Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Banyak Orang Cenderung Bertengkar Karena Masalah yang Sama?
Ilustrasi pertengkaran (pexels.com/Timur Weber)
  • Pertengkaran berulang umumnya terjadi karena masalah belum diselesaikan hingga akar, atau solusi yang disepakati belum mampu diterapkan oleh salah satu maupun kedua pihak.
  • Ekspektasi yang dibentuk nilai, pengalaman, budaya, dan keyakinan dapat memicu konflik saat tidak sesuai kenyataan, terutama tanpa komunikasi serta penyesuaian bersama.
  • Pola menuntut-menarik diri dan kurangnya koneksi emosional membuat pihak-pihak sulit menemukan titik temu, merasa tidak dipahami atau didengar, lalu mengulang konflik serupa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pertengkaran dalam suatu hubungan bukan lagi hal yang aneh terjadi. Banyak orang menganggap pertengkaran sebagai bagian tidak terpisahkan dari hubungan karena perbedaan pendapat maupun sudut pandang memang sulit dihindari. Di sisi lain, pertengkaran juga dapat menjadi bagian dari proses untuk memahami satu sama lain dan memperkuat hubungan. Namun, bagaimana jika pertengkaran yang terjadi justru terus berulang karena permasalahan yang sama?

Tanpa disadari, kamu mungkin sering terlibat dalam pertengkaran yang memiliki pola serupa dengan orang-orang di sekitar, baik dalam hubungan pertemanan maupun percintaan. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan, mengapa masalah yang sama terus menjadi sumber pertengkaran? Ternyata, ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan kondisi tersebut. Simak selengkapnya berikut ini!

1. Masalah tidak sepenuhnya terselesaikan

ilustrasi menghadapi permasalahan hidup (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Jika argumen yang sama terus muncul dalam sebuah pertengkaran, kemungkinan masalah tersebut belum benar-benar menemukan solusi hingga ke akarnya. Bisa saja solusi sudah ditemukan, tetapi salah satu atau kedua pihak masih kesulitan menerapkan perubahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Menurut Katherine Cullen, psikoterapis dan penulis, dilansir Psychology Today, pertengkaran yang terus berulang dapat terjadi karena pihak-pihak yang terlibat belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan itu. “Apabila argumen atau pertengkaran yang sama terus terjadi, kemungkinan besar kamu dan orang-orang yang terlibat belum menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” ungkapnya.

2. Kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi

ilustrasi realita yang tidak sesuai ekspektasi (pexels.com/Renan Lima)

Dalam hubungan sosial, setiap orang memiliki ekspektasi terhadap bagaimana orang lain seharusnya bersikap. Ekspektasi tersebut dapat terbentuk dari nilai-nilai, norma, pengalaman keluarga, budaya, hingga keyakinan yang dimiliki seseorang. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, perbedaan tersebut dapat memicu kekecewaan dan berujung pada pertengkaran.

Katherine juga menjelaskan bahwa pertengkaran yang berulang dapat menjadi tanda bahwa ekspektasi seseorang terhadap hubungan belum terpenuhi. Ketika seseorang terus berharap orang lain bertindak sesuai dengan keinginannya tanpa adanya komunikasi dan penyesuaian dari kedua pihak, masalah yang sama pun berpotensi kembali muncul.

3. Salah satu pihak menarik diri dari penyelesaian

ilustrasi menarik diri (pexels.com/RDNE Stock project)

Pola “menuntut-menarik diri” juga dapat membuat pertengkaran yang sama terus berulang. Dalam kondisi ini, satu pihak berusaha mendekat dan menyelesaikan konflik dengan segera, sementara pihak lainnya justru menjauh, memilih diam, menghindar, atau meninggalkan pembicaraan. Perbedaan cara menghadapi konflik tersebut akhirnya membuat kedua pihak semakin sulit menemukan titik temu.

“Satu pasangan mendorong, yang lain menjauh. Satu menjadi lebih vokal, yang lain menutup diri. Itulah yang membuat siklus terus berputar,” ucap Sophia Dahan, psikoterapis terdaftar, dikutip dari True North Wellness Therapy. Jika pola tersebut terus terjadi tanpa adanya usaha untuk memahami cara masing-masing dalam menghadapi konflik, pertengkaran yang sama akan lebih mudah terulang.

4. Kurangnya koneksi emosional

ilustrasi gak ada koneksi emosional (pexels.com/Kiran KR)

Kedekatan emosional menjadi salah satu bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat. Ketika seseorang merasa tidak dipahami, dihargai, atau didengarkan, jarak emosional dapat terbentuk dan membuat masalah kecil sekalipun lebih mudah berkembang menjadi pertengkaran.

“Banyak pertengkaran berakar dari perasaan yang lebih dalam seperti merasa tidak dipahami, tidak dihargai, atau terpisah secara emosional. Ketika empati hilang, kemampuan untuk benar-benar mendengarkan dan menanggapi kebutuhan satu sama lain juga hilang,” tambah Sophia.

Pada akhirnya, pertengkaran yang terus berulang bukan hanya menunjukkan adanya masalah dalam hubungan, tetapi juga bisa menjadi tanda bahwa persoalan tersebut belum benar-benar dipahami dan diselesaikan. Oleh karena itu, penting bagi kedua pihak untuk berkomunikasi secara terbuka, memahami kebutuhan satu sama lain, serta mencari solusi yang dapat diterapkan bersama agar masalah serupa tidak terus menjadi sumber pertengkaran.

Curated For You

Editorial Team

Related Article