Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pernah di Ambang Cerai, Agnie Imania Wildan Kini Berdayakan Perempuan
Agnie Imania Wildan, relationship coach (dok. Agnie Imania Wildan)

  • Agnie Imania Wildan mengubah pengalaman pernikahan di ambang perceraian menjadi perjalanan sebagai relationship coach, setelah mempelajari komunikasi, empati, serta mengenali diri dan pasangan.

  • Melalui Sekolah Relasi, Agnie telah mendampingi sekitar 3.200 individu dan 400–500 pasangan, dengan program daring yang membantu perempuan memahami diri, emosi, trauma, dan kesiapan mengambil keputusan.

  • Agnie menekankan hubungan sehat berawal dari self-worth, batasan, keterbukaan, kejujuran, dan kemauan berubah; seseorang tidak bisa memaksa pasangan berubah, tetapi dapat memperbaiki respons dirinya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Senin (26/10/2026)

Agnie menceritakan pengalamannya saat dihubungi IDN Times secara daring.

tahun 2020

Agnie berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.

tahun 2023

Agnie melanjutkan S2 Administrasi Bisnis di ITB.

Sejak tahun 2022

Agnie mulai membagikan cerita tentang kehidupannya di media sosial.

Kini

Agnie telah mendampingi sekitar 3200-an orang dan 400-500 pasangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Agnie mendampingi perempuan dan pasangan untuk mengenal diri serta membangun hubungan yang sehat.
  • Who?
    Agnie Imania Wildan, relationship communicator dan pendiri Sekolah Relasi, bersama psikolog dan terapis dalam sejumlah program.
  • Where?
    Pendampingan dilakukan melalui Sekolah Relasi dan program-program yang berlangsung secara online.
  • When?
    Perjalanan Agnie membagikan cerita di media sosial dimulai sejak tahun 2022. Ia menyelesaikan S1 pada tahun 2020 dan melanjutkan S2 pada tahun 2023.
  • Why?
    Luka pernikahan dan pengalaman berada di ambang perceraian mendorong Agnie membantu pasangan lain memahami relasi dan diri sendiri.
  • How?
    Agnie memberikan coaching personal, relationship checking, serta program tentang pengenalan diri, emosi, dan pemulihan dengan kolaborasi psikolog.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Agnie pernah hampir bercerai dengan suaminya, lalu belajar tentang hubungan dan mengenal dirinya sendiri. Sekarang ia membantu perempuan dan pasangan lewat Sekolah Relasi. Banyak orang datang untuk bercerita dan belajar. Agnie bilang hubungan sehat butuh jujur, terbuka, mau berubah, dan memahami diri sendiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengalaman sulit dalam pernikahan mendorong Agnie memperdalam pemahaman tentang manusia dan relasi. Dari proses itu, ia membangun pendampingan yang membantu perempuan mengenali diri, memahami emosi, menetapkan batasan, serta mempersiapkan keputusan dalam hubungan secara lebih sadar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ada perempuan yang datang kepadanya ketika hubungan pernikahannya di ujung tanduk. Ada pula perempuan yang datang dengan harapan bahwa pasangannya bisa berubah. Di depannya, banyak orang membuka sisi rapuh akan hubungan mereka yang tak kunjung membaik.

Agnie Imania Wildan bisa memahami kondisi tersebut. Sebab, relationship communicator atau relationship coach sekaligus pendiri Sekolah Relasi ini, lebih dulu pernah berdiri di ambang perceraian. Luka pernikahan yang ia alami, justru menjadi bahan bakar semangatnya untuk tidak membiarkan pasangan lain berada di posisi yang serupa.

Agnie sadar bahwa sebuah hubungan butuh terus dipelajari dan dipahami. Bukan hanya demi menyelamatkan pernikahannya sendiri, tetapi ia juga terbentuk menjadi seseorang yang terus belajar bagaimana memahami manusia secara utuh. Kini, Agnie sudah mendampingi sekitar 3.200-an orang dan 400-500 pasangan untuk menyadari bahwa hubungan yang sehat selalu bermula dari hubungan dengan diri sendiri.

