Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Asal Usul dan Jenis El Nino, Fenomena Alam Pemicu Kemarau Panjang di RI
ilustrasi kemarau (Unsplash.com/Joshua Woroniecki)
  • BMKG memprediksi potensi El Nino signifikan pada musim kemarau 2026, yang dapat membuat kondisi lebih kering dari biasanya di berbagai wilayah Indonesia.
  • El Nino terjadi akibat pemanasan suhu laut di Samudera Pasifik tengah-timur, mengubah sirkulasi udara global dan menurunkan curah hujan di Indonesia.
  • Fenomena ini bisa memicu kekeringan, kebakaran hutan, serta krisis air bersih, meski beberapa wilayah masih berpotensi mengalami hujan lebat tergantung kondisi atmosfer lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
BMKG bilang nanti musim kemarau bisa lama dan kering karena ada El Nino. El Nino itu laut di Samudera Pasifik jadi panas, terus cuaca di banyak tempat berubah. Di Indonesia jadi jarang hujan dan tanah bisa kering. Sekarang orang diminta siap-siap biar gak kekurangan air dan gak ada kebakaran hutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan musim kemarau 2026 diprediksi lebih panjang dan kering dibandingkan biasanya, seiring meningkatnya potensi fenomena El Nino di Samudera Pasifik.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhesena Sopaheluwakan, mengatakan kecenderungan terjadinya El Nino pada tahun ini cukup signifikan dan perlu diantisipasi sejak dini. 

“BMKG sudah memprediksi akan terjadi El Nino di kemarau tahun ini. Kecenderungan untuk terjadinya El Nino tahun ini cukup signifikan,” ujar Ardhesena di kanal YouTube Info BMKG, dikutip Senin (25/5/2026).

Fenomena El Nino kerap dikaitkan dengan musim kemarau panjang, penurunan curah hujan, hingga meningkatnya risiko kekeringan di Indonesia.

Namun, sebenarnya apa itu El Nino dan bagaimana dampaknya bagi Indonesia?

1. Apa itu El Nino?

Ilustrasi El Nino, Netral, dan La Nina (BMKG.go.id)

Mengutip dari laman BMKG, El Nino merupakan fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Fenomena ini berdampak pada perubahan pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Istilah El Niño sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang berarti ”anak laki-laki”.

El Nino awalnya digunakan untuk menandai kondisi arus laut hangat tahunan yang mengalir ke arah selatan di sepanjang pesisir Peru dan Ekuador menjelang Natal. Para nelayan Peru kemudian menyebut fenomena ini sebagai El Nino de Navidad yang merujuk pada bayi Kristus.  

Pemanasan suhu laut di wilayah Pasifik timur tersebut kemudian diketahui berkaitan dengan anomali iklim yang lebih luas dan dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer global. 

Di Indonesia, El Nino umumnya identik dengan kondisi cuaca lebih kering dan penurunan curah hujan. BMKG menjelaskan, dampak El Nino terhadap Indonesia terjadi akibat perubahan Sirkulasi Walker atau pola sirkulasi udara di sekitar garis khatulistiwa. Saat kondisi normal, sirkulasi ini membantu pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

Namun, ketika El Nino terjadi, sirkulasi tersebut bergeser akibat melemahnya angin pasat timuran. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan awan hujan berkurang, sehingga curah hujan di Indonesia cenderung menurun.

2. Dampak El Nino di Indonesia

Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)

Beberapa negara di kawasan Amerika Latin seperti Peru akan mengalami peningkatan curah hujan saat El Nino terjadi.  Sementara di Indonesia, El Nino cenderung menyebabkan kondisi lebih kering dan berkurangnya curah hujan. 

El Nino memberikan dampak yang beragam di wilayah Indonesia, terutama terhadap curah hujan bulanan dan musiman. 

Fenomena El Nino biasanya muncul pada Juni-Juli-Agustus (JJA) hingga September-Oktober-November (SON). Pada periode tersebut, hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan. 

Sementara, pada Desember-Januari-Februari (DJF), dampaknya lebih terasa di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.  Adapun pada Maret-April-Mei (MAM), pengaruh El Nino terhadap curah hujan cenderung bervariasi di setiap wilayah. 

BMKG juga mengklasifikasikan El Nino ke dalam tiga kategori, yakni El Nino Lemah, Moderat, dan Kuat berdasarkan indeks Nino 3.4 atau anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik tengah-timur.

El Nino kuat terjadi ketika nilai indeks berada di atas 2.0, dan berlangsung konsisten selama minimal lima bulan berturut-turut. 

Pada 1997, dunia pernah mengalami fenomena Super El Nino atau El Nino Kuat yang disebut sebagai salah satu fenomena iklim paling ekstrem dalam sejarah modern. 

Di Indonesia, fenomena tersebut menyebabkan penurunan curah hujan drastis di sejumlah wilayah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

3. Apakah El Nino membuat hujan tidak turun sama sekali?

Ilustrasi kekeringan. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Meski El Nino menyebabkan penurunan curah hujan hingga lebih dari 40 persen pada sejumlah periode musim, BMKG menegaskan, fenomena ini tidak berarti hujan akan berhenti total di Indonesia. 

Dampaknya terjadi secara bertahap, karena atmosfer membutuhkan waktu untuk merespons pemanasan suhu laut di Samudera Pasifik. 

Beberapa wilayah di Indonesia masih berpotensi mengalami hujan lebat hingga cuaca ekstrem, terutama pada Desember-Januari-Februari (DJF) dan Maret-April-Mei (MAM). 

Kondisi tersebut dipengaruhi kondisi atmosfer lokal dan suhu laut di sekitar Indonesia yang masih hangat. Namun secara umum, intensitas curah hujan akan lebih rendah dibandingkan kondisi normal.

4. Apakah El Nino bisa menyebabkan bencana?

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Vladyslav Dukhin)

BMKG mengingatkan masyarakat perlu memiliki kewaspadaan ganda saat fase transisi menuju El Nino. Sebab, di satu sisi masih ada potensi hujan ekstrem dan banjir, tetapi di sisi lain masyarakat juga perlu bersiap menghadapi ancaman kekeringan berkepanjangan. 

Secara umum, El Nino dapat memicu bencana hidrometeorologi kering seperti kekeringan, kebakaran hutan, dan kebakaran lahan akibat minimnya curah hujan. 

Dalam jangka panjang, El Nino berpotensi memicu krisis air bersih, gagal panen, hingga kebakaran hutan dan lahan, hingga peningkatan suhu panas di sejumlah wilayah Indonesia.

Editorial Team

Related Article