Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi kesepian (pexels.com/Muhamad Lutfi)

Punya banyak teman, aktif di grup percakapan, sering menghadiri acara bersama, bahkan rutin bertukar komentar di media sosial ternyata tidak selalu membuat seseorang merasa dekat dengan orang lain. Benar demikian? Ada kalanya kamu tertawa bersama teman-teman, tetapi ketika pulang ke rumah, muncul perasaan kosong karena tidak memiliki seseorang yang benar-benar bisa diajak berbagi cerita.

Kamu mungkin mengenal banyak orang, tetapi masih kesulitan menemukan sosok yang bisa memahami perasaanmu tanpa membuatmu takut dihakimi. Lantas, bagaimana cara membangun koneksi yang lebih bermakna tanpa harus memiliki lingkaran pertemanan yang besar?

1. Berhenti mengukur kedekatan dari banyaknya teman

ilustrasi pertemanan (pexels.com/Helena Lopes)

Memiliki banyak teman memang menyenangkan, tetapi jumlah pertemanan tidak selalu mencerminkan kedekatan emosional. Kamu bisa mengenal banyak orang dari kantor, kampus, komunitas, atau media sosial tanpa memiliki seseorang yang benar-benar mengetahui apa yang sedang kamu hadapi. Sebaliknya, memiliki dua atau tiga teman dekat yang bisa dipercaya terkadang terasa lebih menenangkan.

Hal ini sejalan dengan laporan Our Epidemic of Loneliness and Isolation yang diterbitkan oleh U.S. Surgeon General pada 2023. Laporan tersebut menjelaskan bahwa koneksi sosial tidak hanya ditentukan oleh struktur hubungan, seperti jumlah teman dan frekuensi pertemuan, tetapi juga oleh fungsi hubungan dan kualitas interaksi.

"Koneksi kita dengan orang lain dan komunitas juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal, lingkungan digital, sekolah, dan tempat kerja kita. Koneksi sosial yang mencakup struktur, fungsi, dan kualitas hubungan kita dengan orang lain, merupakan faktor penting namun sering kali kurang dihargai kontribusinya terhadap kesehatan individu maupun populasi, serta terhadap keamanan, ketahanan, dan kesejahteraan komunitas," demikian laporannya dikutip dari National Library of Medicine.

Coba evaluasi kembali pertemanan yang kamu miliki. Siapa orang yang membuatmu nyaman bercerita tanpa harus berpura-pura baik-baik saja? Siapa yang tetap menghargaimu ketika pendapat kalian berbeda? Kamu tidak perlu menjauh dari teman-teman lainnya, tetapi mulailah memberikan lebih banyak waktu kepada hubungan yang terasa tulus dan saling mendukung. Fokusnya bukan mengurangi jumlah teman, melainkan membangun kedekatan yang lebih berkualitas.

2. Berani membuka diri, sedikit demi sedikit

Ilustrasi pertemanan ( unsplash.com/Connor)

Salah satu alasan seseorang sulit merasa dekat dengan orang lain adalah kebiasaan menyembunyikan perasaan. Kamu mungkin terbiasa menjadi teman yang selalu ceria, mendengarkan masalah orang lain, dan memberikan dukungan, tetapi merasa canggung ketika harus menceritakan kesulitan sendiri.

Ada kekhawatiran bahwa orang lain akan menganggapmu lemah, menghakimi pilihanmu, atau tidak lagi melihatmu sebagai sosok yang selama ini mereka kenal. Membangun koneksi yang bermakna membutuhkan keberanian untuk menunjukkan sisi diri yang lebih autentik. Kamu tidak harus langsung menceritakan pengalaman paling pribadi kepada seseorang yang baru dikenal.

Mulailah dengan hal sederhana, seperti mengakui bahwa kamu sedang lelah, menceritakan kekhawatiran tentang pekerjaan, atau mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini kamu merasa membutuhkan teman bicara. Perhatikan responsnya, apakah ia mendengarkan, menghormati ceritamu, dan menjaga kepercayaan yang kamu berikan.

