Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Sebab Orangtua Menolak Dititipi Cucu, Jangan Marah, ya!

7 Sebab Orangtua Menolak Dititipi Cucu, Jangan Marah, ya!
ilustrasi mengasuh cucu (pexels.com/Vietnam Hidden Light)
  • Orangtua bisa menolak mengasuh cucu untuk menegaskan bahwa tanggung jawab utama pengasuhan tetap berada pada pasangan yang memiliki anak, selama keduanya sehat.
  • Usia, kelelahan, dan kondisi kesehatan membuat kakek-nenek belum tentu sanggup mengasuh; tersedia pilihan pengasuh profesional maupun tempat penitipan anak.
  • Penitipan rutin berisiko melemahkan kedekatan anak dengan orangtua, memicu perbedaan pola asuh, serta berkembang menjadi kebiasaan yang membebani kakek-nenek.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anak dititipkan kepada kakek dan neneknya telah menjadi hal biasa, khususnya di masyarakat Indonesia. Selalu ada banyak alasan orangtua melakukan ini. Seperti kesibukan kerja, daripada mempekerjakan pengasuh anak yang belum tentu bisa dipercaya, sampai mendekatkan anak pada kakek dan neneknya.

Meski kerap dianggap wajar, jangan sampai kamu dan pasangan ikut-ikutan. Malah kalian bersikap seakan-akan orangtua masing-masing wajib ikut membantu mengurus anak. Batasan tentang tanggung jawab orangtua terhadap kakek, nenek, atau keluarga besar lainnya sangat jelas.

Dirimu serta pasanganmu tidak boleh marah sedikit pun apabila orangtua kalian menolak saat dimintai tolong mengasuh anak. Apalagi, anak sampai dititipkan di rumah mereka atau orangtua kalian yang diundang ke rumahmu serta pasangan. Yuk, pahami sebab-sebab orangtua menolak dititipi cucu!

  1. 1. Orangtua sedang mengajari kalian tanggung jawab pada anak

    mengasuh cucu
    ilustrasi mengasuh cucu (pexels.com/USD MAT)

    Menjadi orangtua bukan peran yang mudah. Tanggung jawab yang dipikul setiap orangtua sangat besar terkait segala hal tentang anaknya. Tidak sedikit pun orangtua boleh melepaskan tanggung jawabnya terhadap anak.

    Tanggung jawab itu baru memudar bahkan lepas jika orangtua dalam kondisi sakit yang amat berat sampai bangkit dari tempat tidur pun gak bisa. Selama kondisimu dan pasanganmu sehat, tidak ada satu pun alasan buat melemparkan tanggung jawab pengasuhan anak pada orang lain. Terlebih secara gratisan. Itu sama dengan merepotkannya.

  2. 2. Mereka gampang capek bahkan sakit

    mengasuh cucu
    ilustrasi mengasuh cucu (pexels.com/Mehmet Turgut Kirkgoz)

    Kamu dan pasanganmu saja sering merasa capek sekali mengasuh anak. Lebih-lebih orangtua kalian yang usianya dua kali lipat. Sementara anak kudu terus diperhatikan, bahkan masih sering minta digendong.

    Kadang anak merasa tidak nyaman sedikit juga langsung rewel dan sulit tenang. Dramanya banyak sekali. Kakek dan neneknya sudah tak punya energi buat mengatasi masalah seperti ini. Mereka bukan cuma lebih mudah lelah, tapi juga telah sakit-sakitan. Momong cucu bikin kondisi keduanya tambah gak keruan.

  3. 3. Ada jasa pengasuh dan tempat penitipan anak

    mengasuh cucu
    ilustrasi mengasuh cucu (pexels.com/Huy Nguyễn)

    Zaman sekarang apa saja ada. Beda dengan zaman dulu ketika orangtuamu tidak punya banyak pilihan selain mengasuh anak sendiri sepanjang waktu. Kini terdapat banyak yayasan yang menyalurkan tenaga pengasuh anak profesional.

