ilustrasi demonstrasi (pexels.com/kelly)
Di era media sosial, warna dan simbol pada pakaian lebih mudah dikenal luas karena foto dan video dapat menyebar dengan cepat. Contohnya terlihat pada pussy hat merah muda dalam Women’s March 2017, syal hijau dalam gerakan hak aborsi Argentina, hingga bendera pelangi sebagai simbol komunitas LGBTQ+. Semakin sering simbol tersebut muncul di media sosial, semakin banyak orang yang mengenali pesan di baliknya.
Namun, popularitas juga dapat mengubah atau mengurangi makna sebuah warna ketika terlalu sering digunakan dan dikomodifikasi secara komersial. Menurut Jonathan Square, makna warna pada dasarnya dibentuk oleh budaya sehingga pemahamannya dapat berubah mengikuti masyarakat dan zaman. Karena itu, warna dalam fashion bukan sekadar elemen visual, tetapi juga bagian dari bahasa sosial yang memiliki makna sesuai konteksnya.
Pakaian gak selalu cuma soal gaya, karena warna dan simbol tertentu bisa menjadi cara untuk menunjukkan dukungan, nilai, hingga tuntutan perubahan. Jadi kalau melihat banyak orang memakai warna yang sama, bisa jadi ada pesan politik di baliknya, loh!