Dalam hubungan, memberikan semangat kepada pasangan atau orang terdekat memang bisa menjadi bentuk dukungan. Kalimat seperti “semuanya akan baik-baik saja” atau “coba lihat sisi positifnya” kadang bisa membantu seseorang melewati masa sulit. Namun, jika dorongan untuk selalu berpikir positif justru membuat seseorang tidak boleh sedih, marah, kecewa, atau mengeluh, sikap tersebut bisa berubah menjadi toxic positivity.
Toxic positivity bukan berarti seseorang terlalu bahagia atau terlalu optimistis. Masalahnya muncul ketika emosi negatif dianggap tidak boleh ada dan seseorang terus didorong untuk terlihat baik-baik saja meski sedang menghadapi masalah. Lantas, apa saja tanda toxic positivity dalam hubungan yang perlu diperhatikan?
