Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Alasan Utang di Bulan Ramadan yang Sebaiknya Ditolak

6 Alasan Utang di Bulan Ramadan yang Sebaiknya Ditolak
ilustrasi dua perempuan (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti kebiasaan berutang selama Ramadan untuk kebutuhan konsumtif seperti bukber, baju baru, hingga mudik yang sebaiknya dihindari karena tidak termasuk kebutuhan mendesak.
  • Ditekankan pentingnya mengendalikan gaya hidup dan menolak pinjaman yang hanya demi gengsi, seperti ganti gadget, mempercantik rumah, atau membeli hampers Lebaran.
  • Pesan utamanya: tetap sederhana sesuai makna puasa dan hindari memberi pinjaman konsumtif agar keuangan pribadi tetap aman setelah Lebaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Peningkatan kebutuhan selama Ramadan dan jelang Idulfitri bukan rahasia lagi. Ini cukup kontra dengan makna puasa yang semestinya serba sederhana karena sedang mengendalikan hawa nafsu. Jebakan tradisi tanpa memperhatikan kemampuan diri rentan bikin keuangan menjerit hingga minus setelah Lebaran.

Tak heran banyak orang sampai merasa harus menggadaikan perhiasan untuk kebutuhan Lebaran. Itu masih mending karena setidaknya mereka mau melepaskan benda berharganya buat kepentingan pribadinya. Namun, gak sedikit pula orang yang lantas mencari-cari pinjaman.

Termasuk kamu yang didatangi atau ditelepon oleh teman, saudara, dan tetangga. Padahal, kebutuhanmu sendiri juga lagi banyak. Perhatikan baik-baik alasan atau tujuannya berutang. Setidaknya ada enam utang di bulan Ramadan yang sebaiknya ditolak. Uang yang telah terpakai akan sulit kembali.

1. Buat bikin atau ikut acara bukber

berbuka
ilustrasi berbuka (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Orang yang menunaikan ibadah puasa memang wajib berbuka pada waktunya. Tidak boleh seseorang berpuasa terus-menerus. Namun, sekadar utang untuk bisa membeli makanan buat diri sendiri menjelang magrib beda dengan bikin atau mengikuti buka bersama bareng teman-teman.

Apalagi tempat makannya dipilih yang estetik. Tentu harga menu-menunya juga berbeda dengan warteg. Ini bukan lagi sekadar kebutuhan dasar, melainkan kemewahan.

Kamu jangan mau mengeluarkan uang sepeser pun buat memfasilitasi gaya hidup mewah orang lain. Katakanlah dia mau meminjam Rp200 ribu buat buka bersama di rumah makan dengan pemandangan yang indah. Padahal, di rumah dirimu berbuka dengan kolak pisang buatan sendiri, oseng kangkung, serta telur dan tempe goreng.

2. Untuk membelikan baju Lebaran anak-anak

dua anak
ilustrasi dua anak (pexels.com/Bess Hamiti)

Berikutnya adalah utang bakal membelikan anak-anak baju Lebaran. Anak-anaknya bukan sama sekali tidak punya pakaian yang layak dikenakan. Baju baru itu cuma dalam rangka merayakan Idulfitri.

Biar mereka sama seperti anak-anak lainnya yang mengenakan pakaian baru di hari raya. Kalau anak-anaknya sampai tidak bisa makan, tak dapat bersekolah, atau telanjang saking gak ada pakaian sama sekali, dirimu punya tanggung jawab sosial. Dirimu perlu membantunya semampumu.

Namun, tidak demikian dengan pakaian baru untuk Lebaran. Itu sama sekali tak wajib. Malah orangtua harus mengajarkan kepada anak untuk berpakaian sesuai kemampuan yang penting masih pantas dan sopan. Kamu saja mungkin gak beli baju baru buat diri sendiri, anak-anak, atau keponakan.

3. Mau mudik ke kampung halaman

kumpul keluarga
ilustrasi kumpul keluarga (pexels.com/RDNE Stock project)

Tradisi mudik menjelang Idulfitri sangat kental di masyarakat Indonesia. Sampai seolah-olah ini wajib dilakukan. Padahal, tidak mudik pun tak apa-apa. Apalagi saat dananya gak ada, daripada dipaksakan hingga berutang segala.

