7 Sistem Kerja Kejar Target yang Bikin Kesehatan Mental Terganggu

- Sistem target yang menumpuk saat gagal tercapai atau terus dinaikkan pada produk berpermintaan tidak rutin membuat karyawan kewalahan dan merasa target mustahil dipenuhi.
- Pendapatan karyawan dapat tertekan ketika gaji pokok rendah, bonus bergantung target, atau pencairan bonus yang dijanjikan tertunda berbulan-bulan tanpa kepastian.
- Tekanan bertambah saat karyawan harus membantu target rekan, masukan lapangan diabaikan atasan, serta target proyek tidak seimbang dengan jumlah tenaga dan sumber daya.
Di setiap pekerjaan pasti terdapat target yang mesti dicapai. Tanpa target sama sekali, bekerja bakal terlalu santai. Gak ada kemajuan dan tentunya berpengaruh negatif ke perusahaan serta karyawan sendiri.
Namun, ada pekerjaan tertentu yang kejar targetnya sangat ketat bahkan segalanya. Seperti bidang penjualan serta pengerjaan proyek. Bidang penjualan mengejar target jumlah produk yang terjual per bulan. Sementara proyek menargetkan waktu penyelesaiannya.
Kedua bidang tersebut amat rentan memengaruhi kesehatan mental karyawan. Apalagi bila atasan tidak mau tahu situasi di lapangan. Tujuh sistem kerja kejar target seperti di bawah ini sangat umum di Indonesia dan kerap berbuntut karyawan gak betah lalu resign.
1. Target yang tak tercapai menggulung seperti bola salju

ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Ketut Subiyanto) Misalnya, target per bulan sebenarnya 100 produk terjual. Akan tetapi, bulan ini seseorang hanya berhasil menjual 67 produk. Bulan depan targetnya menjadi 100+67= 167 produk terjual. Tentu berat sekali dan kemungkinan besar target kembali tidak tercapai.
Bila demikian, lagi-lagi target akan menggulung seperti bola salju yang menggelinding menuruni bukit. Makin lama makin besar dan mustahil terpenuhi. Sistem kerja seperti ini membuat karyawan lama-lama merasa kerja atau gak kerja sama saja. Target tak pernah bisa tercapai.
2. Target terus dinaikkan padahal bukan produk yang rutin dibutuhkan

ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Thirdman) Sekarang kasusnya agak beda dengan poin pertama. Di poin sebelumnya, target membesar kalau target bulan sebelumnya tidak tercapai. Kali ini sistemnya target memang terus dinaikkan. Bisa per bulan atau setiap beberapa bulan sekali.
Misal, target penjualan per bulan untuk semester pertama 10 unit mobil. Semester kedua, target penjualan naik 15 unit. Semester ketiga, naik lagi menjadi 20 unit. Beberapa orang memang butuh kendaraan baru.
Akan tetapi, mobil bukan produk yang dibutuhkan masyarakat secara rutin. Sama seperti properti. Orang beli sekali saja awet bertahun-tahun. Beda dengan produk yang harus kerap dibeli seperti bahan makanan, sabun mandi, dan sebagainya. Karyawan menjadi kewalahan mengejar target yang terus bertambah padahal permintaannya relatif tetap.
3. Kalau target tak tercapai, gaji terlalu sedikit

ilustrasi bekerja (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Untuk bagian penjualan, gaji pokok memang biasanya tidak terlalu besar. Tambahan penghasilan yang cukup gede berasal dari kemampuan mencapai target. Seperti berhasil menjual satu unit rumah atau mobil dapat bonus sekian persen dari harga jual setelah dikurangi diskon-diskon.
Namun, bila gaji pokoknya jauh lebih rendah dari upah minimum tentu kurang layak. Terlebih produk yang harus dijual sulit laku setiap bulan. Misalnya, penjualan properti. Andai pun komisi penjualan mencapai 1 sampai 2 persen dari 400 juta rupiah misalnya, bila gak berhasil menjual berarti bonus nol.
Sementara gaji pokok berkisar 1 juta rupiah. Tentu sulit baginya bertahan hidup dengan uang segitu sambil terus berusaha menjual produk. Apalagi jika ia telah berkeluarga.
4. Target tercapai, bonusnya sangat lama turun

ilustrasi bekerja (pexels.com/Heru Dharma) Gak gampang untuk karyawan mencapai target-target tinggi yang ditetapkan atasan. Usaha mereka pasti luar biasa. Sudah sepantasnya kerja keras itu diapresiasi dengan pemberian bonus sesuai yang dijanjikan.
Bonus tersebut telah menjadi hak karyawan. Sementara atasan berkewajiban memberikannya. Sayangnya, masih banyak atasan yang gak adil serta transparan soal ini.
Karyawan terus didesak untuk mencapai target bulanan. Namun, bonus atas pencapaian target tersebut bisa baru cair berbulan-bulan kemudian. Ini menyebabkan karyawan stres menunggu dalam ketidakpastian atas hasil kerjanya.
5. Selain target pribadi juga harus bantu target teman

ilustrasi bekerja (pexels.com/Pisey Tuon) Sistem kerja begini biasanya gak semata-mata karena permintaan teman yang targetnya belum tercapai. Justru faktor atasan yang paling menentukan. Satu sisi, ia menetapkan target untuk setiap karyawan.
Di sisi lain, atasan juga gak mau tahu apabila ada karyawan yang belum berhasil mencapai target. Bisa-bisa semua teman ikut kena getahnya. Seperti bonus buat karyawan yang sebenarnya telah mencapai target ditahan alias tidak dibayarkan.
Terpaksa mereka semua bahu-membahu membantu mengejar target teman yang belum terpenuhi. Ini sama dengan kerja dobel padahal mereka sendiri sudah capek. Walaupun nantinya kawan yang dibantu tahu diri dengan berbagi bonus, tetap rasanya menyebalkan.
6. Target sulit tercapai karena atasan bandel dikasih masukan

ilustrasi rapat (pexels.com/MART PRODUCTION) Saat target tidak tercapai sering kali karyawan yang disalahkan. Padahal, boleh jadi justru atasan yang menjadi penyebabnya. Atasan sulit sekali diberi masukan agar target lebih mudah dicapai.
Misalnya, terkait pengembangan perumahan. Para tenaga penjualan yang selalu berhadapan dengan calon konsumen paham betul keinginan mereka. Namun, atasan selalu keras kepala saat diberi tahu untuk melakukan sejumlah perbaikan.
Seperti jalannya dibuat lebih bagus dulu biar aksesnya mudah. Penerangan dimaksimalkan supaya tidak menyeramkan pada malam hari. Akan tetapi, atasan hanya berorientasi pada penjualan unit rumah dan menganggap semua saran itu buang-buang uang.
7. Target vs sumber daya gak seimbang

ilustrasi bekerja (pexels.com/Nhà văn) Misalnya, target proyek besar selesai dalam waktu secepat-cepatnya. Ini hanya bisa tercapai apabila sumber daya yang ada memadai. Seperti jumlah anggota tim yang cukup buat mengejar target pengerjaan.
Kalau orang yang bekerja saja sedikit tentu sangat sulit mengejar target muluk tersebut. Karyawan yang ada sampai kudu lembur terus. Mereka telah bekerja sekeras itu juga belum tentu target dapat dikejar saking tidak realistisnya.
Sistem kerja kejar target satu sisi menantang untuk dijalani. Cocok buat kamu yang gampang bosan bila pekerjaan cenderung santai. Namun, banyak sistem dalam kerja kejar target yang bikin kesehatan mental karyawan terganggu. Mereka bekerja terlalu keras dan selalu cemas.






















