Mengenal Fotofobia, Penyebab Rasa Sakit pada Mata saat Melihat Cahaya

Fotofobia adalah kondisi ketika mata menjadi sangat sensitif terhadap cahaya sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman hingga nyeri. Kondisi ini bisa bersifat sementara maupun permanen, tergantung penyebab yang mendasarinya.
Penyebab fotofobia beragam, mulai dari kelelahan mata akibat penggunaan layar hingga gangguan medis, seperti migrain atau kelainan mata. Gejalanya meliputi mata perih, silau berlebihan, dan kesulitan berada di tempat terang.
Dampak fotofobia dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama jika sensitivitas cahaya cukup tinggi. Penanganannya meliputi mengurangi paparan cahaya, menggunakan pelindung mata, dan berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis yang tepat.
Mau itu sesaat setelah bangun tidur ataupun sehabis bergadang semalaman, kamu mungkin pernah merasakan sensasi terbakar atau sakit pada mata ketika melihat Matahari. Akibatnya, tatapan pagi hari yang seharusnya menyegarkan tersebut berubah jadi rasa sakit yang tak tertahankan. Sampai-sampai, ini membuatmu secara otomatis ingin masuk lagi ke dalam rumah atau kamar.
Selain itu, kamu juga mungkin pernah merasa tak nyaman ketika terpapar cahaya, baik itu dari sinar Matahari ataupun lampu dan layar kaca. Ternyata, dalam dunia medis, salah satu hal yang menyebabkan kondisi tersebut muncul adalah photophobia atau fotofobia. Pemicu fotofobia terbilang beragam, termasuk dampak-dampak yang ditimbulkan setelahnya. Untuk itu, yuk, kita bahas tuntas tentang fotofobia, termasuk cara mengatasinya! Tentu kamu tak ingin terus-terusan merasakan sensasi terbakar sekaligus dampak buruk yang disebabkan dari kondisi medis ini, kan? Tanpa basa-basi lagi, langsung gulir layarmu ke bawah, ya!
1. Apa itu fotofobia?

Kata fotofobia itu berarti 'takut pada cahaya'. Berdasarkan definisi secara medis, Cleveland Clinic melansir kalau fotofobia merupakan kondisi ketika mata seseorang jadi sangat sensitif terhadap cahaya. Alhasil, begitu ada cahaya yang diterima, sensasi tak nyaman sampai perih langsung dirasakan oleh pengidapnya.
Orang yang dikonfirmasi memiliki fotofobia atau sensitivitas terhadap cahaya sering diasosiasikan dengan beberapa masalah medis. Namun, masalah tersebut ada yang bersifat sementara karena adanya pelebaran pupil mata dan ada pula yang bersifat jangka panjang sampai permanen. Kedua sifat itu tentu punya gejala dan dampak yang berbeda bagi pengidapnya yang penting untuk kita ketahui agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
2. Penyebab munculnya fotofobia

Untuk fotofobia yang bersifat sementara, fotofobia muncul karena efek okular (berkaitan dengan mata secara langsung) yang berujung pada kelelahan mata (eyestrain). Dilansir Mayo Clinic, pemicu hal tersebut ialah penggunaan layar digital, membaca, sampai melakukan berbagai aktivitas lain yang berkaitan dengan indra penglihatan dalam waktu lama tanpa istirahat. Untungnya, kondisi fotofobia yang mengakibatkan kelelahan mata terbilang lebih mudah untuk diatasi dan tidak berlangsung dalam waktu panjang.
Di sisi lain, fotofobia yang timbul akibat masalah saraf, kondisi bawaan lahir, ataupun efek samping obat-obatan bisa mengakibatkan beberapa masalah mata yang berbeda. Sebagai contoh, ada mata kering yang sering diasosiasikan dengan fotofobia, albinisme, aniridia (kondisi genetik saat tak adanya sebagian atau seluruh iris mata), penyakit pada kornea, eksotropia, papiledema, retinitis pigmentosa, blefarospasma, sampai sakit kepala sebelah atau migrain. Tanda-tanda seseorang mengalami fotofobia bisa diamati dengan beberapa hal, misalnya mulai sering mengernyitkan mata saat terpapar cahaya, tak bisa keluar saat siang hari tanpa kacamata, tidak nyaman di ruangan yang terang, sampai kurang nyaman dengan layar gawai yang terlalu cerah.
3. Dampak yang ditimbulkan oleh fotofobia

