Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Bentuk Bullying di Grup Chat Kantor yang Gak Boleh Dianggap Sepele

7 min read
5 Bentuk Bullying di Grup Chat Kantor yang Gak Boleh Dianggap Sepele
ilustrasi bullying rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)
  • Bullying di grup chat kantor dapat berupa lelucon merendahkan, sindiran kerja, pengucilan, pesan kasar atau ancaman, serta penyebaran gosip dan informasi pribadi tanpa izin.
  • Perilaku perlu diwaspadai bila berulang, menyasar orang tertentu, mempermalukan, menekan, atau menghambat pekerjaan; hal ini bisa mengganggu kepercayaan diri, kesehatan mental, dan suasana kerja.
  • Korban dianjurkan menyimpan bukti relevan, membedakan kritik profesional dari serangan pribadi, mencari dukungan, serta melaporkan pola perundungan kepada atasan atau HR.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Grup chat kantor biasanya dibuat untuk mempermudah komunikasi, mulai dari membagikan informasi pekerjaan hingga berkoordinasi dengan rekan satu tim. Namun, ruang komunikasi yang seharusnya membantu pekerjaan ini juga bisa menjadi tempat munculnya perilaku bullying. Candaan yang merendahkan, komentar bernada menyindir, hingga tindakan sengaja mengucilkan rekan kerja dapat terjadi tanpa disadari. Apalagi, komunikasi melalui pesan teks membuat seseorang lebih mudah menyampaikan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain. Situasi ini bisa terasa makin rumit ketika pelakunya adalah rekan kerja senior atau orang yang memiliki jabatan lebih tinggi. Karena itu, penting untuk mengenali bentuk-bentuk perundungan di grup chat kantor agar kamu gak menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Sekilas, perilaku tersebut mungkin terlihat seperti candaan biasa di antara rekan kerja. Namun, jika dilakukan berulang kali, menyasar orang tertentu, dan membuatnya merasa tertekan atau dipermalukan, situasinya perlu mendapat perhatian serius. Dampaknya bukan cuma membuat suasana kerja menjadi gak nyaman, tetapi juga bisa memengaruhi kepercayaan diri dan kesehatan mental seseorang. Korban mungkin memilih diam karena takut dianggap terlalu sensitif atau khawatir hubungannya dengan rekan kerja menjadi buruk. Padahal, lingkungan kerja yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi setiap orang untuk berkomunikasi tanpa merasa terancam. Berikut lima bentuk bullying di grup chat kantor yang gak boleh dianggap sepele.

  1. 1. Menjadikan rekan kerja sebagai bahan lelucon yang merendahkan

    ilustrasi bullying rekan kerja
    ilustrasi bullying rekan kerja (pexels.com/Thirdman)

    Salah satu bentuk bullying yang sering tersamarkan sebagai candaan adalah menjadikan rekan kerja sebagai bahan lelucon di grup kantor. Misalnya, seseorang terus-menerus diejek karena pernah melakukan kesalahan saat presentasi atau dianggap lambat memahami tugas. Awalnya, komentar tersebut mungkin disambut dengan emoji tertawa oleh anggota grup lainnya. Namun, jika orang yang sama terus menjadi sasaran, candaan itu bisa berubah menjadi tindakan mempermalukan. Situasi ini makin gak nyaman ketika anggota grup lain ikut menimpali tanpa memikirkan perasaan orang yang dijadikan bahan lelucon. Dalih bercanda gak otomatis membuat perilaku merendahkan menjadi bisa diterima.

    Dampaknya mungkin gak langsung terlihat karena korban memilih membalas dengan emoji atau ikut tertawa agar suasana gak canggung. Padahal, respons tersebut belum tentu menunjukkan bahwa ia benar-benar merasa nyaman. Jika kamu menjadi sasaran, kamu berhak menyampaikan bahwa komentar tersebut membuatmu gak nyaman. Kamu juga gak harus membuktikan bahwa dirimu bisa menerima semua candaan demi dianggap asyik oleh rekan kerja. Sebagai anggota grup, hindari ikut menertawakan komentar yang merendahkan orang lain. Candaan yang sehat seharusnya membuat semua orang merasa terlibat, bukan membuat satu orang terus-menerus menjadi bahan tertawaan.

