4 Novel Pendek Bergenre Horor-Domestik Karya Caroline Blackwood

- Caroline Blackwood mengangkat horor domestik dan komedi gelap untuk menyoroti tekanan keluarga, pengasuhan, relasi perempuan, serta kritik terhadap isu gender.
- The Stepdaughter dan Great Granny Webster menampilkan konflik keluarga melalui perempuan yang terjebak pengasuhan, kebencian, kemiskinan, serta anggota keluarga dengan masalah tersembunyi.
- The Fate of Mary Rose dan Corrigan mengeksplorasi paranoia, ketidakhadiran ayah, duka, dan kecurigaan terhadap relasi baru dalam keluarga melalui sudut pandang yang berbeda.
Siapa bilang kehidupan domestik itu 100 persen aman buat seseorang? Terutama untuk perempuan, kehidupan domestik bisa jadi sumber teror yang mungkin tak pernah kita sangka. Itu yang menjelaskan mengapa genre horor domestik ada dan umumnya ditulis oleh pengarang perempuan. Seperti Caroline Blackwood, nih.
Namanya mungkin gak setenar penulis klasik lain, tetapi ia seolah bangkit dari kubur lewat karya-karya lawasnya. Gaya bercerita dan genre yang diusungnya sering membuat Blackwood disandingkan dengan Shirley Jackson dan Mary Shelley. Kenalan dengannya lewat empat novel horor domestik berikut, yuk!
1. The Stepdaughter

The Stepdaughter karya Caroline Blackwood (dok. Virago/The Stepdaughter) The Stepdaughter adalah cerita J, perempuan yang diselingkuhi suaminya dan ditinggali beban pengasuhan dua anak. Satu anak berusia balita adalah anak kandung J, sementara satu lagi adalah anak tiri yang lahir dari pernikahan suaminya terdahulu. Tak punya banyak pilihan, J memutuskan untuk tetap tinggal di rumah suami yang sudah mengkhianatinya itu dengan syarat ia akan merawat si anak tiri yang bernama Renata.
Berusia remaja, lebih susah diatur, dan menurutnya mewarisi sifat-sifat buruk si ayah, J memendam rasa benci yang teramat dalam kepada Renata. Menariknya, sebagai cope mechanism, J menuliskan semua rasa kesal dan tidak nyamannya kepada teman khayalannya. The Stepdaughter adalah sebuah novela yang mengeksplorasi drama domestik dengan pendekatan psikologi. Singkat, tapi menawan.
2. Great Granny Webster

Great Granny Webster karya Caroline Blackwood (dok. Virago/Great Granny Webster) Great Granny Webster juga sebuah novela. Kehidupan domestik masih dipilih oleh Caroline Blackwood sebagai latar utama. Kali ini, ia menulisnya lewat perspektif seorang bocah perempuan 14 tahun yang tak bernama. Ia dititipkan ke rumah nenek buyutnya dua tahun setelah perang dan harus hidup dalam keadaan prihatin. Padahal, menurutnya, neneknya gak semiskin itu.
Di sisi lain, si narator berinteraksi pula dengan beberapa anggota keluarga perempuan yang kebetulan tinggal di sana selain sang nenek buyut. Mereka antara lain Tante Lavinia, sosok sosialita yang sering kabur dari rumah mewahnya untuk menghindari masalah dan tanggung jawab. Ada pula anak perempuan dari sang nenek buyut yang tinggal dikurung di rumah itu karena dianggap tak waras. Terakhir, siapa lagi kalau bukan si nenek buyut yang akhirnya meninggal karena usia dan mewariskan beberapa hal dan masalah kepada keluarganya.
3. The Fate of Mary Rose

The Fate of Mary Rose karya Caroline Blackwood (dok. Virago/The Fate of Mary Rose) Coba baca juga The Fate of Mary Rose, sebuah novel horor domestik yang cukup kompleks. Tidak seperti biasanya, Blackwood memilih memakai POV seorang ayah yang gak bertanggung jawab. Rowan namanya, seorang pria yang bekerja jauh dari anak istri dan punya selingkuhan pula di kota. Satu hari, kampung halaman Rowan yang juga tempat tinggal anak istrinya dihebohkan dengan kasus pembunuhan seorang perempuan.
Sejak itu, istri Rowan jadi paranoid. Ia mengurung putri mereka, Mary Rose, dan mengawasinya lekat-lekat, khawatir ia akan jadi korban berikutnya. Rowan yang awalnya cuek mulai risi dengan pola pengasuhan istrinya. Ia bimbang: haruskah ia mengambil Mary Rose atau membiarkannya tinggal bersama istrinya yang menurutnya sudah tak waras? The Fate of Mary Rose adalah sebuah eksplorasi tentang fatherless society dan kemunafikan patriarki.
4. Corrigan

Corrigan karya Caroline Blackwood (dok. NYRB/Corrigan) Corrigan gak kalah unik. Caroline Blackwood meramu ceritanya dari sudut pandang perempuan di keluarga Blunt. Mereka adalah Mrs. Blunt dan putrinya yang kadang berkunjung ke rumah setelah ibunya menjadi janda. Mrs. Blunt sempat mengalami shock parah setelah kematian suami yang selama ini jadi sandaran hidupnya. Ia sempat tak berbicara dan hanya termenung di kamar, seolah tak punya semangat hidup.
Khawatirnya terhadap kondisi sang ibu diperparah pula oleh pernikahannya yang gak sesuai ekspektasi. Putri Mrs. Blunt jadi sering menjenguk si ibu. Sampai suatu hari, seorang pria berkursi roda datang bertamu untuk meminta sumbangan. Menariknya, sejak bertemu dengan pria bernama Corrigan itu, Mrs. Blunt jadi punya semangat hidup lagi. Tiap hari, ia justru menanti-nanti kedatangan Corrigan. Di sisi lain, putrinya khawatir pria itu hanya memanfaatkan sang ibu untuk menguras harta keluarganya. Namun, tenang, Mrs. Blunt ternyata gak sebodoh itu, kok. Apa kira-kira yang bikin ia nyaman dengan kehadiran Corrigan?
Buku-bukunya Caroline Blackwood sepertinya cocok buat penggemar isu gender, nih. Pemilihan genre horor-domestik dengan komedi gelap memang rasanya pas untuk mengkritik isu tersebut. Kalau mengaku penggemar Shirley Jackson dan Mary Shelley, Caroline Blackwood gak boleh dilewatkan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















