Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Pilah Sampah sebagai Gaya Hidup Peduli, Bukan Cuma Bersih-bersih!

5 Tips Pilah Sampah sebagai Gaya Hidup Peduli, Bukan Cuma Bersih-bersih!
Ilustrasi memilah sampah (pexels.com/SHVETS production)
Intinya Sih
  • Semen Merah Putih mengajak masyarakat menjadikan kebiasaan memilah sampah sebagai bagian dari gaya hidup peduli lingkungan dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2026.
  • Artikel menyoroti lima langkah praktis, mulai dari sistem tiga kategori, prinsip 'Before You Throw', hingga rutinitas setor ke bank sampah untuk membentuk pola hidup berkelanjutan.
  • Inisiatif SIRKULA-C dari PT Cemindo Gemilang Tbk. hadir sebagai kolaborasi industri dan masyarakat dalam mengelola sampah menjadi sumber daya bernilai melalui konsep ekonomi sirkular.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di tengah tren hidup sehat dan mindful living, kebiasaan memilah sampah semakin relevan. Kepedulian terhadap lingkungan kini bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari gaya hidup modern dan wujud kasih sayang kepada bumi.

Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2026 pada 21 Februari, Semen Merah Putih mengajak masyarakat menjadikan kebiasaan memilah sampah sebagai langkah kecil yang konsisten. Nah, berikut tips memilah sampah sebagai gaya hidup peduli yang diinisiasi oleh Semen Merah Putih. Simak tipsnya agar kamu bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari!

1. Gunakan sistem tiga kategori di rumah dan tentukan jadwal memilih sampah

Ilustrasi memilah sampah
Ilustrasi memilah sampah (pexels.com/cottonbro studio)

Sampah terbagi menjadi tiga jenis: organik, anorganik, dan residu. Sampah organik meliputi sisa makanan, sayur, dan buah yang dapat terurai alami, sedangkan sampah anorganik mencakup plastik, kertas, kaca, logam, serta barang yang masih dapat digunakan atau didaur ulang, seperti pakaian bekas, furniture, dan minyak jelantah.

Sementara itu, sampah residu adalah sampah yang sulit atau tidak dapat didaur ulang, seperti popok sekali pakai, pembalut, kemasan multilayer (sachet), puntung rokok, dan styrofoam kotor. Memisahkan sampah sejak awal membantu mempermudah pengolahan sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pola konsumsi dan siklus hidup barang.

Nah, daripada menunggu sampah menumpuk, kamu bisa tentukan satu hari khusus setiap minggu untuk merapikan dan mengelompokkan sampah, terutama anorganik. Dengan ritme yang konsisten, aktivitas ini tidak terasa membebani dan justru menjadi bagian dari rutinitas rumah tangga.

2. Ubah sampah organik jadi kerajinan

Ilustrasi memilah sampah
Ilustrasi memilah sampah (pexels.com/Anna Shvets)

Sisa sayur dan buah merupakan jenis sampah yang paling banyak dihasilkan di rumah. Dengan sedikit kreativitas, sampah organik bisa diolah menjadi kompos sederhana atau pupuk cair rumahan. Selain mengurangi limbah, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi yang menyenangkan bagi anak-anak tentang siklus alam dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Mengubah kebiasaan memang tidak instan, namun gaya hidup peduli sampah bisa dimulai dari langkah sederhana. Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari 2026, Semen Merah Putih ikut andil dalam perubahn gaya hidup masyarakat yang lebih sadar lingkungan.

“Peduli bukan hanya tentang program, tetapi tentang kebiasaan. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama,” ujar Nyiayu Chairunnikma, Head of Marketing Semen Merah Putih, dikutip dari rilis yang diterima IDN Times.

3. Gunakan prinsip “Before You Throw”

Ilustrasi memilah sampah
Ilustrasi memilah sampah (pexels.com/Julia M Cameron)

Tips selanjutnya yang bisa kamu ikuti adalah mengadaptasi prinsip "Before You Throw". Sebelum belum membuang sesuatu, biasakan bertanya kepada diri sendiri: "Ini bisa dipakai ulang, diperbaiki, atau didonasikan?"

Pertanyaan sederhana ini sering kali mengubah keputusan kita. Misalnya, kardus bisa digunakan kembali sebagai wadah penyimpanan, botol kaca bisa untuk dekorasi, atau pakaian layak pakai yang bisa diberikan kepada yang membutuhkan. Prinsip tersebut bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga membentuk pola pikir yang lebih bijak dalam mengonsumsi dan memiliki barang.

4. Jadikan setor sampah sebagai agenda rutin

Ilustrasi memilah sampah
Ilustrasi memilah sampah (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Menyetor sampah terpilah ke bank sampah kini semakin mudah dan relevan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan. Berbagai jenis sampah, seperti plastik, kertas, kaca, elektronik, minyak jelantah, hingga pakaian bekas dapat dikelola secara bertanggung jawab, membantu mengurangi volume sampah ke TPA sekaligus memberi nilai tambah. Jika dilakukan rutin, kebiasaan ini menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih sadar lingkungan.

Sejumlah komunitas turut memfasilitasi langkah ini, seperti Bank Sampah Induk Rumah Harum (@bsirumahharum) yang aktif menggerakkan warga di wilayah Jabodetabek, serta Pilah Sampah (@pilahsampah) di Tangerang Selatan dan Kabelotapura (@banksampah_kabelotapura) di Palu, yang secara konsisten mengajak masyarakat untuk mulai memilah dan menyetorkan sampah dari rumah sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih peduli lingkungan.

5. Setor ke bank sampah SIRKULA-C dari Semen Merah Putih

Ilustrasi memilah sampah
Ilustrasi memilah sampah (pexels.com/CP Khanal)

Kehadiran berbagai inisiatif bank sampah, baik berbasis komunitas maupun yang diinisiasi oleh sektor industri, membantu memastikan sampah yang telah dipilah dari rumah dapat dikelola secara optimal, sekaligus memperluas dampak positifnya bagi lingkungan dan masyarakat. Salah satu bank sampah yang diinisiasi oleh industri adalah SIRKULA-C dari PT Cemindo Gemilang Tbk., produsen Semen Merah Putih, untuk turut mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Program ini menjadi ruang kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional, termasuk di Plant Bayah dan Jatiasih, untuk mengumpulkan dan mengelola sampah secara berkelanjutan. Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot dan pengomposan, sementara sampah anorganik berkalori tinggi diolah menjadi bahan bakar alternatif RDF (refuse-derived fuel).

Melalui pendekatan ini, pengelolaan sampah tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga memberikan nilai tambah dan membuka peluang pemberdayaan masyarakat melalui ekonomi sirkular.

Kesimpulannya, kepedulian tidak berhenti pada pesan, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, kini memiliki manfaat dan potensi baru ketika dikelola dengan tepat! So, apakah kamu siap memilah sampah dan menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup modern?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto
Follow Us