Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pola Trauma Bonding, Kenapa Kamu Selalu Kembali ke Dia?

Pola Trauma Bonding, Kenapa Kamu Selalu Kembali ke Dia?
ilustrasi trauma bonding (pexels.com/SHVETS production)
Intinya Sih
  • Trauma bonding membuat otak mengaitkan rasa sakit dengan imbalan emosional.

  • Kenangan awal dan rasa takut kehilangan membuat kamu terus bertahan.

  • Keluar dari hubungan ini butuh waktu, dukungan, dan proses pemulihan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernah sadar bahwa kamu sudah terluka berkali-kali oleh orang yang sama, tapi tetap tidak bisa pergi? Hal tersebut terjadi bukan karena kamu lemah atau tidak punya harga diri. Ada sesuatu yang terjadi di dalam otak dan tubuhmu yang membuat ikatan itu terasa lebih kuat dari logika mana pun. Fenomena ini bernama trauma bonding. Berikut penjelasan kenapa ini bisa terjadi padamu.

1. Otak kamu salah mengartikan rasa sakit sebagai bukti cinta

ilustrasi trauma bonding
ilustrasi trauma bonding (pexels.com/Kampus Production)

Setiap kali hubungan kamu naik turun, misal marah, baikan, mesra, menyakitkan lagi, otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar tepat pada momen rekonsiliasi itu. Dopamin merupakan zat kimia sama yang bekerja saat seseorang kecanduan sesuatu. Siklus ini mengajarkan otakmu bahwa rasa sakit jadi bagian dari proses menuju kebahagiaan. Makin dalam lukanya, makin besar "hadiah" yang dirasakan saat baikan.

Lama-kelamaan, otak tidak lagi bisa membedakan mana hubungan yang sehat dan yang berbahaya. Kamu tetap kembali bukan karena cinta itu nyata dalam artian sehat, melainkan karena sistem penghargaan di otakmu sudah terkondisi untuk menunggu momen manis setelah badai. Tubuhmu secara harfiah sudah kecanduan siklus itu dan butuh lebih dari sekadar niat untuk memutusnya.

2. Fase idealisme pada awal hubungan meninggalkan jejak yang susah dihapus

ilustrasi trauma bonding
ilustrasi trauma bonding (pexels.com/SHVETS production)

Trauma bonding hampir selalu dimulai dari fase yang terasa luar biasa indah awalnya. Pada fase ini, pasanganmu memberikan perhatian berlebih, terasa seperti orang paling pengertian di dunia. Lantas, kamu merasa akhirnya menemukan seseorang yang benar-benar "melihat" kamu. Kenangan dari fase ini yang kemudian jadi alasan kamu terus bertahan. Itu karena kamu terus mengejar versi dia yang pernah ada pada awal itu.

Masalahnya, versi itu mungkin memang tidak pernah nyata sepenuhnya. Fase awal yang intens itu dalam banyak kasus merupakan cara sadar atau tidak untuk membangun ketergantungan emosional sebelum perilaku menyakitkan mulai muncul. Otakmu sudah telanjur menyimpan memori indah itu sebagai referensi. Setiap kali dia kembali baik, kamu merasa bukti itu nyata. Padahal, yang terjadi hanya siklus yang berulang.

3. Rasa takut kehilangan terasa lebih nyata daripada rasa sakit yang sudah ada

ilustrasi trauma bonding
ilustrasi trauma bonding (pexels.com/Polina Zimmerman)

Salah satu hal yang paling membingungkan dari trauma bonding ialah betapa takutnya kamu kehilangan seseorang yang sudah menyakitimu. Ketakutan ini bukan tidak rasional sepenuhnya sebab otak manusia memang dirancang untuk lebih takut kehilangan daripada mengejar keuntungan baru. Dalam konteks hubungan yang penuh tekanan, rasa takut ini makin diperparah karena kamu sudah menginvestasikan begitu banyak waktu, energi, dan emosi ke dalamnya.

Ada juga faktor yang disebut sunk cost fallacy. Kamu merasa sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang. Pikiran seperti, "Sudah bertahan selama ini, kok sekarang menyerah?" menjadi alasan yang terasa masuk akal. Padahal, ini sebenarnya memperpanjang situasi yang merugikan. Rasa takut itu juga sering diperparah oleh isolasi dari lingkungan sosial yang terjadi perlahan selama hubungan berlangsung. Hal tersebut membuat dia terasa seperti satu-satunya yang kamu punya.

4. Korban trauma bonding sering tidak sadar bahwa dirinya sedang terjebak

ilustrasi trauma bonding
ilustrasi trauma bonding (pexels.com/Mikhail Nilov)

Trauma bonding tidak selalu terjadi dalam hubungan yang secara kasatmata terlihat buruk. Banyak yang mengalaminya dalam hubungan yang dari luar tampak normal, bahkan romantis. Kamu mungkin tidak pernah dipukul atau dihina secara kasar. Namun, kamu tetap merasa berjalan di atas kulit telur setiap hari. Perasaan cemas saat dia tidak membalas pesan, lega berlebihan saat dia bersikap baik, dan mati rasa saat diperlakukan buruk merupakan tanda-tanda yang sering diabaikan karena dianggap wajar.

Normalisasi inilah yang membuat trauma bonding sangat sulit dikenali dari dalam. Orang-orang di sekitarmu mungkin sudah melihat sesuatu yang kamu tidak bisa lihat. Kamu mungkin sudah berkali-kali menjelaskan dan membela perilaku pasanganmu kepada mereka. Ini bukan karena kamu tidak cerdas, melainkan karena ikatan yang terbentuk dari trauma bekerja persis seperti kacamata yang memfilter realitas sebelum sampai ke kesadaranmu.

5. Keluar dari trauma bonding butuh lebih dari sekadar keputusan untuk pergi

ilustrasi trauma bonding
ilustrasi trauma bonding (pexels.com/RDNE Stock project)

Banyak yang mengira cukup memutuskan untuk pergi dan semuanya akan selesai. Kenyataannya, putus dari hubungan yang mengandung trauma bonding terasa seperti gejala putus obat. Tubuhmu kehilangan sumber dopamin yang sudah diandalkan dan itu menimbulkan rasa sakit fisik, kecemasan, bahkan kepanikan. Itulah kenapa banyak orang kembali bukan karena tidak mau pergi, melainkan karena rasa sakitnya terasa tidak tertahankan.

Proses keluarnya membutuhkan waktu, dukungan, dan sering kali bantuan profesional untuk benar-benar memutus siklus itu. Tak berkontak bukan sekadar tren di media sosial, melainkan secara ilmiah memang dibutuhkan agar otak punya kesempatan untuk detoks dari siklus dopamin yang terbentuk selama hubungan. Semakin lama hubungan berlangsung, semakin panjang waktu yang dibutuhkan otak untuk kembali ke kondisi normalnya.

Trauma bonding bukan tanda bahwa kamu bodoh atau tidak berharga. Ini respons biologis yang bisa terjadi pada siapa saja dalam kondisi yang tepat. Namun, mengenalinya merupakan langkah pertama yang tidak bisa kamu lewati. Kalau kamu merasa pola ini familiar, mungkin sudah waktunya berhenti bertanya kenapa kamu tidak bisa pergi dan mulai bertanya bantuan apa yang kamu butuhkan untuk bisa pergi.

Referensi
"The Complete Guide to Trauma Bonding". Annie Wright. Diakses April 2026.
"Trauma bonding – why you can’t stop loving the narcissist". Broxtowe Women's Project. Diakses April 2026.
"Why Can't I Leave? Understanding Trauma Bonding & How to Heal". Frontier. Diakses April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us