Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Preview Nusanova 2.0 Sekar Jagat, Koleksi Wastra Ivan Gunawan
Koleksi Ivan Gunawan, Nusanova 2.0: Sekar Jagat, di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)
  • Ivan Gunawan menampilkan 35 look Nusanova 2.0: Sekar Jagat di The Langham Fashion Soiree 2026, Jakarta, pada 13 Agustus 2026, dengan wastra Nusantara dalam couture modern.
  • Koleksi berlandaskan filosofi motif Sekar Jagat yang merepresentasikan keberagaman budaya harmonis, diterjemahkan melalui siluet feminin, volume dramatis, dan craftsmanship presisi.
  • Sebelum runway, Nusanova 2.0 hadir sebagai pameran imersif dan meraih Rekor MURI untuk Pameran Busana Imersif Pertama Berbasis Corak Batik Sekar Jagat Madura.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indonesia layaknya sebuah taman yang tidak pernah hanya memiliki satu jenis bunga. Setiap daerah tumbuh dengan warna, motif, bahasa, dan tradisinya sendiri. Namun ketika semuanya diletakkan berdampingan, perbedaan itu tidak menciptakan jarak. Ia justru membentuk lanskap yang lebih utuh menjadi sebuah keberagaman yang hidup dalam satu kesatuan.

Semangat itulah yang kembali dibawa Ivan Gunawan melalui Nusanova 2.0: Sekar Jagat ke panggung The Langham Fashion Soiree 2026. Pada 13 Agustus 2026 di The Langham, Jakarta, sebanyak 35 look pilihan dari koleksi tersebut hadir dalam sebuah presentasi runway yang intim dan elegan.

Namun Sekar Jagat bukan sekadar tentang bagaimana kain tradisional diterjemahkan menjadi busana. Ia adalah cerita tentang identitas, tentang bagaimana warisan yang telah tumbuh jauh sebelum kita dapat mengenalnya masih mampu menemukan denyut baru di tengah dunia mode kontemporer.

1. Sebuah motif, seribu cerita tentang keberagaman

Koleksi Ivan Gunawan, Nusanova 2.0: Sekar Jagat, di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Dalam filosofi Sekar Jagat, keindahan lahir dari keberagaman yang hidup berdampingan. Motif tersebut merepresentasikan kekayaan budaya dalam satu kesatuan yang harmonis, seolah setiap fragmen memiliki cerita sendiri, tetapi tidak pernah kehilangan hubungannya dengan keseluruhan.

Ivan Gunawan mengambil filosofi itu sebagai titik berangkat untuk Nusanova 2.0. Alih-alih menjadikan warisan Nusantara sebagai sesuatu yang harus dipandang dari kejauhan, ia membawanya lebih dekat melalui bahasa couture yang modern dan sophisticated.

Ada sesuatu yang menarik dari cara koleksi ini memperlakukan tradisi. Ia tidak berusaha membekukan masa lalu dalam sebuah bingkai nostalgia. Sebaliknya, warisan tersebut diberi ruang untuk bergerak, berkembang, dan menemukan bentuk baru.

Siluet couture yang tegas namun tetap feminin, permainan volume yang dramatis, serta detail craftsmanship yang presisi menjadi cara Ivan Gunawan menerjemahkan identitas budaya ke dalam estetika masa kini. Saat tampil di runway, seolah kain-kain Nusantara sedang berkata bahwa tradisi tidak pernah benar-benar tinggal di masa lalu, mereka hanya menunggu seseorang untuk membacanya kembali.

2. Dari ruang imersif menuju runway yang lebih intim

Koleksi Ivan Gunawan, Nusanova 2.0: Sekar Jagat, di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Perjalanan Nusanova 2.0 tidak dimulai di runway. Sebelumnya, koleksi ini hadir sebagai sebuah exhibition yang mempertemukan fashion, seni instalasi, dan pengalaman imersif dalam satu ruang apresiasi budaya.

Di sana, busana tidak hanya dikenakan. Ia menjadi bagian dari pengalaman yang lebih besar, sebuah upaya untuk membawa publik masuk ke dalam cerita yang ingin disampaikan.

Pencapaian tersebut pun kemudian memperoleh pengakuan melalui Rekor MURI sebagai “Pameran Busana Imersif Pertama Berbasis Corak Batik Sekar Jagat Madura.” Sebuah pencapaian yang memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat mengambil bentuk yang jauh lebih dinamis daripada sekadar menyimpan artefak atau mengulang tradisi apa adanya.

