Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Super El Nino 2026: Apa Dampaknya bagi Wisatawan Asia Tenggara?

Super El Nino 2026: Apa Dampaknya bagi Wisatawan Asia Tenggara?
ilustrasi panas matahari (pexels.com/Peter Fazekas)

Merencanakan liburan ke Asia Tenggara biasanya identik dengan menyesuaikan musim hujan dan kemarau. Tahun 2026 tampaknya bakal sedikit berbeda karena munculnya fenomena super El Nino. Kondisi ini diprediksi bikin cuaca jadi lebih panas, lebih kering, dan agak sulit ditebak.

Untuk kamu yang sudah punya rencana traveling, penting banget untuk memahami dampaknya sejak sekarang. Persiapan yang matang bisa bikin liburan tetap nyaman meski kondisi alam sedang “kurang bersahabat”.

Yuk, pahami dulu apa saja hal yang perlu kamu perhatikan sebelum berangkat!

1. Suhu lebih panas dari biasanya

ilustrasi Jakarta, Indonesia
ilustrasi Jakarta, Indonesia (unsplash.com/Achmad Al Fadhli)

Super El Nino terjadi karena suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat secara signifikan. Dampaknya terasa luas, termasuk ke Asia Tenggara dengan suhu udara yang ikut naik. Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat atau NOAA memperkirakan peluang munculnya El Nino pada pertengahan 2026 mencapai sekitar 62 persen, dengan kemungkinan menjadi sangat kuat menjelang akhir tahun.

Kenaikan suhu ini bisa mencapai 2–3 derajat Celsius di atas normal. Sekilas terlihat kecil, tapi efeknya cukup terasa saat kamu jalan-jalan di siang hari. Aktivitas seperti city tour atau eksplorasi outdoor jadi lebih cepat bikin lelah. Penting untuk menyesuaikan jadwal, misalnya memilih aktivitas pagi atau sore hari agar tetap nyaman.

2. Curah hujan berkurang dan cuaca makin tak menentu

ilustrasi kota Davao, Filipina
ilustrasi kota Davao, Filipina (pexels.com/Zsyra Lange)

Negara-negara seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, hingga Filipina berpotensi mengalami penurunan curah hujan. Kondisi ini bikin beberapa destinasi jadi lebih kering dari biasanya. Lanskap yang biasanya hijau bisa terlihat lebih pucat, terutama di area alam terbuka seperti pegunungan atau sawah.

Cuaca juga jadi lebih sulit diprediksi. Musim hujan yang biasanya datang tepat waktu bisa bergeser atau bahkan lebih singkat. Buat kamu yang mengandalkan itinerary berbasis cuaca, kondisi ini bisa jadi tantangan. Cek prakiraan cuaca secara rutin sebelum berangkat jadi langkah penting supaya rencana tetap fleksibel.

3. Risiko kabut asap meningkat

ilustrasi bencana kebakaran hutan
ilustrasi bencana kebakaran hutan (pexels.com/Soly Moses)

Kondisi kering yang berkepanjangan sering berbarengan dengan musim kebakaran hutan, terutama di beberapa wilayah Indonesia. Asap dari kebakaran ini bisa menyebar ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Dampaknya tentu saja menurunkan kualitas udara dan jarak pandang.

Kabut asap bisa mengganggu aktivitas wisata, mulai dari penerbangan yang tertunda hingga objek wisata yang ditutup sementara. Kesehatan juga jadi perhatian utama, terutama bagi kamu yang punya masalah pernapasan. Masker dan pengecekan indeks kualitas udara sebaiknya masuk daftar persiapan wajib.

4. Tekanan pada ketersediaan air

ilustrasi kolam renang hotel
ilustrasi kolam renang hotel (pexels.com/Manuel Barros)

Kondisi kering akibat El Nino bisa menyebabkan kekurangan air di beberapa daerah. Hal ini berpengaruh langsung ke sektor pariwisata, terutama di destinasi yang bergantung pada sumber air lokal. Hotel atau penginapan tertentu mungkin menerapkan pembatasan penggunaan air.

Pengalaman liburan pun bisa ikut terpengaruh. Aktivitas seperti spa, kolam renang, atau wisata air mungkin gak berjalan maksimal. Penting untuk memilih akomodasi yang punya manajemen air yang baik, terutama jika kamu traveling di periode puncak El Nino.

5. Waktu terbaik untuk traveling jadi berubah

ilustrasi Jimbaran, Bali, Indonesia
ilustrasi Jimbaran, Bali, Indonesia (unsplash.com/James Tiono)

Periode paling perlu diwaspadai adalah mulai Juli 2026 hingga awal 2027. Pada waktu ini, kondisi panas dan kering diperkirakan mencapai puncaknya. Selain suhu tinggi, kualitas udara juga berpotensi menurun, terutama di wilayah yang terdampak kabut asap.

Pilihan yang lebih aman adalah traveling di awal tahun, sekitar Januari hingga April 2026. Alternatif lain adalah menunda perjalanan ke awal 2027 saat kondisi mulai stabil. Destinasi dataran tinggi atau tempat dengan banyak aktivitas indoor juga bisa jadi opsi cerdas untuk menghindari cuaca ekstrem.

6. Strategi liburan agar tetap nyaman

ilustrasi shopping mall
ilustrasi shopping mall (pexels.com/Dex Planet)

Perencanaan jadi kunci utama saat menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Pilih destinasi dengan suhu yang relatif lebih sejuk atau punya banyak fasilitas indoor. Kota dengan museum, pusat perbelanjaan, atau tempat hiburan dalam ruangan bisa jadi pilihan menarik.

Persiapan pribadi juga gak kalah penting. Gunakan pakaian ringan, bawa botol minum sendiri, dan pastikan tubuh tetap terhidrasi. Jangan lupa sunscreen dan perlindungan tambahan dari panas. Dengan strategi yang tepat, kamu tetap bisa menikmati liburan tanpa harus terganggu cuaca.

Super El Nino 2026 memang membawa tantangan baru buat kamu yang ingin menjelajahi Asia Tenggara. Suhu yang lebih panas, cuaca yang gak menentu, hingga risiko kabut asap jadi hal yang perlu diantisipasi sejak awal. Meski begitu, bukan berarti kamu harus membatalkan rencana liburan, lho.

Persiapan yang matang dan pemilihan waktu yang tepat bisa jadi solusi agar perjalanan tetap menyenangkan. Memahami kondisi cuaca justru bikin kamu lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan. Jadi, pastikan kamu sudah merencanakan semuanya dengan baik sebelum berangkat. Liburan tetap bisa seru, asal kamu tahu cara menyiasatinya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Related Articles

See More

Super El Nino 2026: Apa Dampaknya bagi Wisatawan Asia Tenggara?

09 Mei 2026, 12:45 WIBTravel