Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Tanda Kamu Mengalami Thrift-Hoarding, Berkedok Thrifting Hemat!
ilustrasi membeli baju (pexels.com/cottonbro studio)

Thrifting atau membeli barang bekas layak pakai kini sudah menjadi gaya hidup populer bagi generasi muda. Selain dianggap lebih ramah lingkungan karena mendukung konsep sustainability, berburu pakaian bekas vintage juga menjadi cara seru untuk menemukan gaya berpakaian yang unik dengan harga yang relatif terjangkau.

Namun, di balik narasi menghemat uang dan menyelamatkan bumi, ada jebakan psikologis yang sering kali tidak kita sadari. Sifat barang bekas yang murah dan memiliki stok terbatas (one-of-a-kind) sering kali memicu FOMO (Fear of Missing Out) dan perilaku impulsive buying. Tanpa disadari, lemari dan kamarmu mulai dipenuhi oleh puluhan pakaian atau barang preloved yang sebenarnya tidak kamu butuhkan.

Fenomena ini dikenal sebagai thrift-hoarding. Apakah kamu merasa terjebak dalam kondisi ini? Yuk, kenali empat tandanya berikut agar kamu bisa lebih mindful dalam berbelanja!

1. Kamu membeli barang hanya karena harganya murah, bukan karena butuh

ilustrasi mengecek harga (pexels.com/Julia M Cameron)

Salah satu godaan terbesar saat thrifting adalah label harga yang sangat miring. Baju merek ternama yang dijual hanya belasan atau puluhan ribu rupiah kerap membuat kita merasa "rugi jika tidak dibeli".

Padahal, barang murah yang tidak dipakai tetaplah sebuah pemborosan. Jika alasan utamamu memboyong sebuah pakaian hanya karena "mumpung murah" tanpa tahu kapan dan ke mana kamu akan memakainya, itu adalah sinyal awal bahwa kamu terjebak impulsivitas thrift-hoarding.

2. Menggunakan narasi sustainability sebagai pembenaran untuk terus belanja

ilustrasi menjelajahi barang vintage (pexels.com/cottonbro studio)

Thrifting memang merupakan langkah baik untuk mengurangi limbah tekstil. Namun, dampaknya akan menjadi nol besar jika kamu membeli barang bekas secara berlebihan hingga akhirnya menumpuk tak terpakai di kamar.

Sering kali kita membenarkan rasa bersalah setelah belanja dengan berdalih, "Kan ini barang bekas, jadi ramah lingkungan." Membeli barang bekas secara konsumtif tetaplah bentuk konsumerisme. Prinsip sustainable living sejatinya adalah mengonsumsi lebih sedikit barang, bukan sekadar memindahkan tumpukan limbah dari toko ke kamarmu.

3. Lemari penuh, tetapi kamu tetap merasa tidak punya baju untuk dipakai

ilustrasi koleksi pakaian di lemari (pexels.com/Rachel Claire)

Pernahkah kamu membuka lemari yang berisikan tumpukan hasil thrifting, tetapi tetap merasa kebingungan saat memilih pakaian? Ini adalah paradoks dari tumpukan barang (clutter).

Barang bekas yang dibeli secara acak tanpa mempertimbangkan kecocokan dengan gaya harianmu hanya akan membuat lemari menjadi sangat penuh secara visual. Banyaknya pilihan justru membuat otak mengalami decision fatigue, sehingga kamu berakhir menggunakan baju yang itu-itu saja sementara barang hasil thrifting menumpuk tak tersentuh.

4. Merasa cemas berlebihan jika melewatkan event pasar kaget atau thrifting online

ilustrasi belanja online (pexels.com/Marcial Comeron)

Pola perilaku hoarding biasanya didorong oleh rasa takut kehilangan kesempatan. Karena barang thrift umumnya hanya ada satu stok untuk setiap modelnya, muncul dorongan psikologis untuk selalu menjadi yang pertama mendapatkan barang tersebut.

Jika kamu merasa cemas, gelisah, atau merasa tertinggal (FOMO) saat tidak memantau akun-akun thrifting online atau tidak datang ke event thrift market, bisa jadi hubunganmu dengan aktivitas belanja ini sudah tidak sehat. Thrifting yang semula merupakan hobi menyenangkan telah berubah menjadi sumber kecemasan baru.

Thrifting pada dasarnya adalah kebiasaan yang sangat baik jika dilakukan secara bijak. Kunci utamanya adalah kembali ke prinsip dasar: beli apa yang benar-benar kamu butuhkan dan pakai apa yang sudah kamu miliki.

Jadi, sebelum kamu melangkah ke pasar thrift berikutnya, luangkan waktu sejenak untuk melihat kembali isi lemarimu. Apakah kamu benar-benar butuh baju baru, atau sekadar merindukan sensasi berburunya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article