    Mereka tahu cukup banyak tentang cara-cara mengasuh anak, bahkan yang masih bayi. Ada pula tempat penitipan anak sekalian buat mengajari anak bersosialisasi dengan teman sebaya. Waktu penitipan pun dapat dari pagi sampai sore sesuai jam kerja orangtuanya.

  4. 4. Gak mau bonding orangtua dan anak malah lemah

    bersama nenek
    ilustrasi bersama nenek (pexels.com/Kiều Ngọc Bích)

    Penolakan orangtua atau mertuamu buat dititipi cucu bukan keputusan emosional. Justru mereka telah berpikir panjang tentang baik buruknya apabila cucu lebih sering bersamanya daripada orangtua. Itu dapat menyebabkan hubungan anak dengan orangtuanya sendiri malah renggang.

    Anak merasa asing denganmu dan pasanganmu. Ketika kalian libur serta di rumah seharian, anak tetap tak mau dekat-dekat. Ia lebih suka bersama kakek serta neneknya saja. Sering kali jarak emosional ini bertahan hingga anak dewasa.

  5. 5. Waktu kamu kecil juga gak pernah dititipkan ke siapa pun

    mengasuh cucu
    ilustrasi mengasuh cucu (pexels.com/kenan zhang)

    Coba flashback ke masa kamu masih kecil. Pernahkah dirimu dititipkan kepada orang lain seperti kakek dan nenek atau tetangga? Kalau gak, berarti tidak menitipkan anak ke orang lain termasuk dalam prinsip yang dipegang kuat oleh kedua orangtuamu.

    Bukan karena mereka tidak punya kesibukan. Sekalipun mereka tak bekerja di kantor besar sepertimu, tentu keduanya juga mencari nafkah. Pun masih banyak kegiatan lainnya dari beres-beres sampai aktivitas kemasyarakatan. Maka dari itu, orangtuamu tidak melihat urgensi bagimu dan pasanganmu untuk menitipkan anak.

  6. 6. Mencegah kesalahpahaman di antara kalian

    mengasuh cucu
    ilustrasi mengasuh cucu (pexels.com/mk_photoz)

    Beda orang yang mengasuh anak, pasti lain pula aturan-aturannya. Perbedaan ini, sekalipun sama-sama bertujuan baik, dapat menimbulkan kesalahpahaman antara orangtua denganmu dan pasangan. Misalnya, kalian cenderung lebih longgar dalam menyikapi perilaku anak.

    Kalian gak ingin anak terkekang, kehilangan kreativitas dan keberanian, apalagi trauma. Kalian juga selalu soft spoken padanya. Sementara itu, orangtua atau mertuamu fokus pada kedisiplinan serta kontrol.

    Mereka gak mau cucu kebablasan berperilaku tidak sopan atau tak tertib. Ketika anak diasuh kakek dan neneknya, ada lebih banyak aturan. Saat anakmu menurut mereka melanggar atau berbuat keterlaluan, hukuman dan bentakan juga tak ragu diberikan. Kamu serta pasangan pasti gak terima anak diperlakukan begitu.

  7. 7. Takut menjadi kebiasaan

    mengasuh cucu
    ilustrasi mengasuh cucu (pexels.com/Grace)

    Hari ini kamu dan pasangan menitipkan anak kepada kakek serta neneknya karena ada keperluan yang betul-betul urgen. Sama sekali tak memungkinkan bagi kalian untuk membawa anak. Namun, sekali orangtua kalian menyanggupi, pelan-pelan ini menjadi kebiasaan baru.

    Walaupun keperluanmu dan pasanganmu tidak terlalu mendesak, kalian tetap memilih menitipkan anak kepada orangtua. Alasannya macam-macam, termasuk biar tetap punya waktu pacaran meski sudah menikah. Juga supaya saat dirimu dan pasangan berbelanja, anak gak minta dibelikan ini itu.

    Jika kamu sudah mengetahui sebab orangtua menolak dititipi cucu, pahami bahwa kakek dan nenek bukan tempat penitipan cucu. Kamu serta pasangan mesti paham betul bahwa anak adalah tanggung jawab kalian sepenuhnya. Kecuali kalian sakit keras atau meninggal dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More