“Kok seru banget sih ngelihat gen Z ini yang ngikutin tren kebaya, dan mereka tuh menaikkan lagi kebaya dan wastra. Maka dari itu aku ngobrol sama partner aku, kayaknya kita harus bikin sesuatu. Kita harus bikin sebuah movement untuk membangunkan lagi culture dan heritage yang udah ada, untuk nge-fire-in lagi sama teman-teman gen Z,” ujar Sara.
Pesta Folka Dorong Kebaya Jadi Bagian dari Gaya Hidup Gen Z

Jakarta, IDN Times - Kalau mendengar kata kebaya, sebagian orang mungkin masih langsung membayangkan kondangan, acara adat, atau pakaian yang hanya cocok dikenakan dalam suasana formal. Namun, cara pandang tersebut perlahan berubah. Di kalangan anak muda, kebaya mulai dipadukan dengan gaya yang lebih santai dan personal, membuatnya terasa lebih dekat dengan keseharian.
Melalui Pesta Folka Vol. 2 “Generasi Kebaya” digelar di Urban Forest, Cipete, Jakarta, pada 29–30 Agustus 2026 generasi muda diajak melihat kebaya dan wastra dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian. Melalui tema “Kebaya Goes Beyond: From Cultural Heritage to Youth Movement”, festival budaya Nusantara ini membawa kebaya keluar dari kesan formal sekaligus memperkenalkannya sebagai bagian dari gaya hidup dan kreativitas anak muda.
1. Kebaya bisa dimulai dari hal yang sederhana

Sara Tobing, Founder Folkacommunal, menjelaskan mengenai asal usul Pesta Folka. (IDN Times/Maura Thirza) Ketertarikan gen Z terhadap kebaya dan wastra menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Sara Tobing, Founder Folkacommunal. Ia melihat semakin banyak anak muda yang mulai mengikuti tren kebaya dan kembali mengenakan wastra.
Menurut Sara, ketertarikan tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali budaya kepada generasi yang mungkin sebelumnya merasa kurang dekat dengan kebaya dan wastra. Mengenakan kebaya tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ketika pakaian tersebut mulai masuk ke pilihan outfit sehari-hari, budaya pun bisa terasa lebih dekat tanpa kehilangan identitasnya.
2. Gak harus kondangan, kebaya juga bisa buat jalan-jalan

Berbagai aktivitas yang ada pada Pesta Folka Vol. 2 (IDN Times/Maura Thirza) Salah satu anggapan yang masih melekat pada kebaya adalah pakaian ini hanya cocok untuk acara formal. Belum lagi bayangan bahwa kebaya pasti terasa panas dan kurang nyaman untuk aktivitas di luar ruangan.
Founder Kebaya Widuri, Norah, justru ingin mengubah anggapan tersebut. Ia mengatakan Kebaya Widuri membuat campaign untuk mendorong penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebaya Widuri punya campaign baru untuk menormalisasi pakai kebaya di kehidupan sehari-hari. Mungkin kalau kepikiran kebaya kan keingatnya kondangan, selalu kepikirannya bahannya panas, harus di ruang AC. Tapi sebenarnya kebaya itu luas banget dan punya bahan yang bermacam-macam,” ujar Norah.
Campaign tersebut bahkan diwujudkan lewat kegiatan jalan sore berkebaya. Menurut Norah, cara ini menjadi salah satu upaya untuk menunjukkan bahwa kebaya juga bisa dikenakan dalam suasana yang lebih santai.
“Makanya aku dari Kebaya Widuri pengen nunjukin, bisa kok kita jalan-jalan berkebaya, nggak panas,” ujar Norah.
Dengan pilihan bahan yang sesuai dan styling yang lebih fleksibel, kebaya pun tidak harus menjadi outfit yang hanya keluar dari lemari saat ada acara tertentu.
3. Setelah dekat dengan anak muda, pesta folka bawa gerakannya ke luar negeri

(Dari Kiri) Norah Founder Kebaya Widuri, Hakim dari Folkacommunal, Sara Tobing Founder Folkacommunal dalam Media Press Conference “Kebaya Goes Beyond: From Cultural Heritage to Youth Movement." (IDN Times/Maura Thirza) Gerakan untuk mendekatkan budaya dengan anak muda kemudian diperluas melalui rencana Pesta Folka membawa ekosistem kreatif Indonesia ke luar negeri. Rooang x Pesta Folka bersama @laloolalang akan hadir di Aliwal Arts Centre, Singapura, pada 24–25 Oktober 2026. Sementara Sukaria Market dijadwalkan hadir di JAMPJ, Malaysia, pada 30 Oktober–1 November 2026.
Bagi Sara, langkah tersebut menjadi kesempatan untuk membawa brand kreatif, budaya, dan pengalaman kreatif Indonesia ke audiens regional sekaligus membuka ruang bagi local brand untuk dikenal lebih luas.
“Kami ingin membawa Indonesian creative brands, culture, dan creative experiences ke regional market, sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi local brands untuk dikenal oleh international audience. From wearing kebaya, to building a movement, to growing the creative economy, to bringing Indonesian creativity to the world,” jelas Sara.
Membuat kebaya tetap hidup di tengah generasi baru mungkin tidak selalu berarti menggunakannya dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya. Ketika anak muda diberi ruang untuk mengenakan, memadukan, dan menginterpretasikannya sesuai gaya mereka, kebaya pun punya kesempatan untuk terus menjadi bagian dari keseharian.









![[QUIZ] Kata Ikonik Upin Ipin Ungkap Seberapa Berantakan Isi Pikiranmu](https://image.idntimes.com/post/20260826/screenshot-2026-08-26-202440_7de3dd21-56ce-41d7-aca0-ff253844a4d9.png)





![[QUIZ] Dari Shio, Kamu Hoki atau Sial Soal Percintaan Bulan September](https://image.idntimes.com/post/20241109/pexels-m1nhosuy-29239471-06da9cb21925c208b6c5f4982411b31d-e1431b4cd6c32c85e814f61c75beb2c9.jpg)




![[QUIZ] Dari Outfit Kondangan, Kami Bisa Tahu Sisimu yang Gak Biasa](https://image.idntimes.com/post/20260410/benarkah-biaya-sosial-hidup-di-desa-tidak-murah-kondangan_d89f2dde-5928-4072-bc49-a580b6bc880c.jpeg)
