Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi dijodohkan (pexels.com/fauxels)
  • Perjodohan yang menghargai mempertimbangkan karakter, nilai hidup, kebutuhan emosional, dan tujuan hubungan; status sama-sama lajang tidak cukup untuk menentukan kecocokan.
  • Sikap asal-asalan terlihat ketika kriteria serta batasan yang sudah disampaikan diabaikan, atau calon pasangan dikenalkan tanpa informasi dasar mengenai status dan niat hubungan.
  • Penolakan terhadap perjodohan tetap menjadi hak pribadi; sindiran atau tekanan karena dianggap terlalu pemilih mengabaikan perasaan, kenyamanan, dan keputusan individu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dikenalkan kepada seseorang dengan tujuan menjalin hubungan romantis memang bukan hal yang aneh. Ada teman yang merasa cocok menjadi mak comblang, saudara yang ingin membantu mencarikan pasangan, atau rekan kerja yang tiba-tiba menawarkan kenalan karena merasa kalian sedang mencari hubungan. Perhatian seperti ini tentu bisa terasa menyenangkan, apalagi ketika orang yang mengenalkanmu terlihat ingin membantu menemukan pasangan yang tepat.

Akan tetapi, kesan tersebut bisa berubah ketika seseorang terus-menerus menjodohkanmu dengan orang yang tidak jelas latar belakangnya, bahkan tanpa mempertimbangkan kepribadian, nilai hidup, maupun situasi hubungan yang sedang kamu cari. Terlihat seperti dijodohkan asal-asalan membuatmu bertanya-tanya, apakah orang tersebut memang ingin membantumu menemukan pasangan atau sekadar ingin memasangkan dua orang agar terlihat berhasil menjadi mak comblang? Cara seseorang memperkenalkanmu kepada calon pasangan bisa menjadi gambaran tentang seberapa jauh pendapat dan perasaanmu dihargai.

1. Orang yang menghargaimu tidak akan asal memilih calon pasangan

ilustrasi berkenalan (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Ketika seseorang menganggapmu sebagai pribadi yang berharga, pertimbangan terhadap calon pasangan biasanya tidak akan dilakukan secara sembarangan. Orang tersebut mungkin akan memikirkan karakter, kebiasaan, cara berkomunikasi, hingga tujuan hubungan yang kamu inginkan sebelum memperkenalkanmu kepada orang lain. Kecocokan memang tidak bisa dijamin hanya melalui penilaian teman atau keluarga, tetapi setidaknya ada usaha untuk mengenalkanmu kepada seseorang yang dinilai memiliki kemungkinan cocok denganmu.

Perlakuan berbeda bisa terlihat ketika kamu dijodohkan dengan siapa saja hanya karena orang tersebut kebetulan masih lajang. Status belum menikah atau belum memiliki pasangan bukan satu-satunya alasan yang cukup untuk mempertemukan dua orang, apalagi jika tidak ada informasi mengenai kepribadian dan cara hidup masing-masing. Kamu bukan sekadar seseorang yang perlu segera dipasangkan, melainkan pribadi yang memiliki standar, kebutuhan emosional, dan hak untuk menentukan siapa yang ingin dikenal lebih jauh.

2. Kriteria yang sudah kamu sampaikan justru sering diabaikan

ilustrasi ngobrol (pexels.com/www.kaboompics.com)

Setiap orang memiliki pertimbangan tersendiri ketika mencari pasangan, mulai dari kesamaan nilai hidup, kedewasaan emosional, agama, pekerjaan, hingga rencana masa depan. Kriteria tersebut tidak selalu harus dipenuhi seluruhnya oleh calon pasangan, tetapi beberapa hal mungkin memang menjadi batas penting yang tidak ingin dikompromikan. Orang yang berniat menjodohkanmu dengan sungguh-sungguh semestinya bersedia mendengarkan pertimbangan tersebut sebelum menawarkan seseorang untuk dikenalkan.

Sikap asal-asalan mulai terlihat ketika kriteria yang sudah disampaikan berkali-kali justru tidak pernah diperhatikan. Kamu pernah mengatakan tidak nyaman dengan seseorang yang belum mandiri secara finansial, tetapi tetap dikenalkan kepada orang dengan kondisi yang jauh dari harapanmu tanpa penjelasan apa pun. Ada pula situasi ketika kamu menginginkan hubungan serius, tetapi justru dijodohkan dengan seseorang yang sejak awal hanya mencari hubungan tanpa komitmen. Pengabaian seperti ini bisa membuatmu merasa bahwa pendapatmu tidak dianggap penting oleh orang yang mengaku ingin membantumu.

