Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Putus Nyambung Dianggap Romantis bagi Sebagian Orang?
ilustrasi pasangan yang sedang bersedih (pexels.com/rdne)
  • Rasa rindu pada rutinitas yang akrab, kenangan indah yang menutupi konflik, serta ikatan dopamin dan oksitosin membuat balikan kerap disalahartikan sebagai cinta sejati.
  • Harapan bahwa kesempatan kedua akan memperbaiki hubungan dan rasa sepi setelah putus membuat mantan terasa sebagai solusi cepat, meski belum tentu didasari kecocokan.
  • Film, lagu, dan novel membingkai putus-nyambung sebagai kisah romantis, padahal penelitian menyebut kepuasannya cenderung lebih rendah dibanding hubungan stabil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Putus lalu balikan sering digambarkan sebagai kisah cinta yang dramatis dan romantis. Film, serial, hingga lagu populer pun kerap menampilkan pasangan yang kembali bersama setelah melewati berbagai konflik, sehingga hubungan putus-nyambung dianggap sebagai bukti cinta sejati. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa keinginan kembali kepada mantan dipengaruhi oleh berbagai faktor, bukan sekadar cinta.

Fenomena on-again, off-again relationship juga tergolong cukup umum terjadi. Berbagai studi menunjukkan bahwa hubungan ini dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, hingga kebutuhan emosional. Lantas, mengapa putus-nyambung dianggap romantis oleh sebagian orang? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

1. Rasa rindu terhadap hubungan yang sudah terasa akrab sering disalahartikan

ilustrasi pasangan berdebat (pexels.com/budgeronbach)

Setelah putus, banyak orang merindukan rutinitas yang dulu dijalani bersama pasangan, seperti mengobrol atau berbagi cerita setiap hari. Rasa kehilangan ini sering membuat mereka mengira masih sangat mencintai mantannya. Padahal, yang dirindukan belum tentu orangnya, melainkan kenyamanan dari hubungan yang sudah terasa akrab.

Karena sudah saling mengenal, kembali kepada mantan juga terasa lebih mudah daripada memulai hubungan baru dari awal. Rasa nyaman tersebut kemudian sering disalahartikan sebagai tanda bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Inilah yang membuat hubungan putus-nyambung kerap dianggap romantis oleh sebagian orang.

“Kita sangat terikat pada hal-hal yang terasa akrab dan memberikan rasa nyaman karena sudah kita kenal,” ujar Estepha Francisque, LCSW, LISW, terapis dan Executive Director of Forward Ethos Counseling, dikutip dari Bustle.

2. Kenangan indah membuat masa lalu terlihat lebih sempurna daripada kenyataannya

ilustrasi pasangan sedang berdiskusi (pexels.com/gustavo-fring)

Semakin lama berpisah, seseorang cenderung lebih mengingat momen-momen bahagia bersama mantan daripada konflik yang pernah terjadi. Seiring waktu, rasa kecewa dan alasan putus pun perlahan memudar dari ingatan. Akibatnya, hubungan masa lalu terlihat lebih indah daripada kenyataannya.

Kondisi ini membuat banyak orang yakin bahwa balikan akan mengembalikan kebahagiaan yang pernah dirasakan. Mereka memandang hubungan lama melalui "kacamata merah muda", sehingga masalah yang dulu menyebabkan perpisahan terasa tidak lagi penting.

“Sangat mudah meromantisasi sesuatu ketika sudah ada jarak atau waktu telah berlalu. Kita bisa melupakan berbagai detail yang dulu justru membuat kita kehilangan ketertarikan,” ujar Steven Reigns, MA, psikoterapis berlisensi dan Founder of Therapy For Adults, dikutip dari Bustle.

3. Otak memang membuat kita sulit benar-benar melupakan mantan

ilustrasi pasangan sedang berdiskusi (pexels.com/pavel-danilyuk)

Keinginan kembali kepada mantan juga dipengaruhi oleh cara kerja otak. Saat jatuh cinta, otak melepaskan dopamin dan oksitosin yang memunculkan rasa senang, nyaman, serta keterikatan emosional. Setelah putus, efek kedua zat kimia tersebut tidak langsung hilang.