Kepada IDN Times, Agnie menceritakan bagaimana perjalanannya mendampingi para perempuan untuk mencapai hubungan yang sehat. Di balik profesinya sekarang, Agnie juga hanyalah perempuan yang punya mimpi dan pergulatan untuk mengenal dirinya sendiri.

1. Meski tak menjadi psikolog, Agnie tetap menjalani panggilan hatinya sedari SMP

Agnie Imania Wildan, relationship coach (dok. Agnie Imania Wildan)

Mungkin kamu termasuk salah seorang yang kerap melihat wajah atau tulisan Agnie berseliweran di media sosial. Jauh sebelum konten-kontennya tentang relasi dikenal luas, Agnie dulunya pernah bermimpi ingin menjadi psikolog saat ia duduk di bangku SMP.

Namun, apa yang ia inginkan berbanding terbalik dengan apa yang ia alami. Pilihannya justru ditentang oleh keluarga karena tidak bisa melihat harapan akan masa depan yang bagus jika berkarier sebagai psikolog.

“Aku pengin banget jadi psikolog. Padahal saat itu, psikolog belum ngetren. Fun fact-nya, tetanggaku ada dua orang lulusan psikolog dan dua-duanya nganggur. Jadi, ayah dan ibuku gak punya background terkait dengan anaknya mau jadi psikolog itu jadi apa, tidak direstui lah intinya sama kedua orangtuaku,” ceritanya saat dihubungi IDN Times secara daring pada Senin (26/10/2026).

Belum hilang ketertarikan Agnie untuk mendalami ilmu tentang manusia, ia kemudian melanjutkan pendidikan S1 Administrasi Bisnis dan Manajemen di Universitas Sangga Buana YPKP. Kondisi keluarga yang belum memungkinkan untuk membiayai kuliah, membuat Agnie kembali mencari beasiswa.

“Aku mempelajari program studi dan lain-lain. Hanya ada di Administrasi Bisnis yang punya penjurusannya terkait dengan Human Development. Jadi, aku masuklah ke Administrasi Bisnis itu, yang mempelajari tentang manusia,” ceritanya.

Agnie berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di tahun 2020. Namun, ia sempat rehat selama tiga tahun karena hamil. Peluang beasiswa LPDP datang menghampirinya sehingga Agnie baru melanjutkan S2 Administrasi Bisnis di ITB pada tahun 2023.

“Ada gap 3 tahun sebenarnya. Tapi, selama itu juga, aku belajar tentang human development karena aku suka banget terkait dengan manusia,” imbuhnya.

Di sana, ia semakin memahami bagaimana manusia berpikir, berkembang, hingga mampu mencapai performa terbaiknya. Ketertarikannya terhadap manusia tidak pernah benar-benar hilang, hanya menemukan jalannya lewat pintu yang berbeda.

2. Krisis pernikahan justru menjadi titik balik yang mengubah kehidupan Agnie

Agnie Imania Wildan, relationship coach (dok. Agnie Imania Wildan)

Ujian besar dalam kehidupan rumah tangga mulai menghampirinya. Saat itu, kondisi pernikahan Agnie dan suami sedang di ambang perceraian. Namun saat di ujung tanduk itu, Agnie memilih untuk memperbaiki hubungan pernikahannya lewat tawaran dosennya saat duduk di bangku S2.

“Ada salah satu pelatihan terkait couple therapy. Aku ikutan karena posisinya relate dengan kondisi pernikahanku yang di ambang perceraian. Jadi, ada banyak hal dalam satu waktu yang membuatku pengin banget ambil couple therapy ini,” katanya.

Bukan untuk masa depan kariernya, Agnie hanya berpikir sederhana bahwa mungkin pelatihan ini menjadi jalan keluar atas masalah pernikahannya. Selain untuk mendukung penelitian akademiknya, Agnie benar-benar mempelajari tentang komunikasi, empati, hingga simpati terhadap pasangan.

Agnie tidak bersandar pada satu tiang. Dalam masa sulit itu, ia benar-benar mengusahakan segala hal untuk memperbaiki pernikahannya.

