Pernah gak kamu merasa selalu menjadi orang yang paling siap membantu dalam sebuah hubungan? Kamu cepat membalas pesan, rela mengubah jadwal, mendengarkan cerita berjam-jam, atau tetap berusaha memahami orang lain meskipun dirimu sendiri sedang capek. Awalnya, semua itu mungkin terasa seperti bentuk perhatian yang tulus. Namun, kalau kamu terus memberi sampai kebutuhanmu sendiri gak lagi diperhatikan, bisa jadi kamu sedang mengalami over-giving. Over-giving menggambarkan pola ketika seseorang memberi terlalu banyak waktu, tenaga, perhatian, atau dukungan dalam hubungan sampai mengorbankan dirinya sendiri.
Menjadi orang yang suka membantu tentu bukan sesuatu yang buruk. Masalahnya muncul ketika memberi terasa seperti kewajiban, sementara mengatakan 'gak' membuatmu dihantui rasa bersalah. Kamu mulai bertanya-tanya kenapa hubungan terasa melelahkan meskipun gak ada pertengkaran besar. Bukan karena tidak sayang, tetapi karena kamu terlalu lama mengabaikan kebutuhan sendiri. Yuk, kenali lima tandanya sekaligus cara mengerem kebiasaan over-giving sebelum kamu benar-benar kehabisan energi.
