Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Antidot untuk Relationship Overthinking yang Mesti Kamu Tahu

3 min read
3 Antidot untuk Relationship Overthinking yang Mesti Kamu Tahu
ilustrasi pasangan (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Overthinking dalam hubungan dapat membesar-besarkan masalah, memicu asumsi keliru, dan mengalihkan fokus dari solusi serta komunikasi dengan pasangan.
  • Ubah pertanyaan dari “mengapa” menjadi “apa” agar fokus pada tindakan, seperti menentukan penyelesaian dan hal yang perlu disampaikan kepada pasangan.
  • Batasi curhat pada orang tepercaya demi menjaga privasi, lalu komunikasikan kegelisahan secara jujur dan terbuka agar masalah dihadapi bersama pasangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berusaha mencari jawaban atau penjelasan ketika sedang terjebak konflik dalam hubungan adalah hal lumrah. Kamu selalu menemukan dirimu bertanya-tanya, “Kenapa dia melakukan ini …”, “Kenapa dia tega menyakitiku”, dan lainnya. Pikiran yang terus berputar-putar secara berlebihan bisa membawamu dalam kekhawatiran.

Masalah kecil akan terlihat besar, dan kamu sering menemukan diri terjebak dalam asumsi diri sendiri yang belum tentu benar. Pada akhirnya, malah bikin capek dan kewalahan. Kamu bukannya fokus mencari solusi atau mengomunikasikan masalah bersama pasangan, malah tenggelam berlarut-larut dalam pemikiranmu sendiri.

Karena itu, kamu perlu untuk batasi pikiranmu dengan sengaja. Berikut adalah strategi ampuh untuk mengubah kebiasaan overthinking berlebih menjadi peluang agar dapat berkembang.

  1. 1. Coba ubah pandanganmu dari “mengapa” menjadi “apa”

    ilustrasi pasangan sedang ngobrol
    ilustrasi pasangan sedang ngobrol (pexels.com/Julia M Cameron)

    Kebiasaan berpikir berlebih seringkali dimulai dengan mencoba mencari penjelasan di balik apa yang terjadi. Kamu ingin tahu kenapa pasangan bersikap demikian, kenapa kamu merasa diacuhkan, kenapa ini dan itu. Alhasil, kamu terus berputar-putar di tempat yang sama.

    Untuk mengubah kebiasaan tersebut, ubah perspektifmu dari menanyakan “mengapa” menjadi “apa”. Apa penyelesaian yang bisa kamu lakukan? Apa yang harus kamu katakan pada pasangan? Penjelasan bisa terungkap seiring berjalannya waktu, tapi kalau kamu gak segera mengambil aksi, hubunganmu dan pasangan pun akan stagnan di tempat.

  2. 2. Pilah-pilah tempat curhat masalah hubungan

    ilustrasi teman ngobrol
    ilustrasi teman ngobrol (pexels.com/Mike Jones)

    Salah satu pemicu mudahnya overthinking adalah sering menerima input dari orang lain. Saat ada masalah, kamu langsung curhat ke sana-sini. Masalahnya, kamu gak menyaring kepada siapa kamu bercerita sehingga masukan yang kamu terima pun berbeda-beda.

    Inilah pentingnya curhat hanya pada orang yang kamu percaya. Masalah hubungan adalah privasimu dan pasangan, jangan mudah mengumbar apalagi pada orang yang gak bisa dipercaya.

    Selain kehilangan privasi, kamu juga jadi mudah diombang-ambing saran yang belum tentu benar. Ini yang bikin pikiranmu semakin penuh dengan hal-hal yang gak perlu.

  3. 3. Komunikasikan dengan jujur dan terbuka pada pasangan

    ilustrasi pasangan
    ilustrasi pasangan (pexels.com/Ron Lach)

    Antidot paling ampuh dalam melawan overthinking adalah mengomunikasikannya dengan jujur dan terbuka pada pasangan. Jangan pandang ini sebagai beban yang harus kamu tanggung sendiri. Bagaimana pun, masalah hubungan adalah tanggung jawab berdua.

    Kamu bisa mengajak doi untuk ngobrol serius, dan menceritakan segala kegelisahan serta kekhawatiranmu. Dengan demikian, segala asumsi pun terpecahkan. Pasangan juga memberi dukungan sehingga kamu gak terjebak dalam pikiran-pikiran buruk sendirian.

    Justru, ketika kamu memilih untuk diam dan memendam, overthinking dalam kepala bisa terus berkembang. Lebih bahaya lagi, kalau pemikiranmu menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Malah jadi membuat situasi hubungan semakin runyam.

    Lumrah kok untuk punya kekhawatiran ketika menjalin hubungan. Tapi ingat, jangan menanggung beban sendiri. Kuncinya adalah komunikasi dan tahu siapa yang kamu percaya. Jadikan pasangan sebagai partner menyelesaikan masalah, bukannya musuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More