Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Quarter-Life Crisis: 5 Tanda Kamu Bukan Gagal, Cuma Sering Membandingkan
Ilustrasi merenung (pexels.com/Polina Romanenko)

Memasuki usia 20-an sering terasa seperti sedang mengikuti perlombaan yang tidak pernah diumumkan di mana garis finisnya. Ada teman yang sudah punya pekerjaan tetap, ada yang melanjutkan pendidikan, ada yang menikah, membangun bisnis, membeli rumah, atau terlihat sudah tahu persis ke mana hidupnya akan berjalan. Sementara itu, kamu mungkin masih bertanya-tanya apakah pilihan yang kamu ambil sudah benar.

Perasaan tertinggal seperti ini sering dikaitkan dengan quarter-life crisis. Namun, belum tentu masalah utamanya adalah kamu gagal mencapai sesuatu. Bisa jadi, kamu terlalu sering mengukur hidup berdasarkan pencapaian orang lain.

1. Kamu merasa tertinggal meski sebenarnya terus bertumbuh

Ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro studio)

Salah satu tanda kamu terlalu sering membandingkan diri adalah ketika pencapaian sendiri terasa tidak pernah cukup. Kamu mungkin sudah mendapatkan pekerjaan, menyelesaikan kuliah, belajar keterampilan baru, atau berhasil melewati masa sulit.

Namun, begitu melihat orang lain yang tampaknya sudah jauh lebih maju, semua pencapaian tersebut terasa tidak berarti. Masalahnya, perbandingan sering membuat seseorang melihat hidup sebagai perlombaan. Penelitian tentang Gen Z di Indonesia juga menemukan bahwa social comparison memiliki hubungan negatif dengan kepuasan hidup.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan sosial memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap kepuasan hidup, sedangkan harga diri memiliki pengaruh positif yang signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kepuasan hidup pada Generasi Z lebih kuat dipengaruhi secara langsung oleh harga diri dibandingkan melalui interaksinya dengan perbandingan sosial," demikian laporan jurnal The Dynamics of Social Comparison and Life Satisfaction in Generation Z: The Moderating Role of Self-Esteem dalam Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental.

Jadi kalau hampir setiap hari kamu melihat pencapaian orang lain sebagai ukuran kegagalan diri sendiri, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hidupmu, melainkan alat ukur yang kamu gunakan. Coba bandingkan dirimu dengan versi dirimu beberapa bulan atau beberapa tahun lalu. Perkembangan kecil tetap merupakan perkembangan.

2. Kamu menganggap semua orang sudah punya hidup yang serba beres

Ilustrasi merenung (pexels.com/Chris F)

Pernah merasa semua teman sudah tahu tujuan hidup, sementara kamu masih mencoba berbagai pilihan? Perasaan ini mudah muncul ketika yang kamu lihat hanya bagian kehidupan orang lain yang sudah jadi. Di media sosial, seseorang lebih mungkin membagikan kelulusan daripada kegagalan skripsi, pekerjaan baru daripada lamaran kerja yang ditolak, atau liburan daripada kondisi keuangan yang sedang sulit.

Jadi, ketika muncul pikiran, “Kok semua orang sudah berhasil, cuma aku yang belum?”, coba berhenti sebentar. Kamu sebenarnya tidak tahu seluruh cerita di balik unggahan tersebut. Yang kamu lihat mungkin hanya satu halaman dari buku kehidupan seseorang, sedangkan kamu sedang membandingkannya dengan seluruh isi bukumu.

3. Pencapaian orang lain langsung membuatmu merasa tidak berharga

Ilustrasi merenung (pexels.com/Joshua Bull)

Tanda berikutnya adalah ketika keberhasilan orang lain terasa seperti bukti bahwa kamu tidak cukup baik. Teman mendapat promosi dan kamu langsung merasa kariermu gagal. Teman menikah dan kamu merasa hidupmu tertinggal. Perasaan tersebut menunjukkan bahwa pencapaian orang lain mulai digunakan sebagai alat untuk menilai harga dirimu.

Padahal, keberhasilan seseorang tidak secara otomatis mengurangi nilai dirimu. Penelitian pada kehidupan dewasa juga menunjukkan bahwa upward social comparison dapat menjadi salah satu mekanisme yang menghubungkan penggunaan media sosial dengan penurunan self-esteem.

"Sesuai dugaan, paparan perbandingan ke atas memediasi secara negatif hubungan antara penggunaan social networking sites dan harga diri (baik umum maupun fisik), serta memediasi secara positif hubungan antara penggunaan social networking sites dan gejala depresi," dikutip dari laporan The associations between social comparison on social media and young adults’ mental health dari laman Frontiers.

