Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Career Vs. Love: Haruskah Kita Memilih Salah Satu di Usia 20-an?

Career Vs. Love: Haruskah Kita Memilih Salah Satu di Usia 20-an?
Ilustrasi merenung (pexels.com/Mohit Sharma)
Share Article

Memasuki usia 20-an sering terasa seperti berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada keinginan untuk membangun karier, mencoba pekerjaan baru, atau bahkan pindah kota demi kesempatan yang lebih besar. Di sisi lain, ada hubungan romantis yang juga membutuhkan waktu, perhatian, komunikasi, dan kehadiran. Tidak heran kalau kemudian muncul pertanyaan: kalau harus memilih, mana yang harus didahulukan, karier atau cinta?

Padahal, hidup tidak selalu meminta kita memilih salah satunya. Jadi, persoalannya mungkin bukan “career vs love”, melainkan bagaimana menemukan cara agar keduanya tidak saling mengorbankan.

  1. 1. Usia 20-an memang fase untuk membangun karier dan hubungan

    Ilustrasi pasangan merenung (unsplash.com/Soroush Karimi)
    Ilustrasi pasangan merenung (unsplash.com/Soroush Karimi)

    Usia 20-an merupakan periode ketika seseorang sedang membentuk banyak bagian penting dalam hidupnya. Pendidikan mulai selesai, pekerjaan mulai serius ditekuni, kemandirian finansial mulai dibangun, sementara hubungan romantis juga mulai diarahkan pada sesuatu yang lebih serius.

    Penelitian terhadap 1.052 orang dewasa muda di Finlandia menemukan bahwa tujuan terkait karier-termasuk pendidikan, pekerjaan, dan keuangan-sering menjadi bagian penting dalam hierarki tujuan mereka, sementara hubungan romantis juga menjadi salah satu area perkembangan yang mereka pikirkan. Jadi, kalau kamu merasa karier dan hubungan sama-sama penting, sebenarnya itu bukan sesuatu yang aneh.

    "Penelitian ini mengkaji tujuan dan kekhawatiran pribadi individu pada masa emerging adulthood (masa transisi menuju dewasa) dalam ranah karier (termasuk pendidikan, pekerjaan, dan masalah keuangan) serta hubungan romantis," dikutip dalam studi Career and Romantic Relationship Goals and Concerns During Emerging Adulthood Sage Journals.

     

  2. 2. Jangan sampai mengejar karier dengan mengorbankan semua hal

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

    Ada masa ketika seseorang merasa harus bekerja sekeras mungkin karena usia 20-an dianggap sebagai masa emas. Mengejar pengalaman, mengambil proyek tambahan, lembur, membangun koneksi, dan memperluas kemampuan memang dapat membantu perkembangan karier.

    Namun, masalah muncul ketika seluruh identitas dan waktu seseorang hanya berpusat pada pekerjaan. Penelitian yang terbit di Human Resource Management dalam Wiley Online Library berjudul Employee Age and the Work–Family Interface: A Meta-Analysis and Framework Integrating Life Span and Life Course Perspectives dan mencakup meta-analisis 256 studi dengan total lebih dari 186 ribu partisipan, menemukan bahwa pekerja di bawah usia 30 tahun melaporkan konflik antara pekerjaan dan keluarga yang signifikan.

    Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi pekerjaan, status hubungan, gender, serta konteks negara. Oleh karena itu, punya ambisi karier bukan berarti harus menghilangkan kehidupan personal.

  3. 3. Hubungan yang sehat seharusnya tidak meminta kamu berhenti berkembang

    Ilustrasi pasangan (unsplash.com/Photo by Wesley Tingey)
    Ilustrasi pasangan (unsplash.com/Photo by Wesley Tingey)

    Di sisi lain, memilih hubungan juga tidak seharusnya berarti meninggalkan ambisi pribadi. Ada hubungan yang justru membuat seseorang berkembang karena pasangan memahami kebutuhan karier, memberikan dukungan ketika pekerjaan sedang berat, dan tidak merasa terancam ketika pasangannya mendapatkan kesempatan baru.

