Traumatic Grief Setelah Kehilangan: Apa Gejala dan Cara Pulihnya?

- Traumatic grief adalah duka mendalam setelah kehilangan yang disertai trauma, terutama akibat peristiwa mendadak seperti kecelakaan atau kekerasan, sehingga ingatan kejadian memicu tekanan emosional.
- Kondisi ini dapat dipengaruhi kedekatan dengan almarhum, trauma sebelumnya, rasa bersalah, dan minim dukungan sosial; gejalanya meliputi kecemasan, mimpi buruk, gangguan tidur, serta penghindaran.
- Pemulihan dapat dilakukan dengan memberi ruang untuk berduka, mencari dukungan tepercaya, menjaga rutinitas dasar, dan berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bila gejala mengganggu aktivitas harian.
Kehilangan orang terkasih bukanlah pengalaman yang mudah dilalui. Selain kesedihan mendalam, seseorang mungkin mengalami ketakutan, rasa bersalah, atau terus terbayang kejadian yang menyebabkan kehilangan tersebut. Bahkan, ketika waktu sudah berlalu, kenangan tentang peristiwa itu masih bisa memicu emosi yang begitu kuat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dalam psikologi, pengalaman ini dapat berkaitan dengan traumatic grief, yaitu kesedihan akibat kehilangan yang disertai dampak pengalaman traumatis. Kondisi ini bisa terjadi, misalnya, ketika seseorang kehilangan anggota keluarga akibat kecelakaan mendadak atau peristiwa kekerasan. Lantas, apa penyebab traumatic grief, bagaimana dampaknya terhadap kesehatan mental, dan bagaimana cara menghadapinya?
1. Apa Itu traumatic grief?

ilustrasi seorang wanita yang duduk menyendiri (pexels.com/Mikhail Nilov) Traumatic grief adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesedihan mendalam setelah kehilangan seseorang yang disertai respons terhadap pengalaman traumatis. Berbeda dari proses berduka yang tidak selalu melibatkan trauma, kondisi ini dapat membuat seseorang bukan hanya merindukan orang yang telah meninggal, tetapi juga mengalami ketakutan atau tekanan emosional ketika mengingat bagaimana kehilangan itu terjadi.
Sebagai contoh, seseorang yang kehilangan pasangan akibat kecelakaan mendadak mungkin terus terbayang kejadian tersebut, mengalami mimpi buruk, atau merasa cemas setiap kali melewati lokasi kecelakaan. Pengalaman ini dapat membuat proses berduka terasa semakin berat. Meski demikian, kesedihan yang intens tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan psikologis. Durasi, intensitas gejala, dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari perlu diperhatikan.
2. Kenapa traumatic grief bisa terjadi?

ilustrasi sahabat yang saling curhat (pexels.com/www.kaboompics.com) Traumatic grief dapat muncul ketika kehilangan terjadi secara mendadak, mengejutkan, atau melalui peristiwa yang mengancam keselamatan. Kehilangan akibat kecelakaan, kekerasan, atau kejadian traumatis lainnya dapat membuat seseorang kesulitan menerima kenyataan sekaligus menghadapi ingatan menyakitkan tentang peristiwa tersebut.
Faktor lain, seperti kedekatan dengan orang yang meninggal, pengalaman traumatis sebelumnya, perasaan bersalah, dan minimnya dukungan sosial, juga dapat memengaruhi proses berduka. Misalnya, seseorang mungkin terus menyalahkan dirinya sendiri karena merasa seharusnya bisa mencegah kejadian tersebut. Pikiran seperti ini dapat memperberat kesedihan, meskipun ia sebenarnya tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi.
3. Apa dampak traumatic grief bagi kesehatan mental?

ilustrasi seorang wanita memeluk bantal (pexels.com/https://kaboompics.com/) Seseorang yang mengalami traumatic grief mungkin merasakan kesedihan mendalam, kecemasan, kemarahan, rasa bersalah, atau kesulitan menerima kehilangan. Sebagian orang juga mengalami mimpi buruk, ingatan yang muncul berulang kali tentang kejadian tersebut, gangguan tidur, dan kecenderungan menghindari hal-hal yang mengingatkan mereka pada orang yang telah meninggal.
Jika berlangsung terus-menerus, gejala tersebut dapat mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, dan kemampuan menjalani rutinitas sehari-hari. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD) atau prolonged grief disorder, yaitu gangguan duka berkepanjangan. Namun, keduanya merupakan kondisi yang berbeda dan memerlukan penilaian profesional untuk menentukan diagnosis yang tepat.
4. Bagaimana cara mengatasi traumatic grief?