"Meskipun kita mungkin mengalami banyak rasa sakit dalam hubungan tersebut, bagian otak kita yang paling primitive yang berfungsi untuk mempertahankan hidup, justru membuat kita enggan keluar dan mencoba sesuatu yang baru," jelas Francisque.

Akibatnya, seseorang masih merasa memiliki ikatan yang kuat dengan mantannya meski hubungan itu sebenarnya tidak sehat. Perasaan ini membuat balikan terasa seperti keputusan yang tepat, padahal sering kali hanya merupakan respons biologis terhadap kehilangan.

4. Banyak orang berharap kesempatan kedua akan memperbaiki semuanya

ilustrasi pasangan sedang berkonsultasi (pexels.com/gustavo-fring)

Tidak sedikit pasangan yang menganggap putus hanyalah jeda sebelum hubungan menjadi lebih baik. Mereka percaya perpisahan akan membuat keduanya belajar dari kesalahan dan menjadi lebih dewasa saat kembali bersama. Harapan inilah yang membuat balikan terasa seperti kesempatan kedua yang romantis.

"Kita berharap bisa mendapatkan kembali sebagian dari pengalaman itu atau menciptakan kembali perasaan-perasaan tersebut," kata Elisa Robyn, PhD, pakar hubungan yang berfokus pada transisi kehidupan, dikutip dari Bustle.

Meski begitu, harapan tersebut hanya bisa terwujud jika kedua belah pihak benar-benar berubah dan memperbaiki masalah yang pernah terjadi. Tanpa perubahan yang nyata, pasangan justru berisiko mengulang konflik yang sama. Karena itu, kesempatan kedua tidak selalu berakhir dengan hubungan yang lebih sehat.

5. Kesepian membuat balikan terasa seperti solusi tercepat

Ilustrasi kesepian (freepik.com/patty-photo)

Setelah putus, seseorang tidak hanya kehilangan pasangan, tetapi juga sosok yang selama ini menjadi teman berbagi dan sumber dukungan emosional. Rasa sepi yang muncul membuat mantan terasa sebagai orang yang paling mudah untuk dihubungi. Apalagi, keduanya sudah saling mengenal sehingga tidak perlu memulai hubungan dari awal.

"Karena manusia memiliki ketakutan untuk sendirian, dan karena ingatan kita sebenarnya tidak selalu dapat dipercaya, kita kembali kepada mantan dengan harapan bisa tetap bersama serta kembali merasa aman dan dicintai," ujar lisa Robyn.

Karena itu, balikan sering dianggap sebagai cara tercepat untuk mengatasi rasa kehilangan. Padahal, keputusan tersebut belum tentu didasari oleh kecocokan, melainkan karena belum siap menghadapi kesendirian. Rasa sepi inilah yang kerap disalahartikan sebagai tanda bahwa cinta masih begitu besar.

6. Budaya populer membuat hubungan putus-nyambung tampak seperti bukti cinta sejati

ilustrasi pasangan mendengarkan musik bersama (pexels.com/kateandreeshcheva)

Film romantis, novel, dan lagu sering menggambarkan pasangan yang berkali-kali putus lalu kembali bersama sebagai bukti cinta sejati. Alur cerita seperti ini membuat hubungan yang penuh konflik terlihat dramatis sekaligus mengharukan. Akibatnya, tidak sedikit orang menganggap hubungan putus-nyambung sebagai tanda cinta yang lebih mendalam daripada hubungan yang berjalan stabil.

Padahal, penelitian menunjukkan bahwa hubungan putus-nyambung umumnya memiliki tingkat kepuasan yang lebih rendah dibandingkan hubungan yang stabil. Hubungan seperti ini juga cenderung kurang mampu memenuhi kebutuhan emosional, keintiman, maupun rasa aman pasangan.

Jadi meskipun putus-nyambung sering dianggap romantis, kenyataannya hubungan yang sehat tetap membutuhkan komunikasi yang baik, komitmen, dan perubahan nyata, bukan sekadar terus kembali setelah berpisah. Setuju, gak

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article