Jakarta, IDN Times - Revolusi selalu terdengar seperti suara yang keras. Ia datang bersama denting perubahan, runtuhnya tatanan lama, dan keberanian untuk membongkar sesuatu yang selama ini dianggap tidak tergoyahkan. Namun setelah sorak-sorai mereda, selalu ada satu pertanyaan yang tertinggal di udara, "Apa yang terjadi setelahnya?"
Pertanyaan itulah yang sepertinya mengusik Yosafat Dwi Kurniawan ketika merancang koleksi "Après la Révolution” S/S 2027. Bukan tentang revolusi sebagai peristiwa semata, melainkan tentang ruang yang muncul setelahnya, ketika manusia harus hidup dengan dunia yang telah berubah dan perlahan mencari cara baru untuk beradaptasi.
Koleksi ini dipresentasikan di Langham Fashion Soiree, hasil kolaborasi The Langham Jakarta dan Indonesia Fashion Designer Council (IFDC), pada Kamis, (13/8/2026). Di tangan Yosafat, sejarah tidak hadir sebagai sesuatu yang beku. Ia bergerak, berubah bentuk, lalu menjelma menjadi siluet yang lebih ringan, warna-warna yang meredup, dalam busana yang seolah memberi tubuh ruang untuk bernapas. Karena mungkin, setelah setiap revolusi yang paling dibutuhkan manusia bukan lagi kekuatan untuk menghancurkan, melainkan keberanian untuk membangun kembali.
