ilustrasi merasa paling benar (pexels.com/Vera Arsic)
Nilai agama seharusnya dapat menjadi pengingat bagi seseorang untuk memeriksa kembali ucapan, tindakan, dan perlakuannya terhadap orang lain. Namun, proses introspeksi bisa dihindari ketika perhatian lebih banyak diarahkan pada bagaimana dirinya terlihat di mata publik. Kutipan tentang kesabaran terus dibagikan, tetapi permintaan maaf tidak pernah disampaikan kepada orang yang disakiti. Pesan tentang menjaga lisan dipublikasikan, tetapi kebiasaan menyebarkan cerita buruk tentang orang lain tetap dilakukan. Inilah bukti bahwa unggahan religius sering jadi tameng sikap buruk. Perbedaan antara apa yang disampaikan dan apa yang dipraktikkan inilah yang membuat unggahan religius terasa seperti tameng, bukan cerminan perubahan diri.
Sikap religius yang tulus tentu tidak selalu harus diumumkan kepada orang lain, sebab perubahan perilaku justru bisa terlihat dari tindakan sehari-hari. Pengakuan atas kesalahan, kesediaan mendengarkan pihak yang dirugikan, penghentian perilaku buruk, dan upaya memperbaiki kerugian merupakan bagian penting dari tanggung jawab pribadi. Seseorang juga tidak harus selalu membela diri ketika menerima kritik, terutama jika kritik tersebut memang berkaitan dengan perbuatannya. Pesan keagamaan akan kehilangan maknanya ketika hanya digunakan untuk menuntut pengertian dari orang lain, sementara dirinya sendiri tidak bersedia menerapkan nilai yang terus-menerus dibagikan.
Ada perbedaan besar antara menjadikan agama sebagai pengingat untuk memperbaiki diri dan menggunakannya sebagai pelindung dari kritik. Unggahan tentang kesabaran tidak otomatis membuktikan seseorang sedang dizalimi, sebagaimana penampilan religius juga tidak bisa dijadikan jaminan bahwa ia selalu bersikap baik kepada orang lain. Orang yang benar-benar ingin berubah tidak hanya sibuk menunjukkan bahwa dirinya telah belajar menjadi lebih baik, tetapi juga bersedia mengakui kesalahan yang pernah dilakukan dan menerima konsekuensinya.
Refensi
"Behaving Badly? Stop Using Religion as an Excuse!" Huffpost. Diakses pada November 2026.
"Using God as an Excuse: The Misuse of Faith in Avoiding Personal Responsibility." Positive Self Defense. Diakses pada November 2026.
"How Criminals Use Religion to Justify Their Crimes." The Gospel Coalition. Diakses pada November 2026.
"Religiosity and Preventing Risky Behaviors." International Journal of High Risk Behaviors and Addiction. Diakses pada November 2026.