Thrifting atau membeli barang bekas layak pakai kini sudah menjadi gaya hidup populer bagi generasi muda. Selain dianggap lebih ramah lingkungan karena mendukung konsep sustainability, berburu pakaian bekas vintage juga menjadi cara seru untuk menemukan gaya berpakaian yang unik dengan harga yang relatif terjangkau.
Namun, di balik narasi menghemat uang dan menyelamatkan bumi, ada jebakan psikologis yang sering kali tidak kita sadari. Sifat barang bekas yang murah dan memiliki stok terbatas (one-of-a-kind) sering kali memicu FOMO (Fear of Missing Out) dan perilaku impulsive buying. Tanpa disadari, lemari dan kamarmu mulai dipenuhi oleh puluhan pakaian atau barang preloved yang sebenarnya tidak kamu butuhkan.
Fenomena ini dikenal sebagai thrift-hoarding. Apakah kamu merasa terjebak dalam kondisi ini? Yuk, kenali empat tandanya berikut agar kamu bisa lebih mindful dalam berbelanja!
