Profil Saptodjojokartiko, Desainer Kebaya Raline Shah di Cannes 2026

- Saptodjojokartiko, desainer asal Solo, dikenal menggabungkan budaya Jawa yang kuat dengan sentuhan modern dalam setiap karyanya.
- Ia memulai karier fashion sejak 1997 dan mendirikan label Sapto Djojokartiko pada 2007 setelah menempuh pendidikan di ESMOD.
- Kebaya rancangan Saptodjojokartiko yang dikenakan Raline Shah di Cannes 2026 menampilkan interpretasi modern kebaya Indonesia dengan gaya elegan dan internasional.
Penampilan Raline Shah di Festival Film Cannes 2026 mencuri perhatian publik Indonesia. Dalam acara Women in Cinema Gala yang digelar Red Sea Film Foundation, Raline tampil anggun memakai kebaya nude pink karya Saptodjojokartiko.
Lantas, siapa sih Saptodjojokartiko, desainer di balik kebaya Raline Shah di Cannes 2026? Yuk, cari tahu profilnya dalam artikel berikut ini!
1. Berasal dari Solo dan punya latar budaya yang kuat

Saptodjojokartiko lahir dan besar di Solo, Jawa Tengah, kota yang dikenal memiliki budaya Jawa yang kental. Latar budaya tersebut banyak memengaruhi cara pandangnya dalam menciptakan karya fashion. Ia tumbuh dengan berbagai unsur seni tradisional seperti tari, musik, cerita rakyat, hingga arsitektur khas Jawa.
Semua pengalaman visual itu kemudian menjadi sumber inspirasinya dalam mendesain busana. Karena itu, karya-karya Sapto sering terasa memiliki sentuhan budaya Indonesia yang kuat meski dikemas secara modern.
2. Mengawali karier fashion sejak akhir 1990-an

Sapto mulai menekuni dunia fashion sejak tahun 1997. Untuk mendalami ilmunya, ia melanjutkan pendidikan Fashion Design dan Pattern Making di ESMOD atau L’Ecole Supérieure des Arts et Techniques de la Mode. Kemampuan menggambar disebut menjadi salah satu bakat utamanya dalam mendesain busana.
Sebelum mendirikan label sendiri, Sapto sempat menjalani berbagai profesi yang masih berkaitan dengan industri fashion. Setelah melalui perjalanan panjang, label Sapto Djojokartiko akhirnya resmi lahir pada 2007.
3. Karyanya dikenal elegan dan eksperimental

Sejak awal membangun labelnya, Sapto dikenal lewat desain gaun malam dan prêt-à-porter dengan karakter elegan namun tetap eksperimental. Ia sering mengeksplorasi permainan siluet, detail volume, hingga teknik bordir tangan yang rumit. Motif embos bernuansa etnik-modern juga menjadi salah satu ciri khas karyanya.
Dalam banyak desain, Sapto mencoba menggabungkan budaya tradisional dengan pendekatan kontemporer yang lebih edgy. Karena itu, karya-karyanya sering terlihat bold, klasik, tetapi tetap punya sentuhan modern yang artistik.
4. Kebaya rancangan Saptodjojokartiko dipakai Raline di Cannes 2026

Pada Festival Film Cannes 2026, Raline mengenakan kebaya modern berwarna lembut rancangan Saptodjojokartiko. Lewat akun Instagram miliknya, Raline menyebut busana tersebut sebagai “Indonesian kebaya reimagined”, menandakan interpretasi modern terhadap kebaya tradisional Indonesia.
Kebaya tersebut tampil modern dengan potongan clean, detail elegan, dan nuansa warna lembut yang classy. Raline juga memadukan kebaya dengan perhiasan berlian sehingga tampilannya terlihat semakin glamor.
5. Membawa kebaya makin modern

Banyak pencinta fashion menilai Saptodjojokartiko berhasil menghadirkan kebaya dalam versi yang lebih modern dan wearable. Ia tak menghilangkan identitas tradisionalnya, tetapi justru mengolahnya menjadi lebih elegan dan sesuai dengan perkembangan mode saat ini.
Hal ini terlihat jelas dari kebaya yang dipakai Raline Shah di Cannes 2026. Busana tersebut tetap mempertahankan unsur kebaya Indonesia, tetapi tampil dengan siluet dan styling yang terasa internasional. Karena itu, karya Saptodjojokartiko sering dianggap sebagai salah satu representasi fashion Indonesia modern di panggung global.
Itu tadi profil Saptodjojokartiko, desainer di balik kebaya Raline Shah di Cannes 2026. Semoga bermanfaat buatmu!



















