Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kalau Kamu Takut Mengecewakan Orang, Mungkin Ini yang Terjadi

Kalau Kamu Takut Mengecewakan Orang, Mungkin Ini yang Terjadi
Ilustrasi merasa takut dan cemas (pexels.com/Aliaksei Lepik)
Share Article

Kalau kamu sering merasa takut mengecewakan orang lain, mungkin kamu terbiasa bikang “iya” meski sebenarnya ingin menolak. Kamu mungkin juga terlalu memikirkan reaksi orang lain, merasa bersalah ketika membuat keputusan sendiri, atau terus berusaha menjadi orang yang bisa diandalkan. Sekilas, kebiasaan ini terlihat seperti tanda bahwa kamu perhatian dan punya empati tinggi.

Namun, kalau dilakukan terus-menerus sampai mengorbankan kebutuhan sendiri, ada kemungkinan tersimpan rasa takut yang lebih mendalam. Lantas, apa sebenarnya yang sedang terjadi ketika kamu begitu takut mengecewakan orang?

  1. 1. Kamu mungkin menganggap penolakan sebagai ancaman

    Ilustrasi merenung (pexels.com/Mert Coşkun)
    Ilustrasi merenung (pexels.com/Mert Coşkun)

    Salah satu alasan kenapa seseorang sulit mengecewakan orang lain adalah karena penolakan terasa jauh lebih menakutkan daripada sekadar perbedaan pendapat. Ketika ada seseorang yang meminta bantuan, misalnya kamu mungkin langsung berpikir, “Kalau aku menolak, dia bakal kecewa,” lalu pikiran itu berkembang menjadi, “Kalau dia kecewa, mungkin dia akan menjauh dariku.”

    Akhirnya, kamu memilih berkata “iya” bukan karena benar-benar mau, tetapi karena ingin menghindari kemungkinan kehilangan penerimaan dari orang tersebut. Psikolog Lauren Appio, Ph.D., menjelaskan bahwa people-pleasing dapat berkembang menjadi mekanisme perlindungan yang sangat kuat.

    "Kebiasaan menyenangkan orang lain adalah strategi bertahan hidup, dan hal ini menjadi begitu mendarah daging hingga menetapkan batasan bisa terasa menakutkan dan tampak mustahil," jelasnya dikutip dari Psych Central.

    Jadi kebiasaan menyenangkan orang lain bisa terasa seperti strategi untuk menjaga diri tetap aman secara emosional, terutama jika pola tersebut sudah berlangsung lama. Oleh karena itu, jangan buru-buru menganggap dirimu “terlalu sensitif” hanya karena merasa sangat tidak nyaman ketika seseorang kecewa. Seseorang bisa kecewa terhadap keputusanmu, tapi bukan berarti hubungan kalian otomatis berakhir.

  2. 2. Kamu terbiasa mengukur harga diri dari persetujuan orang lain

    Ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro studio)
    Ilustrasi merenung (pexels.com/cottonbro studio)

    Kalau sejak lama kamu merasa berharga ketika dipuji, dibutuhkan, atau dianggap sebagai orang yang selalu bisa diandalkan, kamu bisa tanpa sadar menghubungkan harga diri dengan kepuasan orang lain. Akibatnya, ketika seseorang tidak setuju dengan keputusanmu, kamu tidak hanya melihatnya sebagai perbedaan pendapat. Kamu justru merasa seolah-olah ada sesuatu yang salah dengan dirimu.

    Ketika hal tersebut sudah terbentuk dalam dirimu, kamu mungkin merasa harus selalu menjadi anak, teman, pasangan, atau rekan kerja yang “baik”. Kamu merasa harus membantu ketika diminta, harus memahami semua orang, dan sebisa mungkin tidak membuat siapa pun kecewa. Masalahnya, kebutuhanmu sendiri akhirnya menjadi nomor sekian. Penelitian mengenai people-pleasing juga menunjukkan bahwa kecenderungan memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan sendiri dapat membawa konsekuensi psikologis tertentu.

    "Kamu selalu siap sedia untuk siapa saja. Bahkan, kamu cenderung mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan sendiri. Tanpa ragu sedikit pun. Kamu jarang mengungkapkan pendapat yang berbeda (meskipun kamu jelas-jelas tidak setuju)," dikutip dari laporan Psych Central yang telah ditinjau secara medis.

  3. 3. Kamu mungkin sedang menghindari rasa tidak nyaman, bukan sekadar ingin berbuat baik

    Ilustrasi merenung (pexels.com/Huỳnh Như Mavi)
    Ilustrasi merenung (pexels.com/Huỳnh Như Mavi)

    Ada perbedaan antara membantu karena memang ingin membantu dan membantu karena tidak tahan dengan perasaan yang muncul ketika kamu mengatakan “tidak”. Pada kondisi kedua, kamu sebenarnya mungkin sedang berusaha menghilangkan rasa cemas, bersalah, atau takut yang muncul ketika membayangkan orang lain kecewa.

