Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

TOP 5: Utang BGN Rp1,6 Triliun hingga Es Abadi Jayawijaya Hilang Akhir 2026

TOP 5: Utang BGN Rp1,6 Triliun hingga Es Abadi Jayawijaya Hilang Akhir 2026
Koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam MBG Watch segel Kantor BGN, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)
Intinya Sih
Gini Kak
  • BGN terungkap memiliki utang Rp1,6 triliun kepada pihak ketiga dari kegiatan tahun 2025 saat dipimpin Dadan Hindayana, menurut rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI.
  • Relawan Garda Prabowo mencabut laporan terhadap mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto setelah Presiden Prabowo disebut meminta agar aduan tersebut tidak dilanjutkan.
  • BMKG memprediksi es abadi di Puncak Jayawijaya Papua akan hilang total pada akhir 2026 akibat kombinasi perubahan iklim global dan fenomena El Nino.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Terungkap Badan Gizi Nasional (BGN) memiliki utang kepada pihak ketiga sebesar Rp1,6 triliun. Utang ini terungkap dalam rapat kerja BGN dengan Komisi IX DPR RI. Utang itu muncul saat BGN dipimpin oleh Dadan Hindayana.

Sementara itu, Kelompok relawan Garda Prabowo mencabut laporannya terhadap mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, di Bareskrim Mabes Polri.

Dua berita di atas ditayangkan pada Sabtu (18/7/2026) bersama berita-berita menarik lainnya di kanal News IDN Times. Untuk mengetahui selengkpanya, berikut dirangkum dalam Top 5 News IDN Times.

1. Rincian Utang BGN Rp1,6 T Era Dadan, Ada Honor Narsum Ratusan Juta

Dalam rapat kerja Badan Gizi Nasional (BGN) dengan Komisi IX DPR RI terungkap adanya utang yang muncul dalam laporan keuangan 2025. Tercatat, nilai utang tersebut mencapai Rp1,6 triliun.

Tunggakan itu belum dibayarkan oleh BGN ke pihak ketiga. Hal tersebut terjadi ketika BGN dipimpin oleh Dadan Hindayana.

"Tunggakan tahun 2025 ada Rp1,6 triliun. Yang sudah selesai dilaksanakan maksudnya kegiatannya sudah selesai dilaksanakan, namun belum dibayarkan," kata Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.

Baca selengkapnya di sini!

2. Garda Prabowo Cabut Laporan Terhadap Tiyo Ardianto: Presiden Memaafkan

Kelompok relawan Garda Prabowo mencabut aduan masyarakat (dumas) di Bareskrim Mabes Polri terhadap mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Tiyo sempat dilaporkan ke polisi karena dianggap telah melakukan penghinaan terhadap Presiden Prabowo Subianto lantaran pernah memlesetkan SPPG sebagai Satuan Penjilat Prabowo Gibran. Padahal, SPPG merupakan singkatan dari Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).

Kuasa hukum Garda Prabowo, Ferdinand Hutahaean, mengeklaim Prabowo yang meminta agar dumas itu tak perlu dilanjutkan.

Baca selengkapnya di sini!

3. Febrie Adriansyah Belum Ditahan, Kejagung Dituding Tebang Pilih

Keraguan terhadap independensi Kejaksaan Agung dalam penanganan dugaan kasus korupsi mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, terus menguat. Salah satu indikator Kejagung tidak independen dan tak profesional terlihat dari penetapan status hukum Febrie.

Dalam pandangan lembaga kajian hukum Democratic Judicial Reform (De Jure), dua kali perubahan status hukum Febrie menunjukkan sikap kejagung yang gamang.

Baca selengkapnya di sini!

4. Menpan RB Tulis Surat 4 Halaman buat ASN, Apa Isinya?

Menteri PAN-RB RIni Widyantini menulis surat untuk seluruh aparatur sipil negara (ASN). Surat itu ditulis pada empat halaman kertas yang diunggah melalui media sosial Menpan RB.

RIni mengajak para ASN tetap fokus menjalankan amanah dari negara. Ia meminta tantangan yang ada menjadi pendorong semangat terus melayani.

Baca selengkapnya di sini!

5. BMKG: Es Abadi di Jayawijaya Papua Diperkirakan Hilang