“Di ambang perceraian itu terus aku juga ke psikiater, aku ngikutin berapa puluh kali Trauma Processing Therapy (TPT), terus ke psikolog dan sebagainya karena memang ada banyak di dalam diri aku yang belum selesai. Nah, setelah mempelajari banyak relasi, aku sangat lebih tahu diri aku dan aku tuh lebih paham juga pasanganku," sambung Agnie.

Justru dari luka pernikahannya, ibu satu anak ini menyadari bahwa memperbaiki hubungan itu bukan soal mengubah pasangan saja. Relasi dengan orang lain juga berkaitan dengan seberapa kita mengenal diri sendiri.

Hubungannya dengan suami kemudian perlahan pulih. Ia menyadari ada perubahan besar dari bagaimana caranya merespons pasangan. Sebagai pasangan, Agnie belajar bagaimana ia bisa mengaplikasikan empati untuk memahami diri sendiri dan orang lain.

“Dulu benar-benar mau cerai, sekarang malah tumbuh jadi lebih bahagia, terus jadi lebih sehat juga gitu. Dan ternyata, ke beberapa aspek kehidupan antara aku sama suami aku itu, benar-benar berubah banget,” kata Agnie.

Sejak saat itu, Agnie memulai perjalanan barunya sebagai relationship coach atau relationship communicator. Bukan karena ambisinya sebagai praktisi, melainkan karena ia tahu bagaimana rasanya berada di titik paling rapuh dalam sebuah hubungan.

3. Berawal dari curhatan pribadi di media sosial, Agnie justru menjadi sosok yang dipercaya oleh banyak perempuan

Agnie Imania Wildan, relationship coach (dok. Agnie Imania Wildan)

Sejak tahun 2022, Agnie punya panggilan untuk membagikan cerita seputar kehidupannya di media sosial. Awalnya, Agnie ingin banyak bercerita tentang self-development. Namun, algoritma media sosial mengatakan hal yang berbeda.

“Setiap aku bikin konten self development itu gak pernah naik, gak pernah FYP. Pas aku menceritakan tentang kondisi percintaan, kondisi hubunganku yang di ambang perceraian, justru FYP di Instagram dan TikTok. Jadi, aku terkenalnya karena ngomongin soal relasi,” ujarnya.

Lama-lama, mulai banyak orang yang bercerita melalui DM (Direct Message) media sosial. Buatnya, setiap cerita bukan sekadar angin lalu. Selagi bisa, Agnie bersedia membalasnya satu per satu untuk menjawab keresahan orang-orang tentang bagaimana kesulitannya bertemu pasangan, bertengkar dengan pasangan, atau move on dari hubungan yang kandas.

Dari ratusan DM yang masuk, Agnie jadi belajar hal baru lagi bahwa setiap orang punya permasalahan yang berbeda-beda. Maka dari itu, ia kemudian mengambil sertifikasi sebagai relationship coach di International Practitioners of Holistic Medicine (IPHM) Inggris.

Baginya, lisensi bukan sekadar formalitas. Ia ingin setiap ilmu yang dibagikan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan meskipun latar belakangnya bukan berasal dari psikologi.

4. Apa bedanya psikolog dengan relationship coach?

Agnie Imania Wildan, relationship coach (dok. Agnie Imania Wildan)

Mungkin belum banyak orang familier dengan profesi relationship coach. Tak jarang, masyarakat salah paham dan mengiranya sebagai psikolog yang bisa memberikan diagnosis. Padahal nyatanya, psikolog dan relationship coach merupakan profesi yang berbeda.

Menurut Agnie, psikolog punya hak untuk bisa menegakkan diagnosis dan menentukan terapi yang tepat. Sementara itu, relationship coach hanya membahas soal cinta dan relasi yang terjadi di masa kini.