3. Hadir sepenuhnya saat menghabiskan waktu bersama

Ilustrasi pertemanan ( unsplash.com/Matheus)

Pernahkah kamu bertemu teman selama berjam-jam, tetapi sebagian besar waktu justru dihabiskan untuk memeriksa ponsel, membalas pesan, atau menggulir media sosial? Secara fisik, kalian memang bersama, tetapi perhatian terbagi ke banyak hal.

Akibatnya, pertemuan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan malah terasa seperti aktivitas rutin tanpa percakapan yang benar-benar berkesan. Jadi kamu bisa menyimpan ponsel ketika sedang berbicara, mengajukan pertanyaan lanjutan, atau mendengarkan cerita teman tanpa terburu-buru mengalihkan pembicaraan kepada pengalamanmu sendiri.

Kamu juga bisa menciptakan momen kebersamaan yang lebih personal. Ajak teman ngobrol santai, memasak bersama, minum kopi sambil berbincang, atau melakukan hobi yang kalian sukai. Tidak semua pertemuan harus diisi pembicaraan serius tentang kehidupan. Tertawa bersama, saling membantu, dan menikmati kegiatan sederhana juga bisa memperkuat hubungan.

4. Jangan hanya menunggu dihubungi, mulailah mengambil inisiatif

Ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Olga Serjantu)

Ketika merasa kesepian, kamu mungkin berharap seseorang menyadari perubahan suasana hatimu dan menghubungi lebih dahulu. Saat tidak ada pesan yang masuk, muncul pikiran bahwa teman-temanmu tidak peduli atau tidak menganggapmu penting.

Padahal, mereka bisa saja sedang sibuk dengan pekerjaan, keluarga, atau masalah pribadi. Tidak semua orang menyadari bahwa kamu sedang membutuhkan teman, terutama jika selama ini kamu jarang mengungkapkannya. Cobalah mengambil inisiatif untuk membangun kembali hubungan.

Kirim pesan sederhana kepada teman lama, tanyakan kabarnya, atau ajak seseorang bertemu tanpa harus menunggu momen khusus. Kamu juga bisa bergabung dengan komunitas yang sesuai dengan minat, seperti kelompok olahraga, kelas memasak, klub membaca, atau kegiatan sukarela.

5. Bangun hubungan yang saling mendukung, bukan sekadar mengisi kesepian

Ilustrasi pertemanan (unsplash.com/NONRESIDENT)

Ketika merasa kesepian, ada kalanya seseorang bertahan dalam pertemanan yang melelahkan karena takut kehilangan satu-satunya lingkaran sosial yang dimiliki. Kamu mungkin selalu menjadi pendengar bagi teman, tetapi tidak pernah mendapat kesempatan untuk menceritakan masalah sendiri.

Koneksi yang bermakna tidak harus selalu seimbang dalam setiap percakapan atau setiap hari. Ada masa ketika satu orang membutuhkan lebih banyak dukungan daripada yang lain. Namun, dalam jangka panjang, hubungan yang sehat memberi ruang bagi kedua pihak untuk didengarkan, dihargai, dan menjadi diri sendiri.

Kamu boleh meminta bantuan ketika sedang kesulitan, mengatakan tidak ketika kelelahan, dan mengungkapkan ketidaknyamanan tanpa harus selalu takut ditinggalkan. Mulailah dengan memperhatikan bagaimana perasaanmu setelah berinteraksi dengan orang lain.

Apakah kamu merasa lebih tenang dan diterima, atau justru terus merasa harus membuktikan diri agar disukai? Gunakan jawaban tersebut untuk memahami hubungan mana yang perlu dirawat, diperbaiki, atau diberi jarak. Jika rasa kesepian berlangsung lama, memengaruhi aktivitas sehari-hari, atau disertai kesedihan dan kecemasan yang berat, berbicara dengan psikolog juga bisa membantu.

Punya banyak teman tetapi tetap merasa kesepian bukanlah sesuatu yang perlu membuatmu malu. Kamu tidak harus menjadi orang paling populer, selalu hadir di setiap acara, atau memiliki ratusan teman untuk merasakan kedekatan yang sesungguhnya. Mulailah dengan mengenali kebutuhan emosionalmu, berani membuka diri kepada orang yang tepat, memberikan perhatian penuh ketika bersama orang lain, dan mengambil inisiatif untuk membangun hubungan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article