dan emosi diri, serta membangun afirmasi positif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika anak-anak, kita membutuhkan validasi orangtua atau orang yang lebih dewasa untuk membangun kepercayaan diri dan harga diri. Sayangnya, beberapa orang tak mendapatkan validasi yang cukup, sehingga ketika dewasa, mereka berjuang menjalani kehidupan dengan harga diri yang rendah.

Akibatnya, ketika dewasa hal ini tidak hanya memengaruhi diri sendiri, namun juga cara melihat hubungan romantis atau menjalin relasi dengan orang lain. Lantas, benarkah kamu terus mencari validasi padahal penyebabnya adalah self esteem yang rendah?

  1. 1. Mengapa seseorang terus mencari validasi eksternal?

    ilustrasi masa kecil yang merugikan
    ilustrasi masa kecil yang merugikan (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Psikoterapis Dan Roberts dalam Psychology Today memberi contoh bagaimana seseorang membingkai suatu peristiwa berdasarkan pengalamannya di masa lalu. Seorang anak yang ketika kecil kerap disepelekan, diabaikan, bahkan karyanya ditertawakan, ketika dewasa dapat mengembangkan skema yang menyakitkan di otaknya. Ia merasa kurang dicintai dan dihargai, sehingga kebutuhan validasi yang besar tumbuh dalam dirinya.

    Pengalaman tersebut dapat membentuk keyakinan negatif tentang diri sendiri, sehingga persetujuan orang lain menjadi cara untuk meredakan perasaan tidak berharga. Akibatnya, ketika menghadapi penolakan atau kurangnya perhatian, seseorang cenderung berusaha lebih keras untuk mendapatkan pengakuan demi merasa diterima dan dicintai.

    Pujian dan pengakuan pun menjadi cara untuk menutupi rasa tidak aman tersebut, meski hanya memberikan kepuasan sementara. Pada akhirnya, menurut Dan, seseorang perlu belajar membangun penghargaan terhadap diri sendiri agar tidak terus bergantung pada penilaian orang lain dan merasa berharga.

  2. 2. Validasi eksternal dipengaruhi kebiasaan masa kecil

    ilustrasi ibu dan anak berpelukan
    ilustrasi ibu dan anak berpelukan (pexels.com/Yan Krukau)

    Sebuah studi tahun 2016 berjudul "The Role of Maternal Emotional Validation and Invalidation on Children’s Emotional Awareness", menunjukkan bahwa validasi emosional dari ibu ketika masa anak-anak membangun kesadaran emosional yang penting. Ketika seorang anak tumbuh tanpa merasa dihargai atau menerima pujian, mereka akan kesulitan mengatur emosi mereka.

    Tak hanya kesulitan untuk mendapatkan pengakuan, pola ini juga mendorong seseorang untuk memercayai orang lain karena selalu merasa cemas atas penolakan. Meski demikian, mendapatkan apresiasi atau pujian yang berlebihan di masa kecil juga dapat menyebabkan kesulitan atau masalah dalam berinteraksi dengan orang orang lain.

  3. 3. Bagaimana mengurangi kebiasaan untuk mencari validasi eksternal?

    Ilustrasi bahagia
    Ilustrasi bahagia (pexels.com/Photo by Adrian Sanchez)

    Jika memiliki self esteem yang rendah, apa yang bisa dilakukan? Dan menyebut, seseorang yang haus akan validasi dapat dibantu untuk tidak fokus hanya pada bagian kritik atau pesan negatif yang diterima dirinya selama ini. Fokus untuk membuatnya menyadari bahwa tidak ada pujian atau validasi eksternal yang akan menyembuhkan luka masa kecil. Sebaliknya, individu yang membutuhkan banyak validasi eksternal harus belajar untuk memvalidasi diri secara internal.

    Hal tersebut selaras dengan penjelasan Shahida Arabia, penulis PsychCentral yang menyebut validasi internal adalah kemampuan menghargai dan mengakui hal-hal positif dalam diri. Seperti kekuatan, pencapaian, bahkan emosi. Biasakan memberi afirmasi positif pada diri sendiri untuk membatasi validasi yang didapatkan dari pihak lain. Afirmasi positif juga dapat mengganti negative self-talk yang dapat mendorong seseorang tidak selalu haus akan penerimaan orang lain.

    Mencari validasi, baik itu sebagai kebiasaan atau cara hidup dapat dikurangi dengan beradaptasi. Selain itu, Shahida juga menyarankan agar seseorang lebih banyak untuk memberdayakan dirinya dengan melakukan validasi internal. Validasi diri menanamkan keyakinan yang lebih positif dan memberdayakan dapat menjadi penting untuk menumbuhkan dan mempertahankan harga diri yang sehat.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More