Kini, ketika 35 look Nusanova 2.0 kembali melangkah ke runway The Langham Fashion Soiree 2026, cerita tersebut memasuki babak baru. Jika exhibition memberikan ruang bagi publik untuk menyelami dunia Sekar Jagat, maka runway menghadirkan sisi yang lebih personal. Setiap langkah model menjadi seperti halaman yang bergerak, memperlihatkan bagaimana kain, siluet, motif, dan craftsmanship dapat bertransformasi menjadi pengalaman visual yang begitu dekat dengan tubuh manusia.

3. Couture yang menjahit masa lalu dan masa depan

Koleksi Ivan Gunawan, Nusanova 2.0: Sekar Jagat, di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Ada perbedaan antara membawa tradisi ke dalam mode dan sekadar menggunakan tradisi sebagai ornamen. Nusanova 2.0 memilih jalan yang pertama. Pada 35 look yang ditampilkan, palet warna yang kaya bertemu dengan detail artistik serta konstruksi busana yang menjadi karakter Ivan Gunawan. Siluet dan volume tidak hanya digunakan untuk menciptakan kemegahan, tetapi juga untuk membangun dialog antara wastra Nusantara dan bahasa luxury fashion.

Hasilnya adalah busana yang terasa berakar, tetapi tidak terjebak pada masa lalu. Ada sesuatu yang hampir seperti paradoks di dalamnya. Semakin kuat identitas tradisional yang dibawa, semakin terasa pula keberanian untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang baru.

Barangkali memang begitu seharusnya tradisi diperlakukan. Bukan sebagai benda rapuh yang harus disentuh dengan takut-takut, melainkan sebagai akar yang justru memungkinkan sebuah pohon tumbuh semakin tinggi. Dan melalui couture, Ivan Gunawan memberi ruang bagi akar tersebut untuk menjangkau langit yang lebih luas.

4. Ketika Indonesia berjalan di panggung dunia

Koleksi Ivan Gunawan, Nusanova 2.0: Sekar Jagat, di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Fashion memiliki kemampuan untuk berbicara melampaui bahasa. Sebuah siluet dapat memperkenalkan karakter sebuah bangsa, sementara motif dapat membawa cerita sebuah daerah ke mata yang mungkin belum pernah melihatnya sebelumnya.

Karena itu, kehadiran Nusanova 2.0 di The Langham Fashion Soiree terasa seperti sebuah perjalanan kecil yang membawa cerita besar. Wastra Nusantara tidak lagi hanya berada di ruang budaya, tetapi memasuki lanskap fashion kontemporer yang sophisticated dan berorientasi global.

"Saya percaya fashion memiliki kemampuan untuk menjadi medium yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan," ujar Ivan Gunawan, sebelum peragaan berlangsung.

Kalimat tersebut menjadi semakin bermakna ketika melihat bagaimana koleksi ini dipresentasikan. Sebab yang dibawa ke hadapan audiens bukan hanya pakaian, melainkan identitas dan kebanggaan Indonesia. Harapannya pun sederhana, tetapi besar, yakni agar setiap koleksi tidak berhenti pada apresiasi terhadap keindahan busana, melainkan juga membawa cerita tentang dari mana ia berasal dan nilai apa yang hidup di dalamnya.

5. Sekar jagat dan masa depan sebuah warisan

Koleksi Ivan Gunawan, Nusanova 2.0: Sekar Jagat, di Langham Fashion Soiree. 13 Agustus 2026. (IDN Times/M. Tarmizi Murdianto)

Setiap kain tradisional pada akhirnya memiliki dua kemungkinan, antara menjadi kenangan yang perlahan dilupakan atau menemukan cara baru untuk terus hidup. Namun, Nusanova 2.0 sepertinya memilih kemungkinan kedua.

Melalui koleksi ini, Ivan Gunawan menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus berbicara dalam bahasa yang formal. Ia dapat hadir melalui couture, instalasi, pengalaman imersif, bahkan melalui sebuah runway yang intim.

Di sanalah inovasi menjadi penting. Bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan memastikan tradisi memiliki cukup ruang untuk bernapas di zaman yang terus berubah.

Keberhasilan Nusanova 2.0 hingga memperoleh Rekor MURI kemudian menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Kini, koleksi tersebut kembali membawa wastra Nusantara ke panggung yang lebih luas dengan bahasa yang elegan, progresif, dan mendunia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article