"Stres yang berkaitan dengan pekerjaan tidak sekadar hilang saat kamu pulang kerja. Jika stres terus berlanjut, hal itu dapat berdampak buruk pada kesehatan dan kesejahteraan kamu," tulis laporan American Psychological Association (APA) yang menjelaskan bahwa stres kerja tidak otomatis hilang ketika seseorang meninggalkan kantor.
Kenapa Setelah Kerja, Cari Pasangan Terasa Jadi Side Quest?

Setelah lulus kuliah dan mulai masuk dunia kerja, hidup seolah punya misi utama baru: membangun karier, mengejar target, mengumpulkan pengalaman, dan berusaha punya kehidupan finansial yang lebih stabil. Sementara urusan mencari pasangan sering kali bergeser ke posisi paling bawah dalam daftar prioritas.
Bukan karena tidak ingin punya hubungan, tetapi rasanya energi untuk membuka hati saja sudah habis setelah seharian bekerja. Istilah side quest, yakni misi sampingan atau tugas tambahan di luar alur cerita utama terasa cocok untuk menggambarkan kondisi ini. Jadi, kenapa setelah kerja cari pasangan terasa jauh lebih sulit dan melelahkan?
1. Energi setelah kerja sudah banyak terkuras

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev) Mencari pasangan sebenarnya membutuhkan energi yang tidak sedikit. Kamu perlu membuka diri, berkenalan dengan orang baru, membangun percakapan, memahami karakter seseorang, bahkan menghadapi kemungkinan tidak cocok atau ditolak. Ketika sebagian besar energi mental sudah digunakan untuk pekerjaan, aktivitas tersebut bisa terasa seperti tugas tambahan.
Organisasi psikologi tersebut juga menekankan bahwa stres kronis dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Karena itu, tidak aneh jika setelah bekerja kamu merasa tidak punya “baterai sosial” untuk dating. Bukan berarti kamu tidak tertarik pada hubungan romantis. Bisa jadi tubuh dan pikiranmu lebih membutuhkan istirahat daripada interaksi baru.
2. Karier terlihat lebih mendesak daripada urusan percintaan

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Abolfazl Pahlavan) Pada awal karier, banyak orang merasa harus membuktikan diri terlebih dahulu. Ada target yang harus dicapai, skill yang perlu ditingkatkan, networking yang harus dibangun, sampai keinginan mendapatkan penghasilan yang lebih baik.
Dibandingkan hubungan romantis yang hasilnya tidak pasti, karier terasa memberikan tujuan yang lebih konkret. Psikolog klinis Dr. Julie Smith pernah menyarankan agar seseorang melihat kembali berbagai area kehidupan yang dianggap penting. Ia menyarankan adanya keseimbangan hidup.
"Tubuh kita dirancang untuk menghadapi stres, namun dengan syarat ada imbalan atau pemulihan yang didapat sebagai gantinya. Kita menghabiskan setiap menit sepanjang hari dengan terburu-buru dan kewalahan mengejar berbagai hal, hingga akhirnya kita tidak lagi bisa menikmatinya. Akibatnya, keseimbangan hidup terganggu dan kita merasa menderita karena berusaha melakukan segalanya serta menjadi segalanya bagi orang lain," jelasnya dikutip dari The Guardian.
Ia juga menyarankan seseorang perlu menilai kembali berbagai aspek kehidupan seperti kesehatan, perkembangan karier, hubungan intim, pertemanan, dan kehidupan sosial. Lalu meliha apakah hidupnya sudah berjalan sesuai nilai yang dianggap penting.
"Di selembar kertas, catatlah berbagai aspek kehidupan yang kamu anggap berharga. Di setiap kotak, tuliskan beberapa kata mengenai kontribusi apa yang ingin kamu berikan. Ini bukanlah alat untuk mengkritik diri sendiri, karena wajar jika hidup menarik kita ke berbagai arah yang berbeda. Ini sarana untuk mendapatkan kejelasan," jelasnya.
"Kita cemas akan kemungkinan melakukan kesalahan atau gagal menjalankan tanggung jawab, sehingga tidak ada waktu untuk menikmati hubungan dengan orang-orang terkasih. Di sinilah pertanyaan pertama mengenai nilai-nilai hidup kembali menjadi relevan," tambahnya.
Jadi, ketika karier terus mendapatkan skor prioritas tertinggi, kehidupan personal bisa tanpa sadar menjadi nomor sekian. Kamu mungkin berkata, “Nanti saja cari pasangan kalau pekerjaan sudah lebih stabil.” Namun setelah pekerjaan mulai stabil, muncullah target baru yang mungkin bisa hubungan romantis.
3. Pulang kerja bukan berarti otak langsung bisa mode santai

