Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 MBTI Cowok yang Jago Membimbing Junior, Tegas Tapi Gak Menggurui!
ilustrasi membimbing junior (pexels.com/Thirdman)
  • ENTJ menetapkan target dan deadline dengan jelas, lalu memberi koreksi langsung pada pekerjaan tanpa mencampurkan urusan pribadi.
  • INFJ dan ENFJ mengutamakan pendekatan personal: mendengarkan kendala, menyampaikan kritik secara nyaman, serta menghargai usaha junior sebelum memberi perbaikan.
  • ESTJ dan ISTJ membimbing lewat standar kerja, contoh praktis, serta pengecekan detail agar junior mampu memperbaiki dan mengevaluasi pekerjaannya sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jadi senior di tempat kerja atau organisasi gak selalu gampang. Kamu perlu mengarahkan junior supaya bisa bekerja dengan baik, tapi bukan berarti harus mengatur setiap langkahnya.

Gaya membimbing junior bisa beda tergantung tipe MBTI, ada yang blak-blakan saat kasih kritik, ada yang pakai pendekatan personal, dan ada yang lebih suka kasih contoh langsung. Yuk, kenali lima tipe MBTI cowok berikut ini!

1. ENTJ

ilustrasi mentor (pexels.com/fauxels)

Soal target, ENTJ biasanya gak suka bikin junior menebak-nebak apa yang harus dikerjakan. Dia menjelaskan hasil yang diharapkan dan menentukan deadline sejak hari pertama tugas dibagikan. Junior bisa langsung kerja tanpa bolak-balik bertanya.

Jika hasil kerja belum sesuai harapan, ENTJ langsung menunjuk bagian yang perlu diperbaiki. Mereka langsung menunjukkan bagian yang perlu diperbaiki tanpa mencampuradukkan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi. Walau terdengar blak-blakan, junior jadi cepat tahu bagian mana yang harus dibenahi.

2. INFJ

ilustrasi membimbing bawahan (pexels.com/RDNE Stock project)

Gak semua junior langsung berani mengaku sedang kesulitan mengerjakan sesuatu. INFJ memilih mendengarkan dulu sebelum menawarkan solusi. Dari situ, masukannya jadi lebih pas dengan kendala yang dihadapi junior.

Koreksi dari INFJ lebih sering disampaikan empat mata. Dia menjelaskan bagian yang keliru tanpa mempermalukan atau menyalahkan junior. Junior pun lebih nyaman bertanya lagi kalau masih bingung.

3. ESTJ

ilustrasi memberi arahan (pexels.com/Thirdman)

Di mata ESTJ, tim yang bagus itu isinya orang yang tahu tugasnya dan bisa diandalkan. Ke junior, dia menjelaskan tugasnya sekaligus standar yang harus dipenuhi. Jadi, junior gak cuma disuruh ikut arahan, tapi juga tahu seperti apa hasil kerja yang dianggap layak.

Saat ada yang keliru, ESTJ menjelaskan cara mengerjakannya yang benar. Perbaikannya diserahkan ke junior, gak diambil alih dan gak disertai omelan. Cara ini bikin junior belajar membenahi pekerjaannya sendiri sesuai standar yang berlaku.

4. ENFJ

ilustrasi membimbing junior di kantor (pexels.com/Diva Plavalaguna)

Junior yang sebenarnya mampu masih sering ragu saat dapat tugas di luar kebiasaannya. ENFJ mendorongnya mencoba hal baru dan menunjukkan kemampuan yang mungkin belum disadarinya. Dia juga memberi ruang buat belajar sendiri, jadi gak buru-buru mengambil alih jika prosesnya belum mulus.

Meski hasil kerjanya belum memuaskan, ENFJ tetap menghargai usaha junior lebih dulu. Baru setelah itu dia menjelaskan bagian yang perlu diperbaiki, jadi kritiknya gak bikin usahanya terasa sia-sia. Hasilnya, junior bisa belajar dari kesalahan dan gak sampai meragukan kemampuannya sendiri.

5. ISTJ

ilustrasi mentor dan junior (pexels.com/Thirdman)

Penjelasan saja kadang belum cukup untuk bikin junior paham sebuah pekerjaan, dan ISTJ sadar soal itu. Dia lebih suka kasih contoh langsung, dari urutan pengerjaan sampai detail kecil yang sering terlewat. Sambil melihat prosesnya, junior ikut menangkap standar ketelitian yang dibutuhkan.

ISTJ gak cuma lihat hasil akhirnya, tapi juga ngecek detail yang sering kelewat dari mata junior. Kalau ada data yang keliru atau dokumen yang belum lengkap, dia menjelaskan letak salahnya dan cara membenahinya. Lama-lama, junior terbiasa mengecek ulang pekerjaannya sebelum diserahkan, jadi gak selalu menunggu koreksi dari senior.

Senior yang tegas tapi gak menggurui bukan berarti membiarkan junior belajar sendiri. Dia tahu kapan harus memberi arahan dan kapan cukup mendampingi. Nah, dari kelima tipe tadi, kamu paling mirip yang mana?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article