Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Parasocial Relationship Bisa Pengaruhi Cara Kamu Melihat Diri
ilustrasi model perempuan (pexels.com/Tuấn Kiệt Jr.)
  • Hubungan parasosial membuat idola menjadi standar pembanding, sehingga seseorang berisiko menilai pencapaian, gaya hidup, dan dirinya berdasarkan versi terbaik yang tampil di media.
  • Kekaguman berlebihan dapat memengaruhi identitas pribadi dan membuat nilai diri bergantung pada perhatian idola, sehingga kepercayaan diri serta suasana hati lebih mudah terdampak.
  • Paparan pencapaian dan penampilan tokoh publik dapat membuat perjalanan pribadi terasa kurang berarti serta memicu standar fisik ideal yang memperbesar rasa kurang terhadap diri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hubungan satu arah dengan tokoh publik, kreator konten, atau karakter fiksi dapat terasa jauh lebih dekat daripada yang disadari. Interaksi yang rutin melalui media sosial, tayangan, dan berbagai konten membuat seseorang merasa mengenal sosok tersebut secara personal. Tanpa disadari, kedekatan semu ini dapat memengaruhi cara seseorang menilai kepribadian, penampilan, pencapaian, hingga nilai dirinya sendiri.

Pengaruh tersebut semakin kuat ketika sosok yang dikagumi menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Cara berpakaian, gaya hidup, pendapat, dan pencapaian mereka dapat menjadi standar pembanding yang terus muncul dalam pikiran. Karena itu, penting memahami bagaimana parasocial relationship dapat memengaruhi cara melihat diri sendiri agar hubungan dengan tokoh yang dikagumi tetap sehat.

1. Sosok idola menjadi standar pembanding

ilustrasi menggunakan laptop (pexels.com/Keira Burton)

Ketika seseorang terlalu dekat secara emosional dengan tokoh yang dikagumi, kehidupan sosok tersebut dapat menjadi tolok ukur pribadi. Pencapaian karier, penampilan, gaya hidup, atau kemampuan tertentu yang ditampilkan di depan publik sering terlihat seperti gambaran kehidupan ideal. Akibatnya, seseorang dapat mulai menilai dirinya berdasarkan seberapa jauh ia merasa mampu menyamai sosok tersebut.

Masalahnya, kehidupan yang terlihat di media sosial biasanya hanya menampilkan bagian tertentu dari realitas. Seseorang mungkin membandingkan seluruh kehidupannya dengan versi terbaik yang ditampilkan oleh tokoh idolanya. Jika perbandingan tersebut terus terjadi, rasa kurang terhadap diri sendiri dapat muncul meskipun sebenarnya setiap orang memiliki perjalanan dan kondisi yang berbeda.

2. Identitas pribadi mulai mengikuti sosok yang dikagumi

ilustrasi pria percaya diri (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Kekaguman yang sangat kuat dapat memengaruhi cara seseorang membentuk identitas pribadinya. Gaya berpakaian, cara berbicara, pilihan hiburan, sampai pandangan tertentu dapat perlahan mengikuti sosok yang sering dikagumi. Pada tahap tertentu, seseorang dapat merasa lebih nyaman ketika dirinya memiliki kemiripan dengan tokoh tersebut.

Meniru hal positif sebenarnya merupakan bagian wajar dari proses menemukan jati diri. Namun, masalah dapat muncul ketika seseorang mulai kesulitan membedakan keinginan pribadi dengan pengaruh dari sosok yang dikagumi. Jika terlalu bergantung pada identitas orang lain, rasa percaya diri dapat ikut melemah saat merasa gak mampu mencapai standar yang sama.

3. Validasi dari idola terasa seperti validasi diri

ilustrasi model pakaian muslim (pexels.com/Edmond Dantès)

Bagi sebagian orang, perhatian dari tokoh yang dikagumi dapat terasa sangat berarti secara emosional. Komentar, balasan, atau sekadar pengakuan dari sosok tersebut dapat memberikan rasa senang yang besar. Pengalaman seperti ini dapat membuat seseorang mulai menghubungkan nilai dirinya dengan seberapa jauh ia merasa diperhatikan oleh tokoh yang dikagumi.

Ketergantungan pada validasi semacam itu dapat membuat suasana hati lebih mudah berubah. Ketika mendapat perhatian, seseorang merasa lebih berharga, tetapi ketika diabaikan, rasa kecewa dapat muncul secara berlebihan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat penilaian terhadap diri sendiri terlalu bergantung pada respons dari sosok yang sebenarnya gak memiliki hubungan dua arah secara nyata.

4. Pencapaian tokoh lain terasa seperti ukuran keberhasilan

ilustrasi model perempuan (pexels.com/Jaqor Q.I.)

Tokoh publik sering menampilkan pencapaian besar yang terlihat menarik dan menginspirasi. Kesuksesan tersebut dapat membuat seseorang merasa terdorong untuk berkembang dan mengejar tujuan pribadi. Namun jika terlalu sering membandingkan diri, pencapaian orang lain justru dapat membuat perjalanan pribadi terasa lambat dan kurang berarti.

Perasaan tersebut dapat semakin kuat ketika seseorang melihat sosok yang dikagumi mencapai banyak hal dalam waktu singkat. Padahal, proses di balik kesuksesan tersebut belum tentu terlihat secara utuh oleh publik. Jika hanya melihat hasil akhirnya, seseorang dapat melupakan bahwa dirinya juga memiliki perkembangan yang layak dihargai.

5. Pandangan terhadap penampilan ikut berubah

Ilustrasi model rambut side part (freepik.com/Holiak)

Parasocial relationship juga dapat memengaruhi cara seseorang melihat penampilan dan kondisi fisiknya sendiri. Sosok yang dikagumi sering tampil dengan gaya, bentuk tubuh, atau standar visual tertentu yang dianggap menarik oleh banyak orang. Paparan berulang terhadap gambaran tersebut dapat membuat seseorang secara gak sadar menjadikannya sebagai standar pribadi.

Akibatnya, kekurangan kecil pada diri sendiri dapat terasa lebih besar dibanding sebelumnya. Seseorang mungkin mulai merasa perlu mengubah penampilan agar terlihat lebih dekat dengan gambaran ideal yang sering dilihat. Padahal, daya tarik dan nilai seseorang gak seharusnya hanya ditentukan oleh kemiripan dengan tokoh yang dikagumi.

Parasocial relationship memang dapat memberikan hiburan, inspirasi, dan rasa terhubung dengan sosok yang dikagumi. Namun, hubungan satu arah tersebut juga perlu dijaga agar gak mengubah cara seseorang menilai dirinya secara berlebihan. Mengagumi orang lain tetap bisa dilakukan tanpa kehilangan identitas, menghargai perjalanan pribadi, dan menerima diri sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article