“Kan kalau psikolog itu kadang bisa flashback ya, ‘Oh kamu tuh mencintai hari ini gara-gara mungkin punya attachment style, ya kan? Oh, udah punya keterkaitan dengan hubungan sebelumnya.’ Nah, kalau di relationship coach itu gimana caranya bikin hubungan itu sehat. Apa sih yang kita butuhkan untuk menunjang hubungan yang sehat? Gimana sih sebenarnya cara komunikasi yang terbuka? Nah, itu yang sebenarnya digali di relationship. Bagiannya relationship coach itu benar-benar teknikal, benar-benar praktisi gimana caranya punya hubungan yang sehat,” jelasnya.

Sebagai relationship coach, Agnie melakukan coaching personal untuk pasangan mempersiapkan diri jelang pernikahan atau pasangan yang sebenarnya sudah menikah. Agnie juga membantu pasangan untuk melakukan relationship checking. Mencari tahu apakah hubungan mereka sehat atau tidak, stabil atau tidak, dan apa saja yang perlu ditingkatkan supaya relasinya lebih kuat.

5. Sekolah Relasi dan program-program untuk memberdayakan perempuan

Agnie Imania Wildan, relationship coach (dok. Agnie Imania Wildan)

Setelah mendampingi banyak pasangan dengan berbagai latar belakang masalah, Agnie menemukan satu pola yang berulang terjadi. Masalah besar yang terjadi dalam suatu hubungan gak melulu dari pasangan, melainkan dari diri sendiri.

Untuk itu, Agnie menjalankan kegiatannya lewat perusahaan yang ia dirikan sendiri, PT Seni Membangun Manusia, dengan membuka Sekolah Relasi. Semua kolaborasi bernaung di sana, termasuk kerja sama per orang dengan psikolog dan terapis.

Saat ini, Agnie punya tiga program yang sengaja ia buat untuk memfasilitasi para perempuan dalam mengenal dirinya. Ada Perempuan Upgrade Diri, Perempuan dan Emosi, serta Pulih untuk Mencintai.

“Perempuan Upgrade Diri itu untuk perempuan yang belajar fondasi dirinya, belajar self worth, belajar melihat kebutuhan dalam diri, belajar untuk punya standar yang sehat dalam menjalani hubungan,” tuturnya.

Manusia dikaruniai banyak sekali emosi. Namun, tidak semua orang paham dan bisa mengelola emosi tersebut dengan baik. Maka, hadirlah program Perempuan dan Emosi untuk merilis emosi. Program ini berangkat dari kesadaran bahwa keputusan menikah yang perempuan pilih itu, berasal dari emosi yang tidak sadar.

“Ketiga, Pulih untuk Mencintai. Pulih untuk Mencintai itu terapi buat perempuan-perempuan yang punya trauma, luka diselingkuhin, luka KDRT, perempuan yang bingung harus bertahan atau bercerai,” sambungnya.

Agnie menjalankan program-program ini gak sendirian. Ia berkolaborasi dengan psikolog supaya para perempuan semakin memahami bagian relasi yang terkait masalah diri sendiri yang belum selesai. Program-program ini berlangsung secara online yang terdiri dari 7 sampai 10 kali pertemuan.

Berkaca dari pengalaman hubungannya yang nyaris kandas, Agnie merasa perempuan harus dibekali oleh berbagai ilmu dan mindset yang benar. Untuk itu, ia membuat program-program tersebut supaya perempuan bisa mengukur kesiapan dirinya sebelum menikah atau sebelum mengambil keputusan yang berat.

“Tingkat perceraian di Indonesia kan tinggi banget, ya, dan terlalu impulsif diambilnya. Makanya, aku bikin beberapa program ini untuk calm down dulu sebelum akhirnya mengambil keputusan,” kata Agnie.

6. Kebahagiaan terbesarnya adalah saat melihat orang lain bisa bertumbuh dan punya hubungan yang sehat

Agnie Imania Wildan, relationship coach (dok. Agnie Imania Wildan)

Berinteraksi langsung dengan orang lain dan segala macam permasalahannya bukan hal yang mudah buat Agnie. Ia sendiri pun mengaku cukup berat menjadi seorang relationship coach, apalagi dengan karakternya yang cenderung perfeksionis.

