5 Tipe MBTI yang Paling Rentan Mengalami Commitment Issues, Ada ENTP!

- ENTP cenderung bosan dengan rutinitas dan takut kehilangan kebebasan dalam hubungan, membuat mereka ragu untuk berkomitmen.
- ESTP suka hidup di momen sekarang dan merasa terikat dengan komitmen, sehingga cenderung kabur atau mencari cara untuk mempertahankan kebebasannya.
- ISFP memiliki standar tinggi dan sensitif terhadap konflik, membuat mereka sulit untuk berkomitmen tanpa kepastian 100%.
Pernah gak sih kamu merasa takut atau ragu saat harus berkomitmen dalam suatu hubungan? Mulai dari hubungan romantis, persahabatan, hingga komitmen dalam pekerjaan, rasanya ada yang menahan untuk benar-benar terikat. Kalau iya, bisa jadi kamu mengalami yang namanya commitment issues.
Menariknya, ternyata ada beberapa tipe kepribadian MBTI yang lebih rentan mengalami masalah komitmen ini. Bukan berarti mereka gak bisa berkomitmen sama sekali, tapi mereka butuh usaha ekstra untuk mengatasi kecenderungan alami mereka. Yuk, cek apakah tipe MBTI-mu termasuk yang rentan commitment issues!
1. ENTP

Si debater ENTP memang terkenal dengan rasa ingin tahunya yang tinggi dan kecintaannya pada hal-hal baru. Mereka selalu tertarik untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan dan ide-ide segar. Masalahnya, sifat ini bisa bikin mereka cepat bosan dengan rutinitas dan komitmen jangka panjang.
Dalam hubungan, ENTP sering merasa terkekang kalau harus stuck dengan satu orang atau satu situasi saja. Mereka takut kehilangan kebebasan untuk mengeksplorasi opsi lain yang mungkin lebih menarik. Alhasil, mereka jadi ragu untuk benar-benar commit dan sering mencari-cari alasan untuk menunda komitmen serius.
2. ESTP

Tipe ESTP dikenal sebagai pribadi yang spontan dan suka hidup di momen sekarang. Mereka gak suka terikat dengan rencana jangka panjang atau komitmen yang mengharuskan mereka mengorbankan fleksibilitas. Bagi ESTP, komitmen sering terasa seperti penjara yang membatasi petualangan mereka.
Ketika dihadapkan dengan situasi yang membutuhkan komitmen serius, ESTP cenderung kabur atau mencari cara untuk tetap mempertahankan kebebasannya. Mereka lebih suka hubungan yang santai dan gak menuntut terlalu banyak. Padahal, kalau sudah menemukan yang tepat, ESTP bisa jadi partner yang loyal, tapi prosesnya memang butuh waktu lama.
3. ISFP

ISFP punya standar yang tinggi, terutama soal nilai-nilai personal mereka. Mereka gak mau asal commit kalau belum yakin 100% bahwa itu pilihan yang tepat. Masalahnya, kepastian 100% itu hampir mustahil didapat, jadi ISFP sering terjebak dalam kebimbangan berkepanjangan.
Ditambah lagi, ISFP sangat sensitif terhadap konflik dan kekecewaan. Mereka takut kalau komitmen yang mereka buat malah berujung pada sakit hati, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Akibatnya, mereka lebih memilih main aman dengan gak terlalu dalam terlibat secara emosional.
4. INTP

Para pemikir INTP punya kecenderungan untuk menganalisis segala sesuatu secara mendalam, termasuk soal komitmen. Mereka akan memikirkan berbagai skenario, kemungkinan, pro dan kontra, sampai akhirnya malah bingung sendiri. Overthinking ini sering bikin mereka gak pernah merasa cukup yakin untuk commit.
INTP juga sangat menghargai independensi intelektual mereka. Mereka butuh ruang untuk berpikir dan mengeksplorasi ide-ide tanpa gangguan. Komitmen, terutama dalam hubungan romantis, sering dianggap sebagai ancaman terhadap kebebasan berpikir mereka. Belum lagi, INTP kadang kesulitan memahami dan mengekspresikan emosi, yang bikin proses komitmen jadi makin rumit.
5. ENFP

ENFP punya imajinasi yang luar biasa dan standar yang tinggi soal hubungan ideal. Mereka percaya pada cinta sejati dan koneksi jiwa yang mendalam. Sayangnya, ekspektasi yang terlalu tinggi ini sering bikin mereka kecewa dengan realita dan terus mencari-cari yang "lebih baik".
Sifat ENFP yang mudah tertarik pada hal baru juga jadi masalah. Mereka bisa dengan cepat jatuh cinta, tapi begitu novelty-nya hilang, mereka mulai mempertanyakan perasaan mereka. ENFP takut terjebak dalam hubungan yang salah dan kehilangan kesempatan bertemu dengan "the one" yang sesungguhnya. Ironisnya, pencarian tanpa henti ini justru bikin mereka sulit untuk benar-benar commit pada satu orang.
Punya commitment issues bukan berarti kamu gak bisa menjalin hubungan yang sehat dan bahagia. Setiap tipe kepribadian punya tantangannya masing-masing, dan yang penting adalah kesadaran untuk mengenali pola-pola ini dalam diri sendiri. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kecenderungan alami kita, kita bisa mulai bekerja untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam berkomitmen. Jadi, kalau kamu termasuk salah satu tipe di atas, gak perlu berkecil hati. Yang penting adalah kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri!