Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Banyak Hubungan Berakhir karena Kurang Komunikasi?
ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/Drazen Zigic)

Dalam sebuah hubungan, rasa sayang saja belum tentu cukup untuk membuat dua orang tetap bertahan. Ada banyak hal yang perlu dibangun bersama, mulai dari kepercayaan, rasa aman, komitmen, hingga kemampuan untuk saling memahami. Namun, semua hal tersebut sulit tumbuh jika pasangan jarang berbicara secara terbuka atau tidak mampu menyampaikan perasaan dengan baik.

Kurangnya komunikasi sering kali tidak langsung membuat hubungan berakhir. Masalah biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang terus dipendam. Ketika masalah terus dibiarkan, jarak emosional dapat semakin besar.

1. Perasaan yang dipendam bisa berubah menjadi tumpukan kekecewaan

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

Tidak semua orang mudah mengungkapkan perasaan. Ada yang memilih diam karena takut memicu pertengkaran, tidak ingin dianggap terlalu menuntut, atau merasa pasangannya seharusnya sudah memahami apa yang dirasakan. Padahal, pasangan tidak selalu bisa mengetahui isi pikiran kita tanpa diberi penjelasan.

Ketika rasa kecewa terus dipendam, masalah kecil dapat berubah menjadi beban emosional yang semakin berat. Kebiasaan menghindari pembicaraan juga dapat membuat hubungan terlihat baik-baik saja dari luar, padahal ada banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi.

"Kurangnya komunikasi yang terbuka dan jujur ​​satu sama lain perlahan-lahan mengikis keintiman dan keamanan emosional hubungan mereka," kata Lisa Brookes Kift, terapis pernikahan dan keluarga dikutip dari The Gottman Institute.

2. Pasangan mulai merasa tidak didengar dan tidak dipahami

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/draganastock)

Komunikasi bukan hanya tentang seberapa sering pasangan berbicara. Komunikasi juga berkaitan dengan kemampuan untuk mendengarkan, memahami maksud pasangan, dan memberikan respons yang membuatnya merasa dihargai.

"Pasangan yang mencari koneksi emosional dengan pasangannya dan terampil dalam memperbaiki hubungan, lebih sukses daripada pasangan yang tidak," jelas Lisa.

Perasaan tidak didengar dapat muncul ketika pasangan sering memotong pembicaraan, langsung memberi nasihat tanpa memahami masalah, atau menganggap perasaan pasangannya berlebihan. Lama-kelamaan, seseorang mungkin memilih berhenti bercerita karena merasa percuma. Hubungan pun kehilangan ruang aman yang seharusnya menjadi tempat untuk saling berbagi.

3. Konflik menjadi sulit diselesaikan karena cara bicara yang tidak sehat

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/Budgeron Bach)

Setiap hubungan pasti memiliki perbedaan dan konflik. Perbedaan pendapat bukan selalu tanda bahwa hubungan akan berakhir. Justru, konflik dapat menjadi kesempatan untuk memahami kebutuhan, kebiasaan, dan sudut pandang pasangan. Masalah muncul ketika konflik dihadapi dengan cara yang menyakitkan, seperti saling menyalahkan, meremehkan, membentak, atau memilih menghilang tanpa penjelasan.

"Kita tahu bahwa pasangan yang sering berkonflik berada di jalan menuju perceraian jika mereka tidak belajar bagaimana berkomunikasi dengan lebih baik, bertanggung jawab, dan berupaya mengubah paradigma permusuhan mereka menjadi paradigma yang lebih kolaboratif," kata Lisa.

Cara memulai percakapan juga dapat menentukan arah sebuah konflik. Kalimat seperti, “Kamu memang selalu egois,” cenderung membuat pasangan merasa diserang dan menjadi defensif. Sebaliknya, kalimat seperti, “Aku merasa sedih ketika pendapatku tidak didengar,” dapat membantu pasangan memahami perasaan tanpa merasa langsung disalahkan.

4. Asumsi membuat pasangan merasa saling tidak mengerti

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/prostock studio)

Salah satu penyebab komunikasi tidak berjalan baik adalah kebiasaan membuat asumsi. Misalnya, seseorang berpikir, “Kalau dia benar-benar sayang, dia pasti tahu apa yang aku butuhkan.” Padahal, setiap orang memiliki cara berbeda dalam menunjukkan perhatian dan memahami kasih sayang.

Hal yang dianggap penting oleh satu orang belum tentu dianggap sama oleh pasangannya. Asumsi juga dapat membuat seseorang menafsirkan tindakan pasangan tanpa mencari penjelasan terlebih dahulu. Pesan yang terlambat dibalas mungkin langsung dianggap sebagai tanda tidak peduli.

Sikap pasangan yang lebih diam bisa dianggap sebagai kemarahan, padahal mungkin ia sedang lelah atau memiliki masalah lain. Ketika asumsi terus dibiarkan, kesalahpahaman dapat berkembang menjadi rasa curiga dan ketidakpercayaan.

"Komunikasi adalah kunci utama dalam hubungan yang sehat. Pasangan yang sehat meluangkan waktu untuk saling berkomunikasi secara teratur. Penting untuk membicarakan lebih dari sekadar pengasuhan anak dan mengurus rumah tangga. Cobalah luangkan beberapa menit setiap hari untuk membahas topik yang lebih dalam atau lebih pribadi agar tetap terhubung dengan pasangan Anda dalam jangka panjang," demikian laporan American Psychological Association dalam panduan hubungan yang sehat yang disusun oleh psikolog Robin S. Haight, PsyD, dan Dan Abrahamson, PhD,.

5. Hubungan kehilangan kedekatan emosional

ilustrasi pasangan bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

Kurangnya komunikasi tidak selalu terlihat dalam bentuk pertengkaran. Ada pasangan yang jarang berkonflik, tetapi juga tidak lagi membicarakan perasaan, impian, kekhawatiran, atau kebutuhan masing-masing. Percakapan mereka mungkin hanya berkaitan dengan pekerjaan, urusan rumah, jadwal, atau hal-hal praktis. Hubungan tetap berjalan, tetapi kedekatan emosional mulai berkurang.

Ketika pasangan tidak lagi merasa terhubung, mereka dapat menjalani kehidupan bersama tanpa benar-benar memahami dunia batin satu sama lain. Seseorang mungkin mulai mencari tempat lain untuk merasa didengar, seperti teman, keluarga, atau orang lain yang dianggap lebih memahami dirinya. Kondisi tersebut tidak selalu berarti ada pengkhianatan, tetapi dapat menjadi tanda bahwa kebutuhan emosional dalam hubungan mulai tidak terpenuhi.

"Hubungan yang penuh kasih sayang, sehat, dan terhubung adalah hasil dari dialog yang berkelanjutan. Pasangan-pasangan ini saling memeriksa satu sama lain tidak hanya tentang hal-hal yang mengganggu mereka, tetapi juga untuk merayakan ketika pasangan mereka telah melakukan sesuatu yang mereka hargai," jelas Lisa.

 

Kurangnya komunikasi memang dapat membuat hubungan perlahan kehilangan rasa aman, kepercayaan, dan kedekatan emosional. Namun, komunikasi yang sehat bukan berarti pasangan harus selalu sepakat atau tidak pernah bertengkar. Yang lebih penting adalah adanya kemauan untuk saling mendengarkan, menyampaikan kebutuhan dengan jujur, dan mencari jalan keluar tanpa saling menjatuhkan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article