Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kulit Berubah Seiring Waktu, Ini Penyebab dan Cara Sesuaikan Skincare

Kulit Berubah Seiring Waktu, Ini Penyebab dan Cara Sesuaikan Skincare
ilustrasi perempuan sedang memeriksa keadaan kulit (pexels.com/ivan-samkov)
  • Usia, perubahan hormon, cuaca, polusi, stres, gaya hidup, dan obat tertentu dapat mengubah produksi minyak, hidrasi, sensitivitas, serta elastisitas kulit.
  • Kulit dapat berminyak sekaligus dehidrasi atau kering di area tertentu; produk lama maupun bahan aktif berlebihan berisiko mengganggu skin barrier dan memicu iritasi.
  • Bedakan perubahan sementara dengan kondisi berbulan-bulan; sesuaikan rutinitas bertahap melalui pembersih lembut, pelembap, sunscreen, lalu evaluasi bahan aktif atau konsultasi dokter kulit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Punya jenis kulit yang sama sejak dulu bukan berarti kondisinya akan selalu begitu. Seiring bertambahnya usia, perubahan hormon, cuaca, stres, hingga kebiasaan sehari-hari bisa membuat kulit terasa lebih kering, berminyak, sensitif, atau bahkan mengalami kombinasi beberapa kondisi sekaligus.

Perubahan tersebut bisa membuat skincare yang dulu cocok terasa kurang efektif atau justru memicu masalah baru. Karena itu, penting menyesuaikan perawatan dengan kebutuhan kulit saat ini. Lantas, apa penyebab kulit berubah dan bagaimana cara menyesuaikan skincare? Yuk, langsung simak artikel berikut ini!

  1. 1. Usia dan hormon bisa memengaruhi perubahan jenis kulit

    ilustrasi perempuan membersihkan wajah
    ilustrasi perempuan membersihkan wajah (pexels.com/polinatankilevitch)

    Jenis kulit bisa berubah seiring usia dan perubahan kondisi tubuh. Saat remaja, lonjakan hormon dapat meningkatkan produksi minyak sehingga kulit lebih berminyak dan rentan berjerawat. Seiring dewasa, perubahan hormon dan penuaan bisa membuat kulit lebih kering, sensitif, dan kehilangan elastisitas.

    Perubahan hormon juga terjadi pada fase seperti kehamilan dan menopause. Hormon seperti kortisol dan androgen adrenal dapat memengaruhi kelenjar sebaceous sehingga produksi sebum meningkat. Jadi, jika kondisi kulit tiba-tiba berubah, faktor hormon bisa menjadi salah satu penyebabnya.

    “Perubahan hormon seperti kortisol dan androgen adrenal dapat menyebabkan perubahan pada kelenjar sebaceous, yang kemudian meningkatkan produksi sebum dan membuat kulit menjadi lebih berminyak,” ujar Dr. Michele Green, M.D., dokter kulit bersertifikasi di New York City, dikutip dari Byrdie.

  2. 2. Cuaca, lingkungan, dan gaya hidup juga bisa membuat kulit berubah

    ilustrasi perempuan membersihkan wajah
    ilustrasi perempuan membersihkan wajah (pexels.com/ronlach)

    Bukan cuma faktor dari dalam tubuh, lingkungan juga dapat memengaruhi kondisi kulit. Perubahan musim, kelembapan, sinar UV, polusi, hingga paparan AC dapat memengaruhi hidrasi dan fungsi skin barrier. Akibatnya, kulit bisa menjadi lebih berminyak, kering, atau sensitif pada waktu tertentu.

    Gaya hidup juga turut memengaruhi kondisi kulit. Kurang tidur, stres, pola makan, alkohol, kurang olahraga, dan obat-obatan tertentu dapat memicu perubahan pada kulit. Bahkan, stres kronis dapat meningkatkan kortisol yang mengganggu skin barrier dan memicu peradangan.

    “Stres kronis meningkatkan kadar kortisol, yang dapat mengganggu skin barrier, mengurangi produksi kolagen, dan meningkatkan peradangan, yang menyebabkan masalah kulit kambuh atau membuat proses penyembuhan menjadi lebih lambat,” ujar  Dr. Maryam Zamani, ahli bedah estetika wajah dan okuloplastik sekaligus pendiri MZ Skin, dikutip dari Marie Claire UK.

  3. 3. Kulit berminyak dan kering bisa terjadi bersamaan

    ilustrasi kulit berminyak
    ilustrasi kulit berminyak (freepik.com/freepik)

    Kalau beberapa bagian wajah terasa berminyak sementara area lainnya kering, bisa jadi kamu memiliki kulit kombinasi. Misalnya, T-zone seperti dahi, hidung, dan dagu lebih berminyak, sedangkan pipi terasa kering. Kulit juga bisa berminyak sekaligus dehidrasi karena kekurangan air, sehingga hidrasi tetap penting.

    Karena itu, jangan langsung memilih produk yang hanya berfokus mengurangi minyak. Perawatan yang terlalu mengeringkan justru bisa membuat kulit semakin tidak seimbang dan memicu masalah lain. Perhatikan kebutuhan tiap area wajah dan pilih produk yang menjaga kelembapan tanpa terasa berat.

