Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Koleksi Florilegium Liliana Lim: Ketika Bunga Bermekaran di Malam Hari
Koleksi Liliana Lim di The Langham Fashion Soirée. 12 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
  • Liliana Lim mempersembahkan Florilegium untuk keempat kalinya di The Langham Fashion Soirée, Rabu 12 Agustus 2026, sebagai interpretasi taman bunga yang bermekaran pada malam hari.
  • Koleksi 30 gaun malam ini memakai palet hitam, perak, emas, off-white, dan merah, dengan teknik moulage, drapery, serta material taffeta, jacquard, organza, satin, dan crinoline.
  • Kristal, mutiara, dan aksesori EPAJEWEL digunakan secara subtil untuk melengkapi struktur busana; Florilegium merepresentasikan proses kreatif Liliana Lim yang bertumpu pada eksplorasi, ketelitian, dan penyempurnaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bunga selalu memiliki cara sendiri untuk mengajarkan manusia tentang waktu. Ia tidak terburu-buru membuka kelopak, tidak pernah memaksa musim untuk datang lebih cepat. Bahkan, ada sesuatu yang sunyi dalam prosesnya, sebuah kesabaran yang bekerja tanpa suara, hingga pada waktunya sesuatu yang semula hanya berupa kuncup berubah menjadi keindahan yang utuh.

Liliana Lim menerjemahkan filosofi tersebut melalui Florilegium, koleksi yang dipresentasikan untuk keempat kalinya di panggung The Langham Fashion Soirée, Rabu (12/8/2026). Berasal dari bahasa Latin yang merujuk pada kumpulan bunga pilihan, Florilegium menjadi metafora atas perjalanan kreatif sang desainer, yakni tentang eksplorasi, penyempurnaan, ketelitian, dan keberanian untuk terus mencari bentuk hingga setiap gagasan akhirnya menemukan tempatnya.

Namun, kali ini bunga-bunga Liliana Lim tidak tumbuh di bawah matahari musim semi. Mereka justru mekar ketika malam tiba; lebih gelap, dramatis, tenang, tetapi menyimpan kilau yang membuat mata ingin tinggal lebih lama.

1. Sebuah taman yang memilih bermekaran dalam gelap

Koleksi Liliana Lim di The Langham Fashion Soirée. 12 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Ada anggapan bahwa bunga harus hadir dalam warna-warna cerah untuk disebut indah. Liliana Lim justru memilih membalik persepsi tersebut. Dalam Florilegium, taman dibayangkan setelah matahari tenggelam, ketika cahaya menjadi lebih redup dan setiap kelopak seolah memiliki rahasia sendiri.

Palet hitam, perak, emas, off-white, dan merah membentuk taman malam yang elegan. Tidak ada warna yang terasa hadir hanya untuk memenuhi ruang. Semuanya bekerja seperti cahaya bulan yang jatuh perlahan di antara dedaunan. Cukup untuk memperlihatkan bentuk, tetapi menyisakan misteri bagi siapa pun yang ingin melihat lebih dekat.

"Interpretasi bunga tidak harus identik dengan warna seperti pagi di musim semi. Saya membayangkannya sebagai taman yang bermekaran di malam hari. Elegan, bukan hanya dekoratif," ungkapnya, sebagai gagasan Liliana Lim terhadap koleksi ini, sebelum show dimulai.

Di sanalah Florilegium menemukan daya tariknya. Bunga tidak lagi sekadar lambang kelembutan, tetapi menjadi karakter yang memiliki sisi gelap, matang, dan penuh keberanian.

2. Ketika kain menjadi kelopak

Koleksi Liliana Lim di The Langham Fashion Soirée. 12 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Bagi Liliana Lim, keindahan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu memiliki struktur yang menopangnya. Selama bertahun-tahun, bahasa desainnya dibangun melalui teknik moulage, membentuk kain langsung di atas tubuh untuk menemukan siluet yang lembut sekaligus terstruktur.

Dalam Florilegium, teknik tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih artistik. Drapery yang selama ini menjadi salah satu identitas sang desainer tidak berhenti sebagai cara membangun bentuk, tetapi berubah menjadi rangkaian bunga yang membutuhkan presisi dan ketelitian tinggi.

Taffeta, jacquard, organza, satin, dan crinoline menjadi medium untuk menerjemahkan berbagai eksplorasi pola. Material-material tersebut memberikan karakter, volume, sekaligus struktur pada 30 rancangan gaun malam yang ditampilkan.

