Setiap orang tentu ingin merasa dicintai, didengar, dan memiliki seseorang yang selalu ada di sisinya. Namun, hubungan bisa berubah menjadi melelahkan ketika semua rasa aman, bahagia, hingga keputusan hidup hanya bertumpu pada satu orang. Tanpa disadari, pasangan bukan lagi menjadi teman berjalan, melainkan satu-satunya tempat bergantung untuk memenuhi seluruh kebutuhan emosional.
Awalnya mungkin terasa romantis karena selalu ingin bersama dan melibatkan pasangan dalam segala hal. Namun seiring waktu, hubungan seperti ini justru bisa kehilangan ruang untuk bernapas. Ketika kebahagiaan hanya ditentukan oleh respons pasangan, sedikit perubahan sikap saja sudah cukup membuat hati gelisah. Lalu, mengapa emotional dependency atau ketergantungan emosional bisa membuat hubungan cepat terasa melelahkan?