Kalau fotofobia muncul akibat kelelahan mata, dampaknya terbilang lebih ringan. Biasanya, dampak yang dirasakan penderita hanya sebatas mata terasa lelah, sakit, terbakar, gatal, kering, dan penglihatan jadi kabur. Selain itu, kadang-kadang kelelahan mata juga memicu pegal di area leher, pundak, atau punggung, susah berkonsentrasi, dan sulit membuka mata.
Dilansir All About Vision, kasus serius dari fotofobia menyebabkan masalah yang kurang mengenakan ketika penderita melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika mata terpapar sinar Matahari secara langsung, bisa saja ada rasa sakit dan tak nyaman, baik pada bagian mata yang terpapar cahaya ataupun yang tidak. Soal seberapa rasa sakit dan tak nyaman itu terjadi tergantung pada tingkat sensitivitas cahaya yang dimiliki oleh seorang pengidap fotofobia.
Ketika rasa sakit, tak nyaman, sampai sangat sensitif pada cahaya itu semakin mengganggu, ada baiknya untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata. Dengan demikian, pengidap fotofobia dapat diberikan penanganan yang tepat agar dampak-dampak yang sebelumnya disebutkan itu segera teratasi. Namun, tentunya ada baiknya bagi kita untuk mengetahui beberapa cara mengatasi fotofobia, baik sebelum mengalaminya ataupun ketika masih dalam tahap yang ringan.
4. Cara mengatasi fotofobia

Sebenarnya, mengatasi fotofobia itu tetap perlu diagnosis awal dari dokter spesialis mata agar sesuai dengan kondisi tubuh. Namun, secara umum, dokter biasanya menyarankan untuk mengenakan kacamata atau lensa kontak khusus, obat tetes mata, sampai menyarankan agar menghindari penyebab mata mengalami fotofobia, dilansir Cleveland Clinic. Selain itu, ada pula beberapa penanganan lanjutan yang dapat dilakukan di rumah setelah mendapat pemeriksaan dari dokter.
Penderita bisa lebih banyak memandang cahaya alami, menggunakan lampu yang lebih redup, mengontrol durasi dan tingkat kecerahan ketika melihat layar kaca atau gawai, sampai menggunakan pelembap mata agar tidak kering. Sayangnya, disebutkan kalau sejauh ini belum ada cara pasti untuk menghindari fotofobia. Karena itu, mengenali apa saja aktivitas yang berpotensi merusak mata dan rutin melakukan pemeriksaan ke dokter jadi langkah terbaik untuk mencegah atau mendeteksi fotofobia sedini mungkin.
Sebenarnya, gejala fotofobia bisa saja hilang kalau penyakit khusus yang memicunya sudah diobati sampai tuntas. Namun, kalau fotofobia muncul disebabkan oleh kelainan bawaan atau kekurangan pigmentasi, masalah ini akan terus ada pada tubuh secara permanen. Untungnya, dengan penanganan yang tepat, dampak yang ditimbulkan masih dapat ditekan agar pasien tetap dapat menjalani keseharian dengan nyaman.
Referensi
"Eyestrain". Mayo Clinic. Diakses April 2026.
"Photophobia". Cleveland Clinic. Diakses April 2026.
"Photophobia (Light Sensitivity)". All About Vision. Diakses April 2026.




![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Member BABYMONSTER?](https://image.idntimes.com/post/20240418/kuis-tebak-member-babymonster-92dc8b319e6e3791bcd0e60ebf2acf48.jpg)


![[QUIZ] Seberapa Open-Minded Kamu? Kuis Ini Bisa Mengungkapnya](https://image.idntimes.com/post/20260111/pexels-rdne-8419498_22c7c2dd-f0dd-4b57-97ca-1c22e755c10b.jpg)








![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Member SEVENTEEN?](https://image.idntimes.com/post/20251013/20251013_105120_2ea798d2-7b58-4045-98f4-317c5baf6f4b.jpg)

![[QUIZ] Mitos atau Fakta? Tes Pengetahuan Menjemur Bayi](https://image.idntimes.com/post/20260406/upload_d35c8d0716c5f191c926d5e5e4849238_6a141361-3a45-4997-9729-3f454aaffcbc.jpg)