“Misalkan ada orang yang datang ke aku, aku penginnya mereka benar-benar bawa solusi. Padahal, gak semua orang bisa begitu. Jadi, beratnya sama ekspektasi diriku sendiri,” ucapnya.

Di sisi lain, ia merasa lelahnya terbayar ketika bisa melihat ada perubahan yang positif dari klien-kliennya. Ada perasaan senang ketika melihat pasangan yang semula ingin bercerai, lalu memutuskan untuk bertahan dan berakhir memiliki pernikahan yang bahagia.

Agnie bercerita bahwa banyak klien yang akhirnya terasa seperti teman, bahkan keluarga baru. Kedekatan itu membuatnya semakin yakin bahwa pekerjaannya bukan sekadar profesi, melainkan ruang untuk bertumbuh bersama orang-orang yang sedang belajar memperbaiki hidupnya.

Meski demikian, Agnie sadar tidak semua coaching akan berhasil. Menurutnya, ada tiga modal penting yang selalu ia pegang untuk dirinya sendiri maupun pasangan, yaitu keterbukaan, kejujuran, dan kemauan untuk berubah. Kalau dari awal tidak terlihat ketiga hal itu, menurutnya agak sulit untuk seseorang bisa memiliki hubungan yang baik dan sehat.

Ada cerita yang sangat membekas di ingatan Agnie. Seorang perempuan datang dengan keluhan gaji suaminya kecil dan suaminya lebih banyak di rumah. Selang beberapa waktu, suaminya mendapatkan pekerjaan, berpenghasilan, tapi gak pernah punya banyak waktu. Perempuan itu kembali mengeluh dan berharap suaminya bisa berubah. Tak jarang, Agnie menemukan hal-hal seperti ini yang sebenarnya tidak bisa dikontrol.

Dari kisah itu, Agnie menegaskan bahwa perubahan tidak bisa dipaksakan. “Gak bisa mengubah orang ya, tapi kita hanya bisa membukakan jalan," ujarnya.

7. Sering kali akar dari suatu hubungan yang retak berasal dari diri sendiri

Agnie Imania Wildan, relationship coach (dok. Agnie Imania Wildan)

Ketika ditanya perihal apa saja masalah yang paling sering dialami pasangan, Agnie dengan yakin menjawab masalah dengan diri sendiri. Menurut Agnie, akar dari berbagai permasalahan hubungan berkaitan dengan diri sendiri. Cara merespons pasangan merupakan salah satu faktornya.

Ia mengatakan, “Kadang-kadang, yang susah itu adalah kita memaksakan pasangan melakukan apa yang kita mau. Kasus yang banyak aku temukan, perempuan berharap setelah menikah laki-laki bisa memberi semua hal hidup yang ideal. Tapi, dari awal pasangannya udah malas-malasan, gajinya segitu aja, gak ada komitmen untuk nambah pekerjaan, tapi dia berharap pasangannya berubah.”

Dari kasus tersebut, Agnie menemukan kenyataan bahwa kerap kali seseorang merasa salah memilih pasangan. Menurut Agnie, letak kesalahannya pada sudut pandang manusia yang terbatas. Ia menilai penyebabnya sering kali keliru mengenali kebutuhan diri pada saat itu, entah karena sudut pandang yang masih terbatas atau salah memaknai cinta.

Ia melanjutkan, “Seumur hidup, sepanjang hidup, kita akan mengenal diri kita dan mengenal pasangan. Gak ada yang benar-benar 100 persen kenal sama diri sendiri. Tapi, yang ada adalah kita mau belajar untuk bertumbuh dan mengambil keputusan baru.”

Untuk bisa mengenal diri lebih dalam pun caranya sederhana, Agnie mengingatkan untuk mulai memvalidasi perasaan. Ketika ada suatu hal yang bikin gak nyaman, ada orang yang memilih memendam, tapi ada juga yang reaktif. Di proses itu, tanyakan pada dirimu sendiri apa yang sedang dirasakan, apa yang membuatmu marah, apa yang membuatmu gak nyaman.

