Jakarta, IDN Times - Bunga selalu memiliki cara sendiri untuk mengajarkan manusia tentang waktu. Ia tidak terburu-buru membuka kelopak, tidak pernah memaksa musim untuk datang lebih cepat. Bahkan, ada sesuatu yang sunyi dalam prosesnya, sebuah kesabaran yang bekerja tanpa suara, hingga pada waktunya sesuatu yang semula hanya berupa kuncup berubah menjadi keindahan yang utuh.
Liliana Lim menerjemahkan filosofi tersebut melalui Florilegium, koleksi yang dipresentasikan untuk keempat kalinya di panggung The Langham Fashion Soirée, Rabu (12/8/2026). Berasal dari bahasa Latin yang merujuk pada kumpulan bunga pilihan, Florilegium menjadi metafora atas perjalanan kreatif sang desainer, yakni tentang eksplorasi, penyempurnaan, ketelitian, dan keberanian untuk terus mencari bentuk hingga setiap gagasan akhirnya menemukan tempatnya.
Namun, kali ini bunga-bunga Liliana Lim tidak tumbuh di bawah matahari musim semi. Mereka justru mekar ketika malam tiba; lebih gelap, dramatis, tenang, tetapi menyimpan kilau yang membuat mata ingin tinggal lebih lama.
