ilustrasi selingkuh (pexels.com/RDNE Stock project)
Ketika seseorang menyadari bahwa perasaannya telah berkembang kepada orang lain, ia perlu menentukan sikap terhadap hubungan yang sedang dijalani. Jika hubungan tersebut memang disepakati sebagai hubungan monogami, komitmen kepada pasangan tetap harus dihormati. Ketertarikan kepada orang lain bukan sesuatu yang selalu bisa dikendalikan sejak awal, tetapi keputusan untuk terus mendekati orang tersebut, menyembunyikan hubungan, dan memberikan harapan kepada keduanya merupakan tindakan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Keputusan untuk tetap bersama pasangan juga tidak seharusnya hanya didasarkan pada rasa takut kehilangan kenyamanan yang sudah terbentuk. Begitu pula hubungan dengan orang ketiga tidak semestinya terus dipertahankan hanya karena ada perasaan yang belum selesai. Jika seseorang memang sudah tidak ingin menjalani hubungan sebelumnya, ia perlu menyampaikan hal tersebut secara jujur sebelum membangun hubungan baru. Cara ini mungkin tidak membuat semua pihak terhindar dari rasa sakit, tetapi setidaknya tidak menambah luka melalui kebohongan.
Pasangan yang dikhianati pun berhak menentukan apakah masih ingin melanjutkan hubungan setelah mengetahui kenyataan sebenarnya. Keputusan untuk memaafkan bukan kewajiban, begitu pula keputusan untuk mengakhiri hubungan tidak berarti seseorang gagal mempertahankan cinta. Pengakuan bahwa dirinya mencintai dua orang tidak boleh digunakan untuk menekan pasangan agar menerima keadaan yang sejak awal tidak pernah disepakati.
Kemampuan seseorang mencintai dua orang secara bersamaan memang bukan sesuatu yang mustahil. Akan tetapi, perasaan tersebut tidak menghapus komitmen yang sudah dibuat ketika seseorang memilih menjalani hubungan dengan pasangannya. Dalam persoalan perselingkuhan, pengakuan cinta bukan satu-satunya hal yang perlu dinilai karena kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab juga menentukan bagaimana seseorang memperlakukan orang yang dicintainya.