Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Banyak Perempuan Merasa 'Kehilangan Diri' setelah Melahirkan?

Kenapa Banyak Perempuan Merasa 'Kehilangan Diri' setelah Melahirkan?
ilustrasi ibu tidur dengan bayi (pexels.com/RODNAE Productions)
Intinya Sih
  • Perubahan hidup setelah melahirkan terjadi sangat cepat, membuat banyak ibu kehilangan waktu pribadi dan merasa terjebak dalam rutinitas yang sepenuhnya berpusat pada bayi.
  • Identitas perempuan bergeser drastis menjadi 'ibu', sehingga sisi lain dari dirinya sering tertutupi dan memunculkan rasa kehilangan jati diri.
  • Faktor hormon, ekspektasi yang tidak sesuai realita, serta kurangnya dukungan lingkungan memperkuat beban emosional dan membuat ibu mudah merasa kosong atau tidak seperti dirinya sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menjadi ibu sering digambarkan sebagai momen paling membahagiakan dalam hidup. Banyak yang membayangkan hari-hari penuh pelukan hangat, tawa bayi, dan momen bonding yang penuh haru. Namun kenyataannya, tidak sedikit ibu yang justru merasa bingung, kosong, bahkan seperti “bukan dirinya sendiri” setelah melahirkan.

Perasaan ini sering datang diam-diam. Di tengah rutinitas menyusui, begadang, dan mengurus bayi, ada suara kecil dalam hati yang bertanya: “Aku ke mana, ya?” Kalau kamu pernah merasakan hal ini, kamu tidak sendirian. Banyak ibu mengalami hal yang sama, hanya saja jarang dibicarakan. Namun, sebenarnya kenapa banyak perempuan merasa "kehilangan diri" setelah melahirkan? Ini dia jawabannya!

1. Hidup berubah drastis, hampir tanpa jeda

ilustrasi ibu menyusui bayi (pexels.com/Wendy Wei)
ilustrasi ibu menyusui bayi (pexels.com/Wendy Wei)

Sebelum punya bayi, kamu mungkin punya rutinitas yang cukup stabil. Bisa tidur cukup, punya waktu me time, bahkan sekadar scroll HP tanpa gangguan. Setelah melahirkan? Semua berubah dalam semalam.

Jam tidur berantakan, waktu makan tidak teratur, bahkan mandi pun kadang harus curi-curi kesempatan. Hidup jadi serba tentang bayi. Pelan-pelan, kamu mulai lupa kapan terakhir melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Di titik ini, wajar sekali kalau muncul pertanyaan kecil di dalam hati: “Aku ini masih aku yang dulu bukan sih?”

2. Identitas bergeser, dari “aku” jadi “ibu”

ilustrasi ibu sedang bekerja sambil menggendong bayi (pexels.com/Sarah Chai)
ilustrasi ibu sedang bekerja sambil menggendong bayi (pexels.com/Sarah Chai)

Dulu kamu mungkin dikenal sebagai pekerja, teman nongkrong, penulis, atau apapun itu. Sekarang, hampir semua orang memanggilmu “ibunya si kecil”. Perubahan identitas ini kelihatannya sederhana, tapi dampaknya besar. Karena tanpa sadar, peran sebagai ibu jadi sangat dominan sampai menutupi sisi lain dari dirimu.

Bukan berarti jadi ibu itu buruk, ya. Justru itu peran yang luar biasa. Namun, ketika satu peran mengambil alih semuanya, rasa “kehilangan diri” itu bisa muncul.

3. Hormon juga ikut bermain

ilustrasi ibu tidur dengan bayi (pexels.com/RODNAE Productions)
ilustrasi ibu tidur dengan bayi (pexels.com/RODNAE Productions)

Setelah melahirkan, tubuh mengalami perubahan hormon yang cukup drastis. Ini bisa memengaruhi suasana hati, emosi, bahkan cara kamu melihat diri sendiri. Kadang kamu merasa sedih tanpa alasan jelas. Kadang mudah tersinggung. Kadang merasa kosong. Ini bukan karena kamu lemah. Ini bagian dari proses biologis yang memang nyata terjadi.

4. Ekspektasi vs realita yang tidak selalu sama

ilustrasi bayi sedang menangis (pexels.com/Sarah Chai)
ilustrasi bayi sedang menangis (pexels.com/Sarah Chai)

Banyak ibu punya bayangan indah tentang motherhood. Bayi tidur nyenyak, bonding terasa natural, semuanya terasa mudah. Namun, realitanya tidak selalu begitu.

Ada bayi yang rewel, sulit tidur, atau butuh digendong terus. Ada ibu yang butuh waktu untuk merasa dekat dengan bayinya. Dan itu sering memicu rasa bersalah. Dari sini, pelan-pelan muncul pikiran: “Aku kok gak seperti ibu-ibu lain ya?” Padahal, setiap perjalanan itu beda.

5. Kurangnya dukungan

ilustrasi membawa bayi dengan gendongan (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi membawa bayi dengan gendongan (pexels.com/RDNE Stock project)

Ini bagian yang cukup sensitif, tapi penting sekali. Ketika ibu harus menghadapi semuanya sendirian—kurangnya bantuan pasangan, minim support system, atau merasa tidak dipahami—beban mentalnya jadi berlipat. Capek fisik ditambah capek emosional jadi kombinasi yang membuat ibu cepat kehilangan arah. Apalagi kalau lingkungan sekitar cenderung meremehkan, misalnya bilang, “Ah, cuma ngurus bayi doang capek?” Padahal, mengurus bayi itu kerja 24 jam tanpa shift.

6. Waktu untuk diri sendiri hampir nol

ilustrasi mencium bayi (pexels.com/Sarah Chai)
ilustrasi mencium bayi (pexels.com/Sarah Chai)

Ini yang sering jadi tersangka utama. Tanpa waktu untuk diri sendiri, kamu tidak punya ruang untuk recharge. Tidak ada kesempatan untuk melakukan hal yang dulu kamu suka. Akhirnya, kamu bukan cuma hanya lelah tapi juga merasa kosong. Seolah hidup hanya tentang bertahan hari demi hari.

Jadi, kalau sekarang kamu merasa berubah, bingung, atau bahkan seperti kehilangan diri sendiri, itu bukan akhir dari segalanya. Kamu bukan hilang, hanya saja sedang berproses. Menjadi ibu bukan berarti kamu harus menghapus versi dirimu yang dulu. Justru, kamu sedang membangun versi baru—yang mungkin lebih kuat, lebih sabar, tapi juga tetap berhak punya ruang untuk dirinya sendiri. Pelan-pelan saja. Kamu tetap kamu, hanya sedang belajar menemukan bentuk yang baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us