  2. 2. Menyindir pekerjaan seseorang di depan seluruh anggota grup

    ilustrasi bullying rekan kerja
    ilustrasi bullying rekan kerja (pexels.com/Thirdman)

    Bentuk berikutnya adalah menyampaikan sindiran yang sengaja mengarah pada kemampuan atau hasil kerja seseorang. Contohnya, ketika ada laporan yang terlambat dikirim, seorang rekan menulis, "Ada yang kerjaannya santai banget, ya," sambil menyertakan petunjuk yang membuat semua orang tahu siapa yang dimaksud. Komentar semacam ini berbeda dari kritik profesional yang membahas kesalahan secara jelas dan memberikan solusi. Sindiran justru membuat persoalan pekerjaan terasa seperti serangan pribadi. Korban pun bisa merasa dipermalukan karena masalah yang seharusnya dibicarakan secara profesional diumbar di ruang komunikasi bersama. Jika dilakukan berulang kali untuk menjatuhkan orang tertentu, perilaku ini patut diwaspadai sebagai bentuk perundungan.

    Kritik terhadap pekerjaan memang diperlukan agar tim bisa berkembang dan mencapai target bersama. Namun, penyampaiannya tetap perlu memperhatikan konteks, bahasa, dan tempat yang tepat. Jika ada kesalahan dalam laporan, misalnya, rekan kerja dapat menjelaskan bagian yang perlu diperbaiki tanpa melontarkan sindiran. Apabila kamu menerima pesan bernada merendahkan, cobalah membedakan antara masukan yang berfokus pada pekerjaan dan komentar yang menyerang harga dirimu. Simpan pesan yang relevan jika perilaku tersebut terus berulang dan mengganggu pekerjaan. Kamu juga bisa meminta bantuan atasan atau bagian sumber daya manusia (human resources atau HR) untuk menangani masalah tersebut secara profesional.

  3. 3. Sengaja mengucilkan seseorang dari komunikasi pekerjaan

    ilustrasi bullying rekan kerja (pexels.com/Thirdman)
    ilustrasi bullying rekan kerja (pexels.com/Thirdman)

    Mengucilkan rekan kerja bukan hanya dilakukan dengan tidak mengajaknya makan siang atau berbincang di kantor. Perilaku ini juga bisa muncul ketika seseorang sengaja tidak dilibatkan dalam percakapan grup yang berkaitan dengan pekerjaannya. Misalnya, informasi penting sengaja dibagikan kepada anggota tim tertentu, sementara satu orang terus-menerus diabaikan meskipun membutuhkan informasi yang sama. Ada pula situasi ketika pertanyaan dari seseorang dibiarkan tanpa jawaban, tetapi pertanyaan anggota lain langsung ditanggapi. Jika terjadi berulang kali dan dilakukan secara sengaja, pengucilan tersebut dapat menghambat pekerjaan sekaligus membuat korban merasa tidak dianggap sebagai bagian dari tim. Meski begitu, perlu dilihat konteksnya karena pesan yang terlewat atau keterlambatan membalas belum tentu merupakan tindakan bullying.

    Pengucilan dalam komunikasi kerja bisa berdampak lebih besar daripada sekadar perasaan tersinggung. Korban berisiko kehilangan informasi penting, terlambat menyelesaikan tugas, atau dianggap tidak kompeten karena tidak mengetahui perubahan yang terjadi. Kondisi ini juga dapat membuat seseorang merasa terasing meskipun setiap hari bekerja bersama banyak orang. Jika kamu mengalaminya, catat contoh kejadian yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti informasi yang tidak diterima atau pertanyaan penting yang berulang kali diabaikan. Kamu dapat meminta klarifikasi secara profesional kepada pihak terkait agar kebutuhan komunikasi tim tetap terpenuhi. Jika pola pengucilan terus berlanjut, sampaikan persoalan tersebut kepada atasan atau HR dengan bukti yang relevan.