Dari kejauhan, semuanya tampak tenang. Namun semakin dekat mata mengamati, semakin banyak detail yang bermunculan, konstruksi, permainan pola, hingga lipatan kain yang seolah sedang membuka kelopak satu demi satu.

Keindahan itu tidak datang secara instan. Ia tumbuh melalui proses yang panjang, sebagaimana bunga yang membutuhkan waktu sebelum akhirnya berani memperlihatkan dirinya kepada dunia, khas DNA dari Liliana.

3. Kilau yang berbisik, bukan berteriak

Koleksi Liliana Lim di The Langham Fashion Soirée. 12 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Di taman malam, cahaya memiliki aturan yang berbeda. Ia tidak harus terang untuk menjadi indah. Justru dalam gelap, seberkas kilau kecil dapat terasa jauh lebih berarti.

Filosofi tersebut terasa dalam penggunaan kristal dan mutiara pada Florilegium. Keduanya tidak ditempatkan sebagai pusat perhatian, melainkan hadir secara subtil, seperti embun yang menangkap cahaya bulan di ujung kelopak.

Liliana Lim memahami bahwa kemewahan tidak selalu membutuhkan kilau yang berlebihan. Ada jenis kemewahan yang justru bekerja dalam keheningan, detail kecil yang baru terlihat ketika seseorang bersedia mendekat.

"Kilau bukanlah elemen yang harus mendominasi, melainkan sebuah bisikan lembut yang memperkaya karakter busana," ujarnya.

Karena itu, kristal dan mutiara tidak mengambil alih panggung dari teknik dan struktur. Mereka justru memperkuatnya, seperti bintang yang tidak berusaha mengalahkan langit malam, tetapi membuat kegelapannya terasa semakin dalam.

4. Setiap kelopak adalah hasil dari kesabaran

Koleksi Liliana Lim di The Langham Fashion Soirée. 12 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Ada sesuatu yang menarik dari bunga: di mana kita hanya melihat hasil akhirnya, tetapi jarang memikirkan berapa lama ia tumbuh sebelum akhirnya mekar. Florilegium pun mengajak kita melihat proses yang tersembunyi di balik keindahan tersebut. Setiap rancangan merupakan hasil dari eksplorasi, pengembangan pola, penyempurnaan teknik, dan pencarian bentuk yang tidak pernah benar-benar selesai.

Begitu pula perjalanan Liliana Lim. Seperti sebuah florilegium yang terdiri dari kumpulan bunga berbeda, setiap karya memiliki karakter masing-masing, tetapi ketika ditempatkan berdampingan, semuanya membentuk satu lanskap yang harmonis.

Pemaknaan koleksi kali ini seraya menunjukkan bila bunga bukan hanya dekoratif, tetapi simbol kesabaran, ketelitian, dan keberanian eksplorasi hingga bermekaran menjadi sebuah karya. Dengan begitu, bunga dalam Florilegium bukan sekadar motif. Ia adalah representasi dari proses kreatif itu sendiri. Tentang bagaimana sebuah gagasan yang kecil dapat dirawat, diuji, dibentuk ulang, lalu perlahan menemukan bentuk terbaiknya.

5. Sebuah Florilegium untuk perjalanan yang terus bertumbuh

Koleksi Liliana Lim di The Langham Fashion Soirée. 12 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Tiga puluh gaun malam dalam Florilegium pada akhirnya terasa seperti tiga puluh bunga yang tumbuh dari tanah yang sama, tetapi memilih bentuk mekarnya masing-masing. Ada asymmetrical one-shoulder dress, structured dress, hingga berbagai siluet khas Liliana Lim yang terus berkembang dari musim ke musim.

Koleksi ini bukan sekadar perayaan atas estetika, tetapi juga sebuah arsip perjalanan. Setiap lipatan kain menyimpan pengalaman, setiap konstruksi membawa hasil dari percobaan sebelumnya, dan setiap siluet menjadi bukti bahwa kreativitas tidak pernah benar-benar mencapai garis akhir. Dukungan aksesori dari EPAJEWEL turut melengkapi keseluruhan tampilan, memperkaya setiap rancangan tanpa menggeser pusat perhatian dari teknik dan struktur yang menjadi jiwa koleksi.

Melalui Florilegium, Liliana Lim menghadirkan sebuah taman yang tidak membutuhkan pagi untuk bermekaran. Hitam, perak, emas, merah, dan off-white menjadi langitnya; kain menjadi kelopaknya; sementara ketelitian, kesabaran, dan keberanian menjadi akar yang membuat seluruhnya tetap hidup.

Curated For You

Editorial Team

Related Article