Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perbedaan OEM dan ODM, Panduan buat Kamu yang Ingin Bikin Brand

Perbedaan OEM dan ODM, Panduan buat Kamu yang Ingin Bikin Brand
ilustrasi perbedaan OEM atau ODM (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
Intinya Sih
5W1H
  • Artikel menjelaskan perbedaan utama antara sistem OEM dan ODM dalam produksi pakaian, terutama soal siapa yang membuat desain dan siapa yang memiliki hak cipta atas produk tersebut.
  • Pada sistem OEM, pemilik brand punya kendali penuh atas desain, bahan, serta detail produk, namun membutuhkan modal besar dan waktu produksi lebih lama dibandingkan ODM.
  • Sementara itu, sistem ODM menawarkan proses cepat dan biaya lebih hemat karena pabrik sudah menyediakan desain siap pakai, cocok untuk pemula dengan modal terbatas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernahkah kamu bermimpi memiliki label baju sendiri, melihat label namamu menggantung di rak toko, tapi bingung bagaimana cara memproduksinya dari nol? Dengan memahami perbedaan OEM dan ODM adalah langkah krusial bagi kamu yang ingin terjun ke industri kreatif ini tanpa harus memiliki pabrik sendiri. Kenyataannya, banyak pemilik brand lokal sukses yang memulai langkah mereka dengan bermitra bersama produsen pihak ketiga untuk mewujudkan desain impian mereka menjadi produk nyata, lho.

Kamu mungkin merasa bingung dengan istilah-istilah pabrik yang terdengar sangat teknis saat berada di dapur produksi, padahal intinya hanya soal siapa yang membuat desain dan siapa yang menjahit. Memilih sistem yang salah sejak awal bisa membuat modalmu habis untuk hal-hal yang gak perlu, atau malah membuat desainmu ditiru orang lain, lho. Jadi, simak perbedaan keduanya biar gak salah pilih.


Table of Content

1. Siapa yang membuat ide desainnya?

1. Siapa yang membuat ide desainnya?

ilustrasi perbedaan OEM atau ODM
ilustrasi perbedaan OEM atau ODM (pexels.com/Ron Lach)

Perbedaan yang paling mudah diingat adalah soal siapa "otak" di balik model pakaian tersebut. Kalau kamu memilih sistem Original Equipment Manufacturer (OEM), artinya kamulah yang punya ide, membuat sketsa, memilih jenis kain, sampai menentukan ukuran kancingnya secara detail. Pabrik di sini fungsinya murni sebagai tukang jahit yang mengikuti semua perintahmu agar baju yang dihasilkan sesuai dengan bayanganmu.

Sebaliknya, pada sistem Original Design Manufacturer (ODM), pabrik sudah punya katalog atau koleksi model baju yang sudah jadi. Kamu hanya perlu memilih model mana yang menurutmu bakal laku dijual, kemudian pabrik akan memproduksinya untukmu. Cara ini sangat disukai oleh pemula karena gak perlu repot memikirkan teknis desain yang rumit dari nol.

2. Siapa pemilik hak cipta desainnya?

ilustrasi perbedaan OEM atau ODM
ilustrasi perbedaan OEM atau ODM (pexels.com/Ron Lach)

Masalah kepemilikan desain atau intellectual property jadi hal yang sangat penting supaya bisnismu aman di masa depan. Kalau kamu menggunakan sistem OEM, desain itu sepenuhnya milikmu karena idenya murni berasal dari pemikiran dan riset yang kamu lakukan sendiri. Pabrik gak boleh memberikan atau menjual desain yang sama kepada orang lain karena secara hukum kamu merupakan pemilik sah dari karya tersebut.

Namun, di sistem ODM, biasanya desain baju tersebut menjadi milik pabrik karena merekalah yang merancangnya sejak awal. Kamu hanya diberikan hak untuk menempelkan label merekmu sendiri pada baju tersebut sebelum dijual ke pembeli. Meski lebih praktis, tapi ini berarti ada kemungkinan kamu akan melihat toko lain menjual baju dengan model yang sama persis, hanya berbeda label mereknya saja, lho.


3. Berapa modal yang harus kamu siapkan?

ilustrasi perbedaan OEM atau ODM
ilustrasi perbedaan OEM atau ODM (pexels.com/taha balta)

Kalau bicara soal uang, sistem OEM biasanya memerlukan modal yang jauh lebih besar sejak awal. Kamu perlu membayar biaya riset, membuat contoh baju (sample) berkali-kali sampai pas, hingga mencari bahan baku sendiri yang kadang harganya gak murah. Kamu sedang membayar untuk sebuah keunikan, sehingga wajar jika biaya yang dikeluarkan di awal terasa lebih menguras kantong.

Bagi kamu yang modalnya masih pas-pasan, sistem ODM kerap menjadi pilihan yang jauh lebih hemat dan masuk akal. Karena pabrik sudah membuat desain dalam jumlah banyak untuk berbagai klien, biaya pengembangan produknya jadi jauh lebih murah atau bahkan gratis. Penghematan biaya ini sangat membantu pengusaha baru untuk fokus memakai uang mereka untuk biaya promosi daripada habis di produksi.


4. Seberapa cepat baju bisa siap dijual?

ilustrasi perbedaan OEM atau ODM
ilustrasi perbedaan OEM atau ODM (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Di dunia fashion, tren berubah sangat cepat dan kamu harus adu cepat dengan kompetitor agar gak ketinggalan zaman. Memakai sistem OEM butuh waktu yang cukup lama, bisa berbulan-bulan, karena kamu harus melewati tahap konsultasi dan revisi pola yang panjang. Kamu harus punya stok kesabaran ekstra karena membuat sesuatu yang benar-benar baru dari nol memang gak bisa dilakukan secara instan.