    Penelitian tentang pasangan muda yang sedang memasuki dunia kerja menunjukkan bahwa transisi menuju pekerjaan penuh waktu tidak berlangsung terpisah dari kehidupan romantis. Perencanaan karier, perkembangan pekerjaan, kepuasan kerja, hingga keputusan tentang keluarga dapat dipengaruhi oleh kebutuhan dan kesempatan yang dimiliki pasangan.

    "Sebagian besar pasangan menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam upaya mewujudkan proyek-proyek mereka seiring berjalannya waktu. Tindakan dan tujuan terkait proyek tersebut juga didorong oleh keinginan mendasar untuk saling mendukung selama masa transisi menuju dunia kerja, namun di sisi lain dibatasi oleh kondisi keuangan mereka," laporan studi Journal of Vocational Behavior berjudul Young adult couples transitioning to work: The intersection of career and relationship dari laman ScienceDirect.

    Maka, pasangan yang sehat bukanlah orang yang selalu berkata, “Pilih aku atau pekerjaanmu.” Hubungan yang lebih sehat justru memberi ruang untuk berdiskusi: kapan harus memprioritaskan pekerjaan, kapan hubungan membutuhkan perhatian lebih, dan bagaimana keduanya bisa menyesuaikan diri ketika situasi berubah.

  4. 4. Yang perlu dipilih bukan karier atau cinta, tetapi prioritas

    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)
    Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Aleh Tsikhanau)

    Masalah sebenarnya sering kali bukan karena karier dan hubungan tidak bisa berjalan bersamaan, melainkan karena waktu dan energi manusia memang terbatas. Ada periode ketika pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar, misalnya ketika baru mendapatkan pekerjaan, menjalani masa percobaan, mengejar promosi, atau membangun bisnis.

    Di waktu lain, hubungan mungkin membutuhkan perhatian lebih karena pasangan sedang menghadapi masalah atau kalian sedang mengambil keputusan besar bersama. Jadi, kamu tidak harus memberikan porsi yang sama persis kepada karier dan cinta setiap hari. Yang lebih penting adalah mengetahui prioritas pada fase tertentu.

    Kalau minggu ini pekerjaan sedang sangat padat, pasangan mungkin perlu memahami. Kalau pekerjaan sudah lebih tenang dan hubungan sedang membutuhkan perhatian, kamu juga perlu memberikan ruang untuk hubungan. Keseimbangan bukan berarti 50:50 setiap saat, tetapi kemampuan untuk menyesuaikan prioritas tanpa kehilangan hal-hal yang benar-benar penting.

     

  5. 5. Jangan memilih karena takut ketinggalan dari orang lain

    Ilustrasi merenung (pexels.com/Joshua Bull)
    Ilustrasi merenung (pexels.com/Joshua Bull)

    Tekanan terbesar di usia 20-an sering kali bukan datang dari pasangan atau pekerjaan, tetapi dari perbandingan. Melihat teman mendapat promosi bisa membuat seseorang merasa kariernya tertinggal. Melihat teman menikah atau bertunangan bisa membuat seseorang merasa hubungannya harus segera dibawa ke tahap berikutnya.

    Akhirnya, keputusan yang seharusnya personal berubah menjadi perlombaan dengan orang lain. Padahal tidak ada satu usia yang otomatis menjadi batas waktu untuk 'harus sukses' sekaligus 'harus punya pasangan'. Yang lebih penting adalah apakah pilihan yang kamu ambil sesuai dengan nilai, kondisi, dan tujuan hidupmu sendiri.

    Pertanyaan “career atau love?” mungkin memang kurang tepat untuk kehidupan usia 20-an. Yang perlu dicari bukan pilihan antara cinta dan karier, melainkan pasangan, pekerjaan, dan cara hidup yang memungkinkan kamu tetap bertumbuh sebagai individu sekaligus hadir untuk orang yang kamu sayangi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More