3. Kamu diperlakukan seperti orang yang harus segera mendapatkan pasangan

ilustrasi pasangan (pexels.com/Vitaly Gariev)

Keinginan seseorang untuk menjalin hubungan romantis seharusnya tidak dijadikan alasan untuk memasangkannya dengan siapa saja. Ada orang yang memang sedang terbuka untuk dikenalkan kepada calon pasangan, tetapi bukan berarti semua orang yang tersedia otomatis layak diperkenalkan kepadanya. Perbedaan ini sering kali luput diperhatikan oleh mak comblang yang terlalu bersemangat melihat dua orang menjalin hubungan tanpa benar-benar mempertimbangkan kebutuhan mereka.

Perasaan kurang dihargai bisa muncul ketika kesendirianmu terus-menerus dijadikan alasan untuk menerima perkenalan yang tidak sesuai. Candaan seperti "yang penting sama-sama jomblo" mungkin terdengar ringan bagi orang yang mengucapkannya, tetapi bisa terasa merendahkan ketika kamu sebenarnya memiliki pertimbangan yang jelas mengenai pasangan. Status lajang bukan kondisi yang harus segera diperbaiki melalui hubungan apa pun. Keputusan untuk mengenal seseorang semestinya tetap didasarkan pada ketertarikan dan kecocokan, bukan tekanan agar kamu tidak terus-menerus sendirian.

4. Orang yang menjodohkanmu tidak berusaha mengenali calon pasangan terlebih dahulu

ilustrasi kencan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Tanggung jawab seorang mak comblang memang tidak sampai menjamin bahwa hubungan yang dikenalkan akan berhasil. Meski begitu, informasi dasar mengenai orang yang diperkenalkan tetap perlu diketahui, terutama jika perkenalan tersebut dilakukan dengan harapan menuju hubungan romantis. Hal sederhana seperti latar belakang, status hubungan, tujuan mencari pasangan, dan cara orang tersebut memperlakukan orang lain sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja.

Perkenalan yang dilakukan tanpa pemeriksaan sederhana bisa menempatkanmu dalam situasi yang tidak nyaman. Kamu mungkin baru mengetahui bahwa orang tersebut ternyata masih memiliki pasangan, tidak mencari hubungan serius, atau memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan batasanmu setelah komunikasi berlangsung. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa proses perjodohan tidak dipikirkan dengan matang. Kamu berhak mendapatkan penjelasan yang cukup sebelum diminta memberikan waktu dan perhatian kepada seseorang yang bahkan belum kamu kenal.

5. Perasaanmu dianggap berlebihan ketika menolak perjodohan tersebut

ilustrasi menolak (pexels.com/SHVETS production)

Penolakan terhadap seseorang yang dikenalkan bukan berarti kamu merasa terlalu tinggi untuk mengenal orang lain. Ada banyak alasan yang bisa membuat sebuah perkenalan tidak ingin dilanjutkan, mulai dari ketidakcocokan, kurangnya ketertarikan, hingga perbedaan tujuan hubungan. Orang yang menghargaimu seharusnya memahami bahwa keputusan untuk menerima atau menolak perkenalan tetap berada di tanganmu, bukan sesuatu yang bisa dipaksakan hanya karena niat awalnya dianggap baik.

Sikap kurang menghargai bisa semakin terasa ketika penolakanmu justru dibalas dengan sindiran atau tuduhan terlalu pemilih. Kamu mungkin dianggap sulit mendapatkan pasangan, terlalu banyak menuntut, atau tidak tahu diri karena sudah dikenalkan kepada seseorang. Padahal, kesediaan untuk membuka diri tidak sama dengan kewajiban menerima setiap orang yang ditawarkan. Mak comblang boleh merasa bahwa dua orang akan cocok, tetapi keputusan untuk melanjutkan hubungan tidak pernah menjadi haknya. Perasaan dan batasanmu tetap perlu dihormati, termasuk ketika jawabannya tidak sesuai dengan harapan orang yang menjodohkan.

Dijodohkan asal-asalan memang bisa membuatmu merasa kurang dihargai, terutama ketika pertimbanganmu terus diabaikan oleh orang yang menjodohkan. Namun, perlakuan asal-asalan dari seorang mak comblang tidak menentukan nilai dirimu sebagai pribadi. Kamu berhak menolak perkenalan yang tidak membuatmu nyaman tanpa harus merasa bersalah atau membuktikan bahwa standar pasanganmu masuk akal bagi orang lain. Hubungan yang sehat seharusnya dimulai dari ketertarikan dan kesediaan kedua pihak, bukan sekadar hasil memasangkan dua orang yang kebetulan sama-sama lajang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article