Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Perempuan Wajib Menabung untuk Biaya Nikah?

Apakah Perempuan Wajib Menabung untuk Biaya Nikah?
ilustrasi menabung (pexels.com/www.kaboompics.com)

Soal menikah, perempuan tidak pernah jauh dari daftar panjang hal yang harus disiapkan, termasuk soal tabungan. Tapi kalau dipikir ulang, sejak kapan tabungan nikah jadi tanggung jawab dua pihak?

Tidak semua hal yang terasa umum itu memang benar adanya. Ini bukan soal siapa yang lebih mampu, tapi soal peran yang memang sudah ada ketentuannya. Berikut beberapa hal yang perlu kamu pahami sebelum memutuskan ikut menabung untuk biaya nikah.

1. Dalam Islam, laki-laki yang menanggung biaya pernikahan

ilustrasi mahar
ilustrasi mahar (vecteezy.com/a b)

Mahar bukan sekadar simbol, itu hak penuh perempuan yang wajib ditunaikan calon suami tanpa bisa dinegosiasikan jadi urusan bersama. Nafkah pun masuk dalam tanggung jawab yang sama, mulai dari biaya akad, kehidupan setelah menikah, hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Tidak ada satu pun dalil yang mewajibkan perempuan ikut menanggung biaya pernikahan, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun. Ini bukan aturan kuno, ini justru posisi yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang dilindungi, bukan yang dibebani.

Masalahnya, standar sosial hari ini sering kali berjalan berlawanan dengan ini. Perempuan yang tidak punya tabungan nikah dianggap tidak siap, padahal siap menikah secara syariat tidak pernah diukur dari saldo rekening perempuan. Kalau kamu merasa harus kumpulkan puluhan juta supaya layak dinikahi, itu bukan standar agama yang bicara, itu tekanan luar yang sudah terlanjur dianggap normal.

2. Menabung boleh, tapi niatnya yang menentukan nilainya

ilustrasi catering
ilustrasi catering (vecteezy.com/a b)

Perempuan yang ingin berkontribusi untuk persiapan pernikahan tidak salah, selama itu datang dari inisiatif sendiri dan tidak ada yang mengharapkannya. Ikut bantu biaya dekorasi, catering, atau kebutuhan tertentu bisa masuk kategori kebaikan sukarela, bahkan berpahala kalau niatnya benar. Namun yang membedakannya dari kewajiban adalah tidak ada pihak yang menuntut, tidak ada rasa tidak enak kalau tidak dilakukan.

Selain itu, hal yang perlu diwaspadai adalah ketika kebaikan itu mulai dianggap standar oleh pihak lain. Kalau calon suami atau keluarganya sudah masukkan kontribusi perempuan ke dalam kalkulasi biaya pernikahan, itu bukan lagi kebaikan, itu sudah jadi ekspektasi yang perlu dibicarakan dengan jelas. Tidak ada yang salah dengan percakapan itu, justru lebih sehat kalau dibahas dari awal daripada didiamkan sampai jadi kebiasaan yang sulit diubah.

3. Menabung untuk diri sendiri jauh lebih penting

ilustrasi menabung
ilustrasi menabung (pexels.com/www.kaboompics.com)

Kalau memang mau menabung, arahkan ke dana darurat dulu, bukan ke wedding organizer. Banyak perempuan masuk ke pernikahan tanpa cadangan finansial sama sekali, lho. Lantas tidak punya pegangan ketika ada kebutuhan mendadak seperti pasangan sakit, pekerjaan terganggu, atau kondisi lain yang tidak bisa diprediksi.

Tabungan pribadi bukan soal tidak percaya pada pasangan, tapi soal tidak menjadi pihak yang paling rentan ketika sesuatu terjadi di luar rencana. Perempuan yang punya tabungan sendiri juga lebih bisa berpikir jernih dalam pernikahan, bukan karena bersiap untuk pisah, tapi karena rasa aman finansial mempengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Ini bukan kemandirian yang mengancam peran suami, ini justru bentuk kesiapan yang membuat pernikahan lebih stabil.

4. Patungan biaya nikah bukan tanda kesetaraan

ilustrasi patungan
ilustrasi patungan (pexels.com/www.kaboompics.com)

Ada narasi yang menyebut perempuan ikut menanggung biaya pernikahan sebagai bentuk kesetaraan dan kemandirian. Tapi kalau ditelusuri, ini lebih sering jadi indikasi bahwa laki-laki belum benar-benar siap secara finansial, bukan tanda hubungan yang setara. Ketidakmampuan calon suami menanggung biaya pernikahan bukan masalah yang harus diselesaikan dari kantong perempuan, itu sinyal yang perlu didiskusikan, bukan ditutupi dengan cara patungan.

Tapi, justru yang berbahaya dari kebiasaan ini adalah ia bisa terbawa masuk ke dalam rumah tangga tanpa disadari. Kalau sejak sebelum menikah perempuan sudah biasa menanggung sebagian biaya, ekspektasi itu berpotensi terus berlanjut setelah akad. Kejelasan peran sejak awal jauh lebih penting daripada kebiasaan yang terbentuk karena tidak ada yang berani membicarakannya.

5. Kesiapan finansial perempuan bukan soal nominal

ilustrasi siap secara finansial
ilustrasi siap secara finansial (pexels.com/www.kaboompics.com)

Perempuan yang siap menikah bukan berarti perempuan yang punya tabungan paling besar. Kesiapan finansial yang lebih relevan adalah apakah ia paham cara mengelola uang, punya dana darurat, dan tahu apa yang menjadi haknya secara finansial dalam pernikahan. Melek finansial jauh lebih berharga di dalam rumah tangga dibanding nominal tabungan yang besar tapi tidak tahu harus digunakan untuk apa.

Posisi yang paling sehat adalah menjadi mitra yang bijak, bukan pengganti peran suami. Laki-laki tetap penanggung jawab utama, perempuan hadir sebagai pendamping yang paham arah dan tidak buta soal urusan keuangan keluarga. Kalau keduanya sudah paham posisi masing-masing sejak awal, percakapan soal uang dalam pernikahan tidak perlu jadi sesuatu yang menakutkan.

Menabung untuk biaya nikah bukan kewajiban perempuan, tapi menabung untuk diri sendiri adalah keputusan yang jauh lebih bijak. Selain itu, yang perlu diluruskan bukan semangat menabungnya, tapi ke mana uang itu seharusnya diarahkan dan kenapa. Jadi, kalau selama ini kamu menabung karena ingin siap, pastikan dulu, siap untuk hidupmu atau siap untuk memenuhi ekspektasi orang lain?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy
Follow Us