Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tanda Seseorang Mengalami Emotional Masking, Kamuflase Diri?
ilustrasi alami beban emosional (pexels.com/Ron Lach)
  • Emotional masking adalah kondisi ketika seseorang tampak tenang dan baik-baik saja, padahal menyembunyikan kecemasan, kesedihan, kesepian, rasa kewalahan, atau kelelahan emosional.
  • Tandanya meliputi selalu menyetujui orang lain demi menghindari konflik, serta jarang meminta bantuan atau mengeluh karena takut terlihat menjadi beban.
  • Tekanan berpura-pura dapat mendorong seseorang menarik diri dari lingkungan; emosi tersembunyi juga bisa terlihat lewat tanda nonverbal seperti wajah tegang atau stres.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah kamu sering menemukan seseorang yang terlihat tenang, cakap, dan secara emosional tampak "baik-baik saja"? Mungkin, orang tersebut tengah melakukan penyamaran emosi atau yang disebut emotional masking. Kondisi ini memungkinkan seseorang menyamarkan apa yang sebenarnya mereka rasakan dan menutupinya dengan berkamuflase seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, secara pribadi mereka tengah bergumul dengan kecemasan, kesedihan, rasa kewalahan, kesepian, atau kelelahan emosional.

Mungkin banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya tengah melakukan emotional masking karena hal tersebut dapat dilakukan tanpa sadar. Mereka berusaha terlihat baik-baik saja dari luar, sementara berbagai perasaan tengah berkecamuk di dalam diri. Biasanya, seseorang yang melakukan emotional masking juga akan menyesuaikan perilakunya dengan keadaan di sekitar. Mereka berusaha mengikuti ritme, emosi, dan perilaku orang-orang di sekitarnya. Lantas, bagaimana tanda seseorang mengalami emotional masking? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Selalu setuju dengan semua hal

ilustrasi selalu setuju dengan pendapat orang lain (unsplash.com/LinkedIn Sales Solutions)

Seseorang yang melakukan emotional masking cenderung tidak banyak mendebat atau mempermasalahkan sesuatu. Mereka mengatakan "ya" untuk segalanya, tidak ingin membuat masalah, dan lebih memprioritaskan perasaan orang lain. Mereka berusaha menghindari perselisihan dengan menyetujui sesuatu tanpa menyampaikan argumen yang berbeda agar tidak menciptakan suasana buruk atau canggung.

Menurut Elsa Orlandini, psikolog dan terapis bersertifikat, dilansir Miami Psychology, seseorang akan lebih mengikuti keadaan di sekitarnya ketika melakukan emotional masking. Ia berkata, "Sikap menyenangkan orang lain ini bukanlah kebaikan, melainkan strategi bertahan hidup untuk menghindari konflik yang mungkin akan membongkar topeng mereka".

2. Tidak pernah meminta bantuan

ilustrasi sosok individualis (pexels.com/Cottonbro studio)

Mereka yang melakukan emotional masking cenderung tidak pernah meminta bantuan, jarang mengeluh, dan tidak menuntut apa pun secara emosional. Mereka memilih melakukan semuanya sendiri agar orang lain tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Mereka berkamuflase sebagai seseorang yang mampu melakukan semuanya sendiri, padahal hal tersebut dapat menjadi cara untuk menyembunyikan emosi agar tidak terlihat.

Elsa juga mengatakan bahwa seseorang yang melakukan emotional masking biasanya berkata, "Aku baik-baik saja". Kalimat tersebut menjadi jawaban standar ketika ditanya mengenai kondisi mereka, bahkan saat sebenarnya sedang merasa hancur. Hal ini bukan selalu menunjukkan kemandirian, tetapi bisa menjadi bentuk rasa takut dianggap sebagai beban.

3. Menarik diri dari lingkungan sekitar

ilustrasi menarik diri dari lingkungan (pexels.com/tima miroshnichenko)

Orang yang melakukan emotional masking cenderung menarik diri dari berbagai situasi yang mengharuskan mereka berinteraksi dengan orang lain. Susan Krauss Whitbourne, profesor emeritus Ilmu Psikologi dan Otak di Universitas Massachusetts Amherst, dikutip dari Psychology Today, mengungkapkan bahwa tekanan akibat berpura-pura bersikap baik, seperti menunjukkan rasa bahagia, tertarik, atau terhibur, dapat membuat seseorang menarik diri dan kembali ke ruang pribadinya.

Penarikan diri tersebut dapat menjadi salah satu bentuk pertahanan diri. Mereka berusaha agar orang-orang di sekitar tidak menyadari perasaan yang sebenarnya sedang dirasakan. Karena itu, mereka lebih memilih untuk menjauh dan memendam emosi tersebut sendirian.

4. Wajah yang terlihat stres

Ilustrasi orang yang sedang mengalami stress (pexels.com/Liza Summer)

Terkadang, meskipun seseorang sudah berusaha menyembunyikan apa yang dirasakan, tubuh dan perilakunya justru dapat menunjukkan hal yang berbeda. Tubuh bisa menjadi lebih jujur daripada ucapan dalam menunjukkan apa yang sedang dirasakan dan dialami.

"Biaya emosional dari melakukan akting permukaan ini terkadang dapat disadari dengan 'kebocoran' kecil stres nonverbal yang terlihat," ungkap Susan.

Beban emosional akibat emotional masking dapat terlihat melalui berbagai tanda nonverbal, salah satunya mimik wajah yang tampak tegang atau stres karena berusaha menyembunyikan perasaan.

Tidak selamanya seseorang yang terlihat tenang dan bahagia adalah mereka yang tidak memiliki beban atau keresahan di dalam hati. Mungkin mereka memilih menyembunyikan emosi yang dirasakan daripada menunjukkannya kepada orang lain.

Namun, terus-menerus menyamarkan perasaan bukan berarti harus dilakukan selamanya. Memberikan ruang untuk mengakui dan mengungkapkan apa yang dirasakan juga dapat menjadi langkah untuk memahami diri dan menemukan ketenangan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article