Rasa minder yang muncul setelah melihat keberhasilan orang lain bukan berarti kamu memang tidak kompeten atau gagal. Bisa jadi kamu sedang mengalami efek psikologis dari kebiasaan membandingkan diri. Karena itu, penting membedakan antara “aku belum mencapai sesuatu” dan “aku tidak berharga karena belum mencapainya”. Dua kalimat tersebut terdengar mirip, tetapi dampaknya terhadap cara kamu melihat diri sendiri sangat berbeda.

4. Kamu terus mengubah target hidup karena mengikuti orang lain

Ilustrasi menyendiri (pexels.com/Konstantin Mishchenko)

Kebiasaan membandingkan diri juga bisa membuat tujuan hidupmu terus berganti. Awalnya kamu ingin bekerja di bidang tertentu karena memang menyukainya. Namun setelah melihat teman sukses menjadi kreator konten, kamu ikut merasa harus menjadi kreator. Ketika melihat orang lain membangun bisnis, kamu merasa pekerjaanmu tidak cukup keren.

Begitu melihat orang lain kuliah lagi, kamu kembali mempertanyakan keputusanmu. Perbandingan sosial sebenarnya tidak selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, melihat pencapaian orang lain dapat memberikan inspirasi dan mendorong seseorang memperbaiki diri. Masalah muncul ketika perbandingan tersebut berubah menjadi kritik terhadap diri sendiri.

Penelitian mengenai penggunaan media sosial menjelaskan bahwa self-improvement motivation berarti membandingkan diri dengan orang lain untuk menjadi lebih baik. Sedangkan self-destruction motivation berarti membandingkan diri untuk mengkritik diri sendiri dan melihat seberapa buruk kondisi diri.

"Self-improvement motivations dan self-destruction motivations berkaitan dengan keterlibatan orang dewasa muda dalam perbandingan sosial ke atas yang bersifat asimilatif atau kontras, yang pada gilirannya berhubungan dengan peningkatan atau penurunan kesejahteraan psikologis," dikutip dalam studi Exploring the Relationships between Passive Social Media Use and Psychological Well-Being of Young Adults—The Role of Trait Self-Compassion, Motivations, and Upward Social Comparison dari laman ScienceDirect.

Jadi, saat melihat seseorang berhasil, kamu bisa bertanya, “Apa yang bisa kupelajari dari dia?” alih-alih “Kenapa aku tidak seperti dia?” Pertanyaan pertama membuat perbandingan menjadi sumber informasi. Pertanyaan kedua menjadikannya sumber tekanan.

5. Kamu terlalu fokus pada timeline orang lain sampai lupa punya timeline sendiri

Ilustrasi merenung (pexels.com/Polina Romanenko)

Tanda terakhir adalah ketika hidup terasa seperti memiliki batas usia untuk segala sesuatu. Kamu merasa harus lulus pada usia tertentu, mendapatkan pekerjaan tertentu sebelum usia tertentu, menikah sebelum usia tertentu, memiliki rumah pada usia tertentu, atau mencapai kondisi finansial tertentu agar bisa disebut berhasil.

Padahal, fase dewasa muda memang merupakan periode yang penuh eksplorasi, perubahan, dan pencarian identitas. Penelitian tentang quarter-life crisis pada dewasa muda menunjukkan bahwa transisi kehidupan dan tekanan ekspektasi sosial dapat membuat seseorang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Penelitian menunjukkan bahwa pada masa emerging adulthood, seseorang masih berada dalam fase eksplorasi identitas dan menghadapi berbagai ketidakstabilan.

"Pada fase emerging adulthood-masa yang ditandai dengan eksplorasi identitas dan ketidakstabilan—paparan semacam itu dapat berkontribusi terhadap tekanan psikologis, termasuk krisis seperempat abad (quarter-life crisis)," dikutip dari studi Scrolling into Crisis: Social Comparison as a Predictor of Quarter-Life Crisis among Emerging Adults on TikTok dalam Nusantara Journal of Behavioral and Social Science.

Oleh karena itu, merasa bingung mengenai karier, hubungan, tujuan hidup, atau masa depan tidak otomatis berarti kamu gagal. Daripada terus bertanya apakah kamu sudah “secepat” orang lain, coba tanyakan apakah kehidupan yang sedang kamu bangun memang sesuai dengan nilai dan kebutuhanmu. Kamu mungkin tidak berada di tempat yang sama dengan teman-temanmu, tetapi itu bukan bukti bahwa kamu tertinggal. Bisa jadi kamu hanya sedang menempuh rute yang berbeda.

Quarter-life crisis tidak selalu berarti hidupmu berantakan atau kamu gagal menjadi orang dewasa. Kadang, rasa bingung justru muncul karena kamu sedang mencoba menentukan siapa dirimu tanpa terus mengikuti standar orang lain. Jika selama ini kamu merasa tertinggal, mungkin sudah waktunya berhenti melihat kehidupan sebagai perlombaan dan mulai melihatnya sebagai perjalananmu sendiri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article