Pulang kampung bisa kapan saja. Tak kudu saat musim liburan yang segalanya mahal. Tiket pergi dan pulang saja berlipat dari hari biasa. Kamu boleh memberikan pinjaman hanya jika seseorang sudah hidup terlunta-lunta di rantau.

Lebih baik dia pulang ke keluarganya daripada nasibnya tambah buruk. Bila begini sih, kamu membelikan tiketnya tanpa minta diganti kapan-kapan pun tidak apa-apa. Justru tindakan itu mulia sekali. Akan tetapi, bila sekadar utang buat mudik tahuna,n gak usah dikasih.

4. Buat menambah dana ganti gadget atau kendaraan

motor baru
ilustrasi motor baru (pexels.com/Jakub Sisulak)

Ini juga kebiasaan kurang baik yang menjamur di masyarakat ketika hendak pulang kampung. Sebagian orang merasa tidak percaya diri kalau mudik naik bus atau kereta api. Mereka berkeras harus membawa kendaraan sendiri, minimal sepeda motor.

Pun kendaraannya jangan yang jadul karena bikin malu. Mereka ingin memperbarui kendaraannya sebelum mudik supaya tampak sukses di kota. Demikian pula, gadget mesti diganti dengan seri terbaru.

Biar ketika mereka menggenggamnya, ada rasa bangga. Hasil bidikan kameranya juga lebih tajam dan jernih. Lagi-lagi ini soal kemewahan dan gengsi pribadi. Kamu sama sekali tak punya tanggung jawab buat menjadi donaturnya.

5. Utang guna mempercantik rumah sebelum tamu berdatangan

percakapan
ilustrasi percakapan (pexels.com/RDNE Stock project)

Alasan utang yang satu ini sangat tidak masuk akal bila ditujukan ke orang per orang sepertimu. Biaya renovasi atau mendekor rumah tidak sedikit. Misal, ia ingin mengecat ulang rumah saja, sudah menghabiskan banyak uang.

Belum beli aneka benda dekorasinya. Bila ada orang yang hendak meminjam duit padamu dengan alasan di atas, arahkan ke bank saja. Agar urusannya lebih profesional. Bank juga jelas punya dana banyak buat dipinjamkan ke nasabah.

Sementara gaji satu bulanmu saja tak cukup untuk memenuhi keinginannya itu. Lagi pula, berutang cuma buat mempercantik rumah sebelum tamu Lebaran berdatangan, hanya untuk mengharumkan namanya sebagai tuan rumah. Ini sama dengan memanjakan gengsinya.

6. Biaya pesan dan kirim hampers

hampers makanan
ilustrasi hampers makanan (pexels.com/Alina Matveycheva)

Terakhir, utang di bulan Ramadan yang sebaiknya ditolak adalah berkaitan dengan hampers. Mengirimkan bingkisan Lebaran yang cantik ke para kenalan sebenarnya gak salah. Ini adalah cara lain untuk menjaga hubungan baik meski berjauhan. Namun, semestinya seseorang tak perlu sampai berutang segala.

Mengirim hampers ke teman, apalagi bos, beda sekali dengan memberi makan orang miskin. Kamu tidak usah menjadi penyandang dana. Walaupun dia berjanji hendak mengembalikannya pada lain waktu.

Kalau dia mau lebih irit, juga tetap bisa kasih antaran. Seperti mengirim masakan sendiri ke kenalan-kenalannya. Bukan ia hendak berasyik-asyik memilih paket hampers yang keren, tetapi uangnya dari hasil berutang. Seandainya orang yang diberi bingkisan tahu itu hasil ngutang, barangkali juga mending tidak usah dikasih.

Menolak keinginan orang untuk meminjam duit bisa terasa lebih sulit di bulan Ramadan. Pertama, orang tahu kamu dapat THR dari kantor. Kedua, dirimu juga sedang sangat bersemangat berbagi dan membantu sesama. Akan tetapi, kasih pinjaman konsumtif ke siapa pun bakal susah baliknya. Mending tak usah daripada kamu menyesal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More