Widuri Retno Ningrum, Montesori Educator dan praktisi Talent Mapping (dok. Widuri Retno)
Semua yang dilakukan Widuri bukan tanpa sebab. Perjalanan eksplorasi bakat juga gak berhenti di masa pra-remaja. Di usia dewasa pun akan ada waktunya untuk setiap orang bisa menemukan kekuatan atau potensi diri mereka.
Widuri mengatakan bahwa ia juga tidak langsung tahu apa yang menjadi bakat atau kemampuannya. Ketertarikannya terhadap dunia pendidikan anak-anak pun baru diketahui setelah menjadi ibu. Artinya, gak ada kata terlambat untuk memulai hal-hal baru.
“Itulah kenapa saya punya komunitas ibu dan anak. Selain memfasilitas playdate, saya selalu empower ibu-ibu bahwa gak ada yang terlambat. Kalau memang, contohnya kita mua sertifikasi memasak, mau sertifikasi apa pun di usia sekarang itu gak apa-apa banget,” kata Widuri.
Baginya, bakat sangat berhubungan dengan misi hidup. Manusia terlahir di dunia bukan tanpa alasan. Bukan sekadar makan dan hidup melainkan ada misi yang harus dilakukan. Justru, seorang ibu bisa menjadi contoh nyata untuk anak-anaknya bahwa proses belajar itu terjadi seumur hidup dan gak akan berhenti.
“Ibu-ibu sekarang kalau merasa bahwa dirinya gak produktif, yuk, dicari apa yang bikin kamu bermanfaat untuk sekitar. Gak usah dalam skala besar. Kita dalam keluarga aja atau orang sekitar, kita bikin sesuatu yang enjoy dan bermanfaat. Saya selalu empower ibu-ibu untuk gak ada kata terlambat buat belajar,” lanjutnya.
Sebabnya, ia memandang perempuan yang hebat itu gak pernah berhenti belajar. Mereka adalah long life learner yang menjadi madrasah utama untuk anak-anaknya. Baginya, anak-anak yang hebat juga akan lahir dari ibu-ibu yang suka belajar dan terus berprogres lebih baik setiap harinya.
“Menurut saya, perempuan itu hebat ketika mereka gak lelah dan terus mau belajar. Minimal untuk keluarga dan dirinya sendiri. Ketika ada keinginan itu maka yang lain pasti mengikuti. Ada rasa ingin terus lebih baik, ingin terus belajar, dan gak mudah puas dengan apa yang mereka ketahui saat ini,” tuturnya.
Widuri adalah bukti nyata dari definisi itu. Dari yang awalnya tidak ingin melanjutkan sekolah tapi kini berencana mengambil S2 di bidang pendidikan anak. Peran ibu menjadi pemicu kuatnya sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Dari perjalanan Widuri ini menunjukkan bahwa praktisi parenting pun tetaplah manusia biasa yang terkadang gagal, belajar, dan masih berjuang. Ia tidak malu mengakui hal itu untuk memotivasi orang lain juga bahwa perubahan besar dalam hidup gak selalu dimulai dari hal-hal besar.
Sebuah teguran, pertanyaan kecil, memunculkan keberanian yang membawa semangat untuk perempuan lain. Melalui kisahnya, ia seperti mengingatkan bahwa anak-anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna melainkan orangtua yang mau terus berusaha dan belajar menjadi lebih baik.