    Mengatakan “iya” akhirnya menjadi cara tercepat untuk membuat perasaan tidak nyaman tersebut hilang. Lia Love Avellino, LCSW, seorang licensed clinical social worker dan terapis hubungan, menjelaskan bahwa ketika seseorang masuk ke “pleasing mode”, perhatian mereka bisa terlalu terfokus pada orang lain sampai kehilangan kontak dengan dirinya sendiri.

    "Karena saat kita berusaha menyenangkan orang lain, kita sangat fokus memperhatikan mereka, dan justru kehilangan koneksi dengan diri kita sendiri," jelasnya dalam WebMD.

  4. 4. Kamu bisa jadi takut konflik karena menganggap hubungan harus selalu harmonis

    Ilustrasi merenung (pexels.com/Chris F)
    Ilustrasi merenung (pexels.com/Chris F)

    Orang yang takut mengecewakan orang lain sering kali memiliki toleransi yang rendah terhadap konflik. Ketika seseorang terlihat tidak senang, kamu mungkin langsung merasa harus memperbaiki keadaan. Kamu buru-buru meminta maaf, menjelaskan diri panjang lebar, menawarkan kompromi, atau bahkan menarik kembali keputusan yang sebenarnya sudah kamu pikirkan matang-matang.

    "Sebab, jika saya hendak mengambil keputusan yang pada akhirnya membuat orang lain tidak setuju, menolak, atau marah kepada saya, saya tidak benar-benar merasa bebas untuk mengambil keputusan tersebut. Di sinilah sering kali muncul sikap mengabaikan diri sendiri,” ujar psikoterapis Terri Cole, dalam wawancara yang dimuat Psych Central.

    Hal itu menunjukkan bahwa ketakutan terhadap penolakan atau konflik dapat membuat pilihan seseorang terasa sangat terbatas. Padahal, hubungan yang sehat tidak berarti tidak pernah ada kekecewaan. Temanmu bisa kecewa karena kamu tidak bisa datang, pasanganmu bisa tidak setuju dengan keputusanmu, atau rekan kerja bisa kurang menyukai batasan yang kamu buat. Semua itu belum tentu merupakan tanda bahwa hubungan tersebut bermasalah.

  5. 5. Kamu perlu belajar bahwa mengecewakan orang tidak sama dengan menyakiti mereka

    Ilustrasi merasa takut dan cemas (pexels.com/Aliaksei Lepik)
    Ilustrasi merasa takut dan cemas (pexels.com/Aliaksei Lepik)

    Mungkin ini bagian yang paling sulit diterima: kamu tidak bisa membuat semua orang selalu senang. Bahkan ketika kamu sudah bersikap baik, membantu, dan berusaha mempertimbangkan perasaan orang lain, akan selalu ada keputusanmu yang tidak sesuai dengan harapan seseorang.

    Tugasmu bukan memastikan semua orang selalu puas terhadap pilihanmu. Dr. Mara Czegel, PhD, menjelaskan bahwa orang yang terbiasa people-pleasing perlu memisahkan tanggung jawab atas batasan diri dengan reaksi emosional orang lain.

    "Memisahkan reaksi orang lain dari tanggung jawabmu juga merupakan hal yang bermanfaat. Kamu bertanggung jawab untuk berkomunikasi dengan rasa hormat. (Tapi) kamu tidak bertanggung jawab untuk mengelola emosi orang lain terkait batasan yang kamu tetapkan," jelasnya dalam Ember Psychotherapy Collective.

    "Hubungan yang dewasa mampu menerima kekecewaan. Faktanya, batasan justru sering kali memperkuat hubungan karena mengurangi rasa kesal yang terpendam dan meningkatkan kejujuran serta keaslian dalam berinteraksi," tambah Mara.

    Jadi, ketika kamu mengatakan, “Maaf, aku tidak bisa membantu kali ini,” lalu orang tersebut kecewa, bukan berarti kamu telah melakukan sesuatu yang salah. Kamu sudah menyampaikan keputusan dengan cara yang menghargai orang lain. Sisanya adalah bagian yang harus mereka kelola sendiri.

    Takut mengecewakan orang mungkin bukan karena kamu terlalu peduli, melainkan karena kamu terlalu lama percaya bahwa menjaga perasaan orang lain adalah tanggung jawabmu. Kamu boleh tetap menjadi pribadi yang perhatian tanpa harus selalu mengatakan “iya”. Menjadi orang baik tidak berarti harus membuat semua orang bahagia, jika itu mengorbankan dirimu sendiri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More