“Dari belajar memberi jeda, kita juga belajar mengenal diri kita sendiri,” sebut Agnie.

Kemauan seseorang untuk lebih mengenal dirinya sendiri menandakan bahwa ia juga mau terus memperbaiki diri. Itulah yang disebut hubungan yang sehat menurut Agnie. Hubungan yang sehat terjadi ketika seseorang bisa menjadi dirinya yang paling nyaman.

“Jadi harus dua hal, kita memang bertumbuh karena kita merasa kita makin nyaman dengan diri kita sendiri dan dengan kenyamanan diri kita sendiri, akhirnya bikin pasangan kita juga lebih nyaman sama diri kita sendiri,” ucapnya.

8. Perempuan berdaya di mata Agnie

Agnie Imania Wildan, relationship coach (dok. Agnie Imania Wildan)

Perempuan selalu dihadapkan pada banyak tantangan hidup. Di balik kuatnya seorang perempuan, mereka hanyalah makhluk hidup yang juga punya emosi dan perasaan. Sayangnya, tidak semua perempuan mampu melihat nilai dirinya dan terus menggantungkan diri pada orang lain sehingga itu berpengaruh pada bagaimana ia menjalin hubungan.

Menurut Agnie, perempuan juga perlu membuat boundaries atau batasan. Boundaries itu berkaitan dengan self-worth di mana semakin rendah self-worth, akan semakin takut seseorang untuk memasang batasan.

“Batasan itu ada ketika seseorang percaya diri. Semakin kita tahu value diri, maka kita sebenarnya lebih bisa menetapkan batasan itu daripada orang-orang yang gak tahu apa yang mau mereka kejar,” kata Agnie.

Untuk menciptakan hubungan yang sehat, juga diperlukan self-worth. Semakin tinggi self-worth diri kita, maka semakin tinggi juga kesempatan kita untuk membangun hubungan yang sehat dan bertemu pasangan yang setara.

Hal-hal seperti ini gak pernah diajarkan secara gamblang sejak kecil. Itulah yang membuat seseorang susah mengenal dirinya sendiri saat dewasa karena terbiasa mengabaikan diri sendiri sejak kecil.

Agnie juga menepis anggapan bahwa kita harus selesai dengan diri sendiri sebelum berpasangan. “Gak ada orang yang benar-benar utuh dan penuh menurut aku," katanya.

Setiap hari, selalu ada perubahan yang terjadi. Jadi, selesai dengan diri sendiri sebelum menikah atau mencintai seseorang adalah hal yang kurang tepat menurutnya. Yang lebih tepat menurut Agnie adalah seberapa mau kita untuk mengenal, mengubah, dan memperbaiki diri hari ke hari.

Ada banyak pilihan di depan mata. Ketika seseorang mampu mengambil keputusan di antara beribu-ribu pilihan dalam hidupnya, maka ia adalah seseorang yang berdaya. Perempuan pun akan selalu punya pilihan untuk bertahan atau melepaskan, memilih menunda atau tidak, memilih karier, memilih mimpinya, dan segala macam. Agnie beranggapan bahwa orang yang berdaya adalah orang yang tahu bahwa hidupnya gak berhenti di situ saja.

“Kita masih punya pilihan apa pun yang bisa meningkatkan kapasitas diri kita. Kita masih punya kebaikan apa pun yang bisa kita lakuin dan itu gak berarti bahwa apa yang kita jalanin hari ini adalah sebuah takdir. Itu hanyalah sebuah proses yang masih panjang, yang bisa kita lakuin,” lanjutnya.

Menutup obrolan hangat Agnie dengan IDN Times, ia memberikan pesan sederhana untuk perempuan yang sedang berusaha membangun kembali hidup dan hubungannya.

“Jangan pernah lelah untuk berproses. Jangan pernah menyerah ketika hari ini lagi gak sesuai dengan apa yang kamu bayangkan. Hidup itu harus terus berjalan. Mungkin yang harus kamu yakini adalah kamu berhak mendapatkan sesuatu yang baik dengan cara terbaik yang bisa kamu lakukan hari ini,” tutupnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article