Jika kamu tipe orang yang ingin cepat jualan mengikuti tren yang lagi viral, sistem ODM jadi jawaban yang paling tepat. Karena model bajunya sudah ada dan bahan bakunya sudah disiapkan oleh pabrik, proses produksinya bisa dilakukan dalam waktu yang sangat singkat. 


5. Bisakah memilih bahan dan detail sendiri?

ilustrasi perbedaan OEM atau ODM
ilustrasi perbedaan OEM atau ODM (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Di sistem OEM, kamu punya kendali penuh atau full control terhadap setiap bagian kecil dari pakaian yang kamu buat. Kamu bebas mau pakai kain sutra, kancing kayu, atau ritsleting warna emas supaya bajumu terlihat sangat mewah dan berbeda. Kebebasan inilah yang membuat merekmu punya ciri khas kuat yang gak bisa ditemukan di toko-toko baju pada umumnya, lho.

Sedangkan di sistem ODM, pilihanmu biasanya sangat terbatas dan kamu harus mengikuti apa yang sudah disediakan oleh pabrik. Kamu mungkin hanya dibolehkan ganti warna kain atau posisi kantong saja, tapi gak bisa mengubah bentuk dasar bajunya secara total. Ini menjadi risiko yang harus diambil jika kamu ingin proses produksi yang lebih praktis dan gak memusingkan kepala, ya.


6. Berapa banyak jumlah minimal pesanannya?

ilustrasi perbedaan OEM atau ODM
ilustrasi perbedaan OEM atau ODM (pixabay.com/Gadini)

Pabrik OEM biasanya meminta jumlah pesanan minimal atau Minimum Order Quantity (MOQ) yang jumlahnya lumayan banyak. Hal ini dikarenakan pabrik harus menyetel ulang mesin dan membuat pola baru khusus untuk pesananmu saja, sehingga butuh biaya operasional yang besar. Kamu harus siap dengan gudang yang luas karena biasanya satu kali pesan jumlahnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan potong baju.

Nah, kalau di pabrik ODM, jumlah minimal pesanan biasanya jauh lebih kecil dan lebih bersahabat buat kamu yang baru coba-coba. Pabrik gak keberatan menerima pesanan dalam jumlah sedikit karena mereka sudah terbiasa memproduksi model tersebut secara massal untuk banyak orang. Fleksibilitas ini membuatmu gak perlu takut rugi besar karena stok baju yang menumpuk di gudang gak laku terjual.


7. Siapa yang bertanggung jawab jika ada kesalahan?

ilustrasi perbedaan OEM atau ODM
ilustrasi perbedaan OEM atau ODM (pixabay.com/jpeter2)

Risiko dalam bisnis itu pasti ada, tapi siapa yang menanggungnya bisa berbeda tergantung sistem produksi yang kamu pilih. Di sistem OEM, kalau desain yang kamu buat ternyata gak enak dipakai atau ukurannya aneh, itu menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya. Pabrik hanya mengerjakan tugas sesuai instruksi, jadi kamu harus benar-benar teliti saat memberikan panduan teknis kepada mereka agar tak menyesal, ya.

Berbeda cerita kalau kamu pakai ODM, di mana pabrik biasanya sudah menjamin kualitas dan kenyamanan dari model baju yang mereka tawarkan. Karena desainnya sudah sering diproduksi dan dites, risiko baju tersebut tak layak pakai jadi jauh lebih kecil dan minim kesalahan. Memahami aturan main ini akan membantumu memilih jalan mana yang paling aman untuk bisnis yang sedang kamu bangun.


8. Jadi, pilih OEM atau ODM?

ilustrasi perbedaan OEM atau ODM
ilustrasi perbedaan OEM atau ODM (pexels.com/Ksenia Chernaya)

Menentukan mitra produksi yang pas tentu jadi keputusan besar yang akan menentukan sukses atau gagal brand pakaianmu di masa depan. Kalau kamu punya ide unik yang belum pernah ada dan punya modal cukup, ambillah jalur OEM agar merekmu punya jati diri yang kuat. Lakukan riset kecil-kecilan untuk memastikan orang-orang memang menyukai desain yang kamu buat sebelum memesan dalam jumlah yang sangat banyak.

Namun, kalau kamu masih belajar dan ingin main aman, sistem ODM jadi pilihan yang bijak agar uangmu tak cepat habis. Fokuslah pada cara berjualan dan membangun nama merekmu terlebih dahulu sampai punya banyak pelanggan setia sebelum nantinya beralih membuat desain sendiri. Memahami cara kerja produksi yang efisien adalah kunci agar bisnismu tetap bisa bertahan dan bersaing di tengah banyaknya merek baju baru yang bermunculan.

Sebenarnya gak ada pilihan yang salah antara keduanya, asalkan kamu menyesuaikannya dengan kebutuhan dan kemampuan finansialmu saat ini. Semoga dengan informasi perbedaan OEM dan ODM, kamu gak akan lagi bingung saat harus berhadapan dengan pihak pabrik atau konveksi. Jadi, kapan kamu siap memulai bisnis impianmu dan melihat produkmu dipakai oleh banyak orang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyu Kurniawan
EditorWahyu Kurniawan
Follow Us

Latest in Men

See More