Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tips Menjaga Mental Health saat Work From Home, Tetap Waras!

5 Tips Menjaga Mental Health saat Work From Home, Tetap Waras!
ilustrasi work from home (pexels.com/George Milton)
  • Pisahkan area kerja dan ruang istirahat, lalu rapikan meja setelah selesai agar otak mengenali batas antara tugas profesional dan waktu pribadi.
  • Buat ritual penutup kerja seperti berjalan, mandi, atau berganti pakaian untuk menggantikan jeda perjalanan pulang dan menghentikan ritme kerja.
  • Jadwalkan kontak sosial di luar pekerjaan, batasi notifikasi setelah jam kerja, serta kenali apakah beban yang dirasakan berasal dari lelah atau kesepian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bekerja dari rumah memang bikin perjalanan ke kantor hilang, tetapi stres belum tentu hilang. Saat meja kerja ada di kamar atau ruang keluarga, batas antara jam kerja dan waktu istirahat gampang bergeser. Work from home terasa praktis, tetapi tanpa batas jelas, kamu lebih mudah mengalami isolasi dan capek yang gak kelihatan.

Masalahnya sering bukan banyaknya pekerjaan, melainkan sulit berhenti. Notifikasi masih masuk, laptop tetap terbuka, sementara interaksi dengan orang lain makin sedikit karena remote working. Supaya mental health tetap terjaga, berikut ini beberapa kebiasaan yang bisa kamu terapkan.

  1. 1. Pisahkan area kerja dari ruang istirahat

    Ilustrasi ruang kerja dengan meja, perlengkapan kerja, dan suasana produktif untuk mendukung aktivitas profesional sehari-hari.
    ilustrasi ruang kerja (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Bekerja sambil duduk di kasur memang nyaman, tetapi otak jadi menerima sinyal bahwa tempat istirahat juga tempat mengejar target. Setelah laptop ditutup, pikiran masih membawa urusan revisi, rapat, atau pesan dari atasan. Batas fisik yang kabur sering membuat batas mental ikut menghilang.

    Kamu gak harus punya ruang kerja khusus. Tentukan satu meja untuk bekerja, lalu rapikan setelah jam kerja selesai sebagai tanda pekerjaan sudah berhenti. Kebiasaan ini membantu tubuh mengenali perpindahan suasana.

  2. 2. Buat ritual penutup jam kerja

    Ilustrasi seorang perempuan membeli pastry di toko roti dalam kegiatan berbelanja makanan ringan sehari-hari.
    ilustrasi perempuan membeli pastry (magnific.com/magnific)

    Saat kantor ada di rumah, kamu kehilangan momen seperti perjalanan pulang sebagai jeda. Tanpa jeda itu, pekerjaan terasa menyambung sampai malam. Stres muncul bukan karena pekerjaan bertambah, tetapi karena otak gak mendapat sinyal untuk berhenti.

    Ciptakan pengganti perjalanan pulang yang sederhana dan konsisten. Kamu bisa mandi, berjalan sebentar, mengganti pakaian, atau keluar membeli camilan. Ritual tersebut membantu memberi penanda bahwa peran sebagai pekerja selesai dan waktu pribadi dimulai.

  3. 3. Jangan biarkan hari kerja sepi sepanjang waktu

    Ilustrasi seorang perempuan muda berbincang dengan ibunya di ruang tamu sambil duduk berhadapan dalam suasana hangat.
    ilustrasi mengobrol dengan ibu (magnific.com/shurkin_son)

    Salah satu hal yang bikin work from home terasa berat adalah hari yang terlalu sunyi. Kamu bisa menyelesaikan banyak tugas, tetapi nyaris gak punya percakapan di luar pekerjaan. Rasa terisolasi pun bisa muncul perlahan.

    Karena itu, jadwalkan interaksi yang bukan bagian dari pekerjaan. Menelepon teman saat makan siang atau mengobrol dengan keluarga sudah cukup untuk memecah pola kerja yang terlalu tertutup. Gak perlu mencari keramaian, kontak sosial sederhana sudah cukup.

  4. 4. Berhenti menjadikan selalu online sebagai bukti produktif

    Ilustrasi tangan menekan layar ponsel untuk mematikan notifikasi, dengan ikon lonceng dan pengaturan di layar.
    ilustrasi mematikan notifikasi handphone (magnific.com/magnific)

    Dalam remote working, status online sering terasa seperti tanda bahwa kamu harus selalu bisa dihubungi. Tanpa sadar, kamu mengecek pesan kerja saat makan, menjawab email sebelum tidur, atau merasa bersalah ketika gak langsung merespons. Kebiasaan itu membuat waktu pribadi kehilangan ruang karena pekerjaan tetap punya akses ke perhatianmu.

    Tentukan jam kapan notifikasi kerja berhenti masuk ke kehidupan pribadi. Sampaikan batas tersebut kepada rekan kerja bila memang diperlukan, terutama bila tim sering berkomunikasi di luar jam kantor. Produktivitas gak seharusnya diukur dari seberapa lama kamu tersedia, melainkan dari ritme kerja yang sehat.

  5. 5. Bedakan lelah kerja dan rasa sepi

    Ilustrasi seorang perempuan yang tampak lelah, menggambarkan rasa penat dan keletihan dalam aktivitas sehari-hari.
    ilustrasi perempuan lelah (magnific.com/magnific)

    Setelah bekerja dari rumah, kamu mungkin mengira ingin cuti karena pekerjaan terlalu melelahkan. Namun, yang paling terasa bisa jadi justru kurangnya percakapan atau suasana baru. Ini penting karena solusi untuk lelah dan isolasi gak selalu sama.

    Saat energi kerja turun, beristirahat memang dibutuhkan. Namun, ketika yang dominan adalah rasa sepi, mengganti suasana atau bertemu orang bisa lebih membantu daripada sekadar tidur lebih lama. Mengenali sumber beban membuat kamu gak asal menambah jam istirahat saat yang dibutuhkan sebenarnya koneksi.

    Menjaga mental health saat work from home bukan berarti membuat setiap hari terasa produktif dan menyenangkan. Yang lebih penting, kamu punya batas jelas supaya pekerjaan gak mengambil seluruh ruang hidupmu. Yuk, mulai perhatikan kebiasaan kecil yang paling sering membuatmu stres, lalu ubah satu hal yang benar-benar bisa kamu kendalikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More