ilustrasi sahabat yang memeluk temannya yang menangis (pexels.com/Liza Summer) Menghadapi kehilangan yang traumatis membutuhkan waktu. Tidak ada batas waktu yang sama bagi setiap orang untuk kembali merasa lebih baik. Berikut beberapa langkah yang dapat membantu proses pemulihan.
Pertama, izinkan diri sendiri untuk berduka. Tidak perlu memaksakan diri untuk segera pulih atau terlihat kuat di hadapan orang lain. Kenali emosi yang muncul dan berikan ruang bagi diri sendiri untuk memproses kehilangan secara bertahap.
Kedua, cari dukungan dari orang tepercaya. Berbagi perasaan dengan teman, keluarga, atau orang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu mengurangi perasaan terisolasi. Jika belum siap bercerita, kamu juga bisa mulai dengan menuliskan perasaan atau kenangan yang muncul.
Ketiga, jaga rutinitas dan kebutuhan dasar. Usahakan tetap memenuhi kebutuhan tidur, makan, dan aktivitas fisik sesuai kemampuan. Rutinitas sederhana dapat membantu memberikan struktur ketika kehidupan terasa tidak menentu, meskipun tidak menggantikan penanganan profesional jika dibutuhkan.
Keempat, pertimbangkan bantuan profesional. Jika ingatan traumatis, kecemasan, atau kesedihan terus mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater. Pendampingan profesional dapat membantu memproses kehilangan dan menangani gejala trauma dengan pendekatan yang sesuai.
Setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam menghadapi kehilangan. Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Jika kehilangan disertai peristiwa traumatis, pemulihan mungkin membutuhkan dukungan lebih dari sekadar berjalannya waktu.
Yang terpenting, berikan ruang bagi diri sendiri untuk berduka tanpa mengabaikan kebutuhan emosional dan kesehatan mentalmu. Kamu tidak harus melupakan orang yang telah pergi untuk kembali menjalani kehidupan. Dengan dukungan yang tepat, kamu dapat belajar menerima kehilangan secara bertahap sembari menjaga kenangan tentang orang yang kamu sayangi.





![[QUIZ] Pilih Satu Gambar Nailoong, Ini Pesan yang Kamu Butuhkan](https://image.idntimes.com/post/20261018/vs-youtube-engdubfullvertheswapdaynailoongonearth2-youtube-310_99a64b63-8d27-4d62-8bb0-78531bad42ba.jpg)
![[QUIZ] Stiker WA Favoritmu Bisa Menebak Kepribadian Aslimu](https://image.idntimes.com/post/20230713/cara-menghapus-stiker-whatsapp-1-a51c7cd9bb3b8c13490bfb55829a40db.jpg)


![[QUIZ] Tes Bahasa Korea untuk Daftar Beasiswa, Sudah Siap?](https://image.idntimes.com/post/20250113/pexels-karolina-grabowska-6632580-8c042c2cd5a5efdccddb45311f973381.jpg)


![[QUIZ] Desain Nail Art Pilihanmu Tunjukkan Pesonamu yang Terpancar](https://image.idntimes.com/post/20260421/merged-image-2026-04-21t06-21-53_595acdf1-a039-4adb-bcde-e27e0076dd62.png)
![[QUIZ] Kami Tahu Karaktermu dari Cara Memilih Kursi di Kereta](https://image.idntimes.com/post/20220526/pexels-photo-6466385-1899637c84cbfcb8a99b876b09308647-f1afcde478e8bffff04dc2c096f75b52.jpeg)
![[QUIZ] Kebiasaanmu Sebelum Tidur Ungkap Isi Kepalamu Belakangan Ini](https://image.idntimes.com/post/20261007/iam_os-tgmkce-qo5o-unsplash_b2b04fc4-3c8d-47cb-82ad-66e6847f6117.jpg)


![[QUIZ] Cara Kamu Menghabiskan Uang Bisa Bocorkan Hidupmu 5 Tahun Lagi](https://image.idntimes.com/post/20241110/1000162335-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-eb3255749c92985829830ddb104cdaae.jpg)