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Borja Verbena) Ada perbedaan antara sudah tidak berada di kantor dan benar-benar lepas secara psikologis dari pekerjaan. Kamu mungkin sudah sampai rumah, tetapi pikiran masih memikirkan deadline, chat dari atasan, presentasi hari berikutnya, atau masalah yang belum selesai.
Kondisi seperti ini membuat waktu setelah kerja belum tentu menjadi waktu yang benar-benar tersedia untuk kehidupan pribadi. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Happiness Studies menemukan bahwa kemampuan melepaskan diri secara psikologis dari pekerjaan berkaitan dengan kualitas interaksi seseorang dengan pasangan.
"Melepaskan diri secara psikologis dari pekerjaan saat berada di lingkungan pribadi sangatlah penting untuk memulihkan diri dari stres kerja dan meningkatkan kesejahteraan. Selain itu, berbagai bukti menunjukkan adanya dampak negatif stres terhadap kualitas hubungan," demikian laporannya dikutip dari IDEAS.
Kalau kamu belum berhasil melakukan psychological detachment, kecan bisa terasa melelahkan bahkan sebelum benar-benar dimulai. Bayangkan sedang melakukan first date tetapi pikiran masih sibuk dengan revisi presentasi besok. Dalam kondisi seperti ini, wajar kalau mencari pasangan terasa seperti pekerjaan tambahan.
4. Waktu untuk bertemu orang baru semakin sedikit

Ilustrasi bekerja lembur (unsplash.com/Photo by Tu Chu) Saat masih kuliah, kesempatan bertemu orang baru relatif lebih banyak. Ada kelas, organisasi, kegiatan kampus, teman dari berbagai jurusan, hingga acara yang mempertemukan banyak orang. Setelah bekerja, lingkungan sosial sering kali menjadi lebih terbatas.
Rutinitas bisa berubah menjadi rumah-kantor-rumah, terutama jika pekerjaan menyita banyak waktu. Jadi, masalahnya bukan karena kamu “tidak laku” atau tidak ada orang yang cocok. Bisa jadi kesempatan untuk bertemu orang baru memang semakin sedikit.
5. Bukan harus memilih karier atau cinta, tetapi perlu memberi ruang untuk keduanya

Ilustrasi lelah bekerja (pexels.com/Nataliya Vaitkevich) Kesibukan kerja bukan alasan untuk memaksakan diri mencari pasangan setiap saat. Namun, kalau sebenarnya kamu ingin memiliki hubungan tetapi tidak pernah memberikan ruang untuk bertemu orang baru, kemungkinan besar keinginan tersebut memang akan sulit terwujud.
Hubungan membutuhkan kesempatan untuk dimulai, dan kesempatan itu biasanya tidak muncul kalau seluruh waktu dan energi hanya diberikan kepada pekerjaan. Oleh karena itu, mencari pasangan tidak harus diperlakukan seperti proyek besar yang membutuhkan jadwal padat.
Kamu bisa memulainya dengan memberi sedikit ruang dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, mulai menerima ajakan teman, mengikuti komunitas yang memang kamu sukai, mencoba dating app dengan batas waktu tertentu, atau sekadar membuka kesempatan untuk mengenal orang baru.
Jadi, kalau setelah kerja mencari pasangan terasa seperti side quest, kamu tidak sendirian. Tapi tidak ada salahnya memberi ruang untuk pertemanan, hobi, istirahat, dan hubungan romantis juga merupakan bagian dari membangun kehidupan yang utuh.




