    “Penting untuk memenuhi kebutuhan hidrasi sepanjang hari dengan minum air agar kulit tetap terhidrasi secara alami. Selain itu, gunakan produk yang dapat menambah hidrasi pada kulit,” ujar Kate Deery, BSN, RN, ahli estetika bersertifikasi di Clareo Plastic Surgery, dikutip dari Byrdie.

  4. 4. Produk skincare yang dulu cocok belum tentu selalu sesuai

    ilustrasi memeriksa keadaan kulit di cermin
    ilustrasi memeriksa keadaan kulit di cermin (pexels.com/olly)

    Pernah merasa produk yang dulu cocok tiba-tiba tidak lagi memberikan hasil yang sama? Hal ini bisa terjadi karena kebutuhan kulit berubah, sehingga rutinitas yang sebelumnya efektif belum tentu tetap sesuai. Menurut Dr. Michele Green, jika produk yang digunakan bertahun-tahun mulai kurang efektif, rutinitas skincare perlu dievaluasi kembali.

    Produk yang tidak sesuai dengan kondisi kulit juga bisa memicu masalah. Misalnya, produk yang terlalu mengeringkan dapat membuat kulit berminyak mengalami iritasi dan jerawat, sedangkan skincare yang terlalu berat bisa menyumbat pori-pori. Jadi, jangan terpaku pada produk lama hanya karena sebelumnya cocok.

  5. 5. Penggunaan bahan aktif secara berlebihan bisa mengganggu skin barrier

    ilustrasi menggunakan spray di wajah
    ilustrasi menggunakan spray di wajah (pexels.com/karolinagrabowska)

    Bahan aktif seperti retinoid, AHA, BHA, dan benzoyl peroxide dapat membantu mengatasi berbagai masalah kulit. Namun, penggunaan berlebihan atau tidak sesuai kebutuhan bisa mengganggu skin barrier dan membuat kulit kering, kemerahan, sensitif, atau iritasi. Kondisi ini terkadang disangka sebagai perubahan jenis kulit, padahal bisa saja disebabkan oleh rutinitas skincare.

    Karena itu, jangan langsung menambah banyak produk saat kulit bermasalah. Jika kulit lebih kering atau sensitif, kurangi frekuensi eksfoliasi dan fokus pada hidrasi serta perbaikan skin barrier. Sebaliknya, jika kulit lebih berminyak dan mudah berjerawat, pilih pelembap ringan serta produk yang membantu mengontrol minyak.

    “Bahan aktif seperti retinoid, AHA/BHA, dan benzoyl peroxide merupakan kandungan yang efektif. Namun, jika digunakan secara berlebihan atau tidak tepat, bahan-bahan tersebut dapat mengganggu skin barrier, sehingga menyebabkan kulit menjadi lebih kering, kemerahan, sensitif, atau reaktif,” ujar Dr. Alicia Gonzalez-Fernandez, dokter estetika di Beyond Medispa Skin Clinic, dikutip dari Marie Claire UK.

  6. 6. Bedakan perubahan sementara dengan perubahan yang berlangsung lama

    ilustrasi perempuan membersihkan wajah
    ilustrasi perempuan membersihkan wajah (pexels.com/ekaterinabolovtsova)

    Tidak semua perubahan pada kulit berarti jenis kulit benar-benar berubah. Kulit yang kering karena cuaca dingin, dehidrasi setelah perjalanan, atau berjerawat saat stres bisa kembali membaik setelah pemicunya hilang. Kondisi ini biasanya bersifat sementara dan tidak selalu memerlukan perubahan total pada rutinitas skincare.

    Namun, perubahan yang berlangsung selama berbulan-bulan perlu diperhatikan. Jika kulit terus terasa lebih kering, berminyak, atau sensitif meski rutinitas tidak berubah, saatnya mengevaluasi kembali kebutuhannya. Rasa perih, kemerahan, atau produk yang tiba-tiba terasa tidak nyaman juga bisa menjadi tanda untuk menyesuaikan skincare.

  7. 7. Sesuaikan skincare dengan kebutuhan kulit saat ini

    ilustrasi membersihkan wajah
    ilustrasi membersihkan wajah (pexels.com/miriamalonso)

    Ketika kondisi kulit berubah, kamu gak perlu langsung mengganti semua produk. Mulai dengan rutinitas sederhana, seperti pembersih lembut, pelembap sesuai kebutuhan, dan sunscreen. Setelah kulit stabil, evaluasi kembali bahan aktif yang dibutuhkan.

    Jangan terpaku pada label jenis kulit yang dulu kamu miliki. Perhatikan respons kulit setelah menggunakan produk dan lakukan penyesuaian secara bertahap. Jika perubahan menetap atau sulit ditangani, konsultasikan dengan dokter kulit untuk mendapat perawatan yang tepat.

    Pada akhirnya, jenis kulit bukan sesuatu yang harus kamu pertahankan selamanya seperti sebuah label. Kebutuhan kulit bisa berubah, sehingga rutinitas skincare juga perlu ikut beradaptasi agar kulit tetap sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More