  4. 4. Mengirim pesan kasar, menghina, atau mengancam

    ilustrasi seseorang membalas pesan (pexels.com/Charlotte May)
    ilustrasi seseorang membalas pesan (pexels.com/Charlotte May)

    Grup chat kantor juga bisa menjadi tempat munculnya pesan yang menyerang seseorang secara langsung. Bentuknya beragam, mulai dari panggilan yang menghina, kata-kata kasar, hingga ancaman yang membuat penerimanya takut. Misalnya, seorang rekan menulis bahwa anggota tim tertentu tidak berguna atau mengancam akan mempermalukannya di depan atasan jika melakukan kesalahan lagi. Perilaku semacam ini gak bisa dibenarkan hanya karena terjadi ketika suasana kerja sedang tegang. Tekanan target, tenggat waktu, atau perbedaan pendapat tidak memberikan alasan untuk merendahkan orang lain. Jika pesan tersebut dilakukan untuk mengintimidasi atau berulang kali menyerang orang yang sama, situasinya perlu ditangani dengan serius.

    Ketika menerima pesan seperti itu, kamu gak harus membalas dengan kata-kata kasar untuk membela diri. Usahakan menyimpan tangkapan layar yang memperlihatkan isi pesan, waktu kejadian, dan konteks percakapan jika memungkinkan. Hindari mengedit bukti asli agar informasi yang disampaikan tetap utuh dan mudah diperiksa. Jika pesan berisi ancaman keselamatan, pemerasan, atau ancaman serius lainnya, prioritaskan keamanan diri dan cari bantuan dari pihak yang berwenang sesuai situasinya. Untuk penghinaan atau intimidasi di lingkungan kerja, kamu dapat melaporkannya melalui mekanisme pengaduan perusahaan. Jangan ragu meminta dukungan dari orang tepercaya apabila kejadian tersebut membuatmu merasa takut atau tertekan.

  5. 5. Menyebarkan gosip dan informasi pribadi tanpa izin

    Ilustrasi seseorang menggosip
    Ilustrasi seseorang menggosip (pexels.com/Felicity Tai)

    Bentuk bullying lainnya adalah menyebarkan gosip atau informasi pribadi rekan kerja di grup chat. Contohnya, seseorang membagikan cerita tentang masalah rumah tangga, kondisi finansial, hubungan asmara, atau persoalan pribadi orang lain untuk memancing komentar anggota grup. Ada juga yang menyebarkan tangkapan layar percakapan pribadi tanpa persetujuan pemiliknya. Perilaku tersebut dapat membuat korban merasa dipermalukan dan kehilangan kendali atas informasi pribadinya. Jika informasi yang disebarkan tidak benar, dampaknya bisa semakin besar karena berpotensi merusak reputasi dan hubungan profesional korban. Apabila tindakan ini dilakukan untuk mempermalukan, mengintimidasi, atau mengucilkan seseorang, perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari pola perundungan.

    Di lingkungan kerja, setiap orang perlu memahami batas antara komunikasi profesional dan kehidupan pribadi rekan kerja. Informasi yang pernah dibagikan secara pribadi bukan berarti boleh disebarkan ke grup tanpa izin. Jika kamu menjadi sasaran gosip, hindari menyebarkan kembali informasi tersebut sebagai bentuk balasan karena tindakan itu justru bisa memperluas masalah. Simpan bukti percakapan yang relevan dan jelaskan dampaknya terhadap pekerjaan atau kenyamananmu ketika melaporkannya. Kamu juga dapat meminta pihak yang menyebarkan informasi untuk menghentikan perilakunya jika situasinya aman untuk dibicarakan secara langsung. Jika kejadian terus berulang, mintalah bantuan atasan atau HR untuk memastikan persoalan ditangani secara adil dan menjaga kerahasiaan pihak yang terlibat sejauh memungkinkan.

    Bullying di grup chat kantor bisa muncul dalam bentuk yang terlihat sederhana, mulai dari candaan merendahkan hingga penyebaran informasi pribadi. Perilaku tersebut gak boleh dianggap sepele, terutama jika dilakukan berulang kali, menyasar orang tertentu, dan menimbulkan tekanan atau mengganggu pekerjaan. Meski begitu, penting untuk membedakan perundungan dari kesalahpahaman komunikasi atau kritik profesional yang disampaikan secara pantas. Jika kamu mengalaminya, simpan bukti yang relevan, cari dukungan dari orang tepercaya, dan manfaatkan saluran pengaduan di tempat kerja. Sebagai anggota grup, kamu juga bisa membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dengan tidak ikut menyebarkan hinaan, gosip, atau pesan yang mempermalukan rekan kerja. Ingat, komunikasi profesional bukan cuma soal menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga tentang menghormati orang-orang yang bekerja bersama kita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More