5 Cara Beradaptasi Saat Love Language Kamu dan Pasangan Berbeda Total

Setiap orang punya cara berbeda untuk menunjukkan dan menerima cinta, atau yang biasa kita kenal sebagai love language. Ada yang merasa dicintai saat diberi pujian, ada yang butuh sentuhan fisik, ada juga yang merasa paling disayang kalau dibantu hal-hal kecil. Masalahnya, ketika love language kamu dan pasangan sangat berbeda, hubungan bisa terasa hambar atau membingungkan. Kamu merasa sudah menunjukkan kasih sayang, tapi dia malah tidak merasakan apa-apa dan sebaliknya.
Hubungan jadi terasa melelahkan kalau kedua pihak tidak belajar saling memahami love language satu sama lain. Bukan berarti kamu harus berubah total jadi dirinya, tapi penting untuk tahu cara menyesuaikan bahasa cinta agar sama-sama merasa dihargai. Butuh waktu dan komunikasi yang jujur agar kalian bisa mengekspresikan cinta dengan cara yang tepat tanpa merasa dipaksa.
Kalau kamu merasa love language-mu berbeda jauh dari pasangan dan mulai merasa frustrasi, lima cara di bawah ini bisa kamu terapkan supaya hubungan tetap hangat, penuh pengertian, dan tidak saling salah paham.
1. Saling mengakui bahwa bahasa cinta kalian memang berbeda

Langkah pertama adalah menyadari bahwa love language memang ada dan wajar kalau tidak selalu sama. Jangan anggap pasangan tidak perhatian hanya karena ia tidak menunjukkan cinta dengan cara yang kamu harapkan. Bisa jadi ia sudah sangat tulus, tapi dengan caranya sendiri. Mengakui bahwa kalian berbeda adalah awal supaya tidak saling menyalahkan.
Sampaikan hal ini dalam obrolan santai, misalnya, “Aku tuh merasa dicintai kalau kamu bilang sesuatu hal manis, tapi aku tahu kamu lebih sering menunjukkan lewat bantuan atau tindakan.” Saat keduanya sadar perbedaan ini, kalian jadi lebih berhati-hati dan tidak langsung tersinggung kalau merasa gak diperhatikan.
Menerima perbedaan love language bukan berarti kamu menyerah, tapi justru membuka pintu untuk belajar menyesuaikan diri satu sama lain dengan lebih sehat dan dewasa.
2. Pelan-pelan belajar menyampaikan cinta dengan love language pasangan

Setelah saling tahu love language masing-masing, cobalah pelan-pelan memberi cinta dengan cara yang lebih ‘masuk’ ke dirinya. Misalnya kamu tipe Words of Affirmation (butuh kata-kata sayang), dan pasangan tipe Acts of Service (lebih suka bantu-bantu), maka sesekali kamu bisa bantu dia tanpa diminta. Sebaliknya, minta juga agar dia mulai mencoba memberi pujian atau ucapan sayang sesekali meskipun terasa canggung.
Lakukan secara perlahan dan tulus, bukan sebagai beban. Kamu tidak harus mendadak jadi orang lain, tapi beri upaya kecil sebagai bentuk menghargai kebutuhan emosional pasangan. Setiap usaha ini akan membangun rasa dihargai satu sama lain, karena kalian sama-sama berjuang.
Jika dilakukan terus-menerus, cara ini bisa jadi kebiasaan baru dalam hubungan. Pada akhirnya, kamu mungkin jadi terbiasa mengekspresikan cinta dengan lebih dari satu bahasa, dan itu justru bikin hubungan semakin kuat.
3. Komunikasikan kebutuhanmu tanpa terdengar menuntut

Minta pasangan memenuhi love language-mu bukan berarti kamu menuntut atau egois, selama disampaikan dengan cara dan timing yang tepat. Jangan menunggu sampai kesal lalu berkata, “Kamu gak pernah bilang sayang sih!” Itu bisa terdengar sebagai serangan. Sebaiknya utarakan dengan nada tenang, “Aku senang banget kalau kamu bilang hal-hal manis sekali-sekali, rasanya bikin aku lebih yakin.”
Cara penyampaian seperti itu membuat pasangan lebih mudah paham tanpa merasa disalahkan. Kamu juga bisa memberi contoh konkret, misalnya, “Aku senyum banget waktu kamu bilang terima kasih tadi, hal kayak gitu bikin aku merasa dihargai.” Dengan contoh nyata, pasangan lebih tahu arah yang kamu mau tanpa merasa ditebak-tebak.
Komunikasi terbuka ini bikin kalian lebih jujur soal kebutuhan emosi tanpa harus saling kecewa atau main kode.
4. Cari kompromi dalam keseharian agar hubungan tetap seimbang

Kunci dari love language berbeda adalah kompromi. Misalnya, pasanganmu suka quality time tapi kamu sibuk, maka buat kesepakatan hari khusus untuk fokus berdua. Sebaliknya, ketika dia tahu kamu butuh sentuhan atau kata-kata sayang, dia bisa meluangkan momen singkat untuk itu tiap hari. Tidak perlu drastis, cukup konsisten dalam porsi kecil.
Komitmen kecil seperti “minimal 5 menit ngobrol sebelum tidur” atau “pelukan selamat pagi sebelum berangkat kerja” saja bisa membuat kalian merasa lebih diperhatikan. Selama kedua belah pihak mau berkompromi, perbedaan love language tidak akan jadi sumber konflik besar.
Kompromi bukan berarti memaksakan diri, tapi mencari irisan paling realistis di tengah kesibukan dan kepribadian masing-masing. Dengan begitu, hubungan tetap sehat dan seimbang.
5. Hargai setiap usaha pasangan, meski tidak sempurna

Proses belajar love language pasangan tentu tidak bisa sempurna langsung. Kadang pasangan lupa mengatakan sayang, tapi dia sudah masak untukmu. Atau dia lupa peluk, tapi dia ingat antar kamu ke tempat tujuan tanpa diminta. Hargai usaha-usaha kecil itu karena itu bentuk cinta juga, hanya versinya berbeda.
Kalau kamu terus fokus pada kekurangan, hubungan akan terasa mengecewakan dan penuh kritik. Sebaliknya, kalau kamu belajar mengapresiasi usaha pasangan, dia akan termotivasi untuk makin peka terhadap apa yang kamu butuhkan juga. Ketika kamu bilang, “Makasih ya, ini bikin aku senang,” pasangan merasa usahanya tidak sia-sia.
Semakin sering kalian saling menghargai upaya satu sama lain, semakin mudah menumbuhkan cinta dalam berbagai bahasa, bukan hanya love language bawaan masing-masing.