5 Sisi Psikologis di Balik Fenomena Childfree Pada Generasi Muda

- Pengalaman masa kecil yang tidak ideal dapat memicu kekhawatiran mengulang pola asuh, sehingga sebagian orang merasa belum siap emosional menjadi orangtua.
- Keinginan mempertahankan otonomi atas waktu, energi, karier, pendidikan, dan rencana hidup menjadi pertimbangan bagi sebagian generasi muda memilih childfree.
- Tekanan standar parenting, biaya hidup dan pengasuhan jangka panjang, serta ekspektasi sosial membuat keputusan memiliki atau tidak memiliki anak terasa kompleks.
Keputusan untuk punya anak dianggap sebagai bagian penting setelah menikah. Pertanyaan tentang kapan memiliki momongan sering datang dari keluarga, teman, bahkan lingkungan sekitar. Namun, pandangan tersebut mulai berubah. Semakin banyak pasangan memilih untuk menunda atau tak memiliki anak.
Pilihan ini kemudian dikenal dengan istilah childfree. Di balik keputusan ini tentu ada pertimbangan psikologis, finansial, pengalaman masa kecil, kekhawatiran terhadap masa depan, dan alasan lainnya. Di sisi lain, realitas sosial juga membuat keputusan ini tak mudah. Kamu mungkin sudah yakin dengan pilihanmu, tapi tetap harus menghadapi dilema dalam berbagai aspek.
1. Takut mengulang pola asuh yang pernah dialami

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/kampus production) Pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan berkeluarga. Jika kamu tumbuh dalam lingkungan yang tak ideal, hal ini bisa membentu kekhawatiran tersendiri. Kamu takut ketika membayangkan diri menjadi orangtua. Bukan berarti setiap orang yang memiliki pengalaman masa kecil kurang menyenangkan pasti memilih childfree.
Namun, bagi sebagian orang, trauma itu dapat memunculkan pertanyaan seperti, "Bagaimana kalau nanti aku melakukan hal yang sama kepada anakku?". Ada orang yang merasa belum siap secara emosional untuk menjalani peran sebagai orangtua. Mereka mungkin takut tidak mampu memberikan lingkungan yang sehat, takut kehilangan kesabaran, atau khawatir tanpa sadar mewariskan luka yang pernah mereka alami.
2. Merasa butuh untuk memiliki kendali atas hidup sendiri

ilustrasi menggandeng tangan pasangan (unsplash.com/huntersrace) Memiliki anak membawa perubahan besar dalam kehidupan. Waktu, tenaga, prioritas, keuangan, bahkan cara mengambil keputusan akan ikut berubah. Bagi sebagian orang, perubahan tersebut gak cocok dengan kehidupan yang ingin mereka jalani. Kamu mungkin punya impian untuk melanjutkan pendidikan, membangun karier, traveling, merawat orangtua, mengembangkan bisnis, atau sekadar menikmati kehidupan.
Ketika membayangkan memiliki anak, kamu merasa sebagian besar rencana tersebut harus disesuaikan kembali. Keinginan terus bebas sebenarnya gak berarti seseorang egois. Setiap orang memiliki gambaran berbeda tentang kehidupan idealnya. Pilihan childfree berkaitan dengan kebutuhan akan otonomi. Seseorang ingin memiliki kendali lebih besar terhadap bagaimana ia menggunakan waktu, energi, uang, dan kapasitas emosionalnya.
3. Tekanan menjadi orangtua terasa semakin besar

ilustrasi anak (pexels.com/rdne) Menjadi orangtua zaman sekarang juga terasa memiliki standar yang semakin tinggi. Kamu tidak hanya dituntut memenuhi kebutuhan dasar anak, tapi juga berbagai ekspektasi mengenai pola asuh, pendidikan, kesehatan mental, nutrisi, sampai perkembangan anak. Media sosial turut memperkuat fenomena tersebut.
Melihat konten parenting setiap hari membuat seseorang merasa bahwa menjadi orangtua itu sangat kompleks. Belum lagi munculnya berbagai istilah parenting atau berbagai pengasuhan lainnya. Pengetahuan tersebut tentu bisa membantu, tapi bagi sebagian orang justru dapat memunculkan kecemasan. Ada pula ketakutan membesarkan anak dimana tak semua orang merasa memiliki kapasitas itu.
4. Kondisi finansial membuat pilihan punya anak cukup menyulitkan

ilustrasi pasangan membuat anggaran (pexels.com/Mikhail Nilov) Alasan finansial juga menjadi bagian dari pembahasan tentang childfree. Membesarkan anak bukan hanya membutuhkan biaya untuk persalinan atau kebutuhan bayi. Ada pengeluaran jangka panjang untuk banyak hal yang terus berubah seiring pertumbuhan anak. Bagi generasi muda yang menghadapi biaya hidup tinggi, memiliki anak adalah keputusan yang sangat besar.
Kamu mungkin berpikir bahwa sebelum membawa manusia lain ke dalam kehidupanmu, setidaknya perlu ada kondisi finansial yang cukup aman. Bukan karena ingin memberikan kehidupan sempurna, tapi karena ingin memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi. Intinya, setiap orang memiliki pertimbangan dan kapasitas yang berbeda. Faktor ekonomi hanya salah satu bagian saja.
5. Childfree masih berhadapan dengan ekspektasi sosial

ilustrasi dining bersama keluarga (pexels.com/Julia M Cameron) Meski pembicaraan mengenai childfree semakin terbuka, keputusan untuk gak memiliki anak masih sering mendapatkan respons negatif. Tekanan sosial ini terasa ketika keputusan pribadi dianggap sebagai sesuatu yang harus dijelaskan kepada orang lain. Padahal, memiliki atau tidak memiliki anak merupakan keputusan besar yang dampaknya paling banyak dirasakan oleh orang yang menjalaninya.
Karena itu, tidak semua orang memiliki kewajiban untuk memberikan penjelasan panjang mengenai keputusan tersebut. Yang juga penting, childfree tidak sama dengan membenci keluarga atau anak-anak. Seseorang bisa tetap menyayangi keponakan, menikmati waktu bersama keluarga, dan memiliki hubungan yang hangat dengan anak-anak tanpa ingin menjadi orangtua.
Bagi kamu yang memilih untuk memiliki anak, keputusan tersebut juga layak dihargai. Begitu pula dengan orang yang memutuskan childfree. Selama keputusan tersebut dibuat secara sadar dan bertanggung jawab, pilihan hidup setiap orang tidak harus mengikuti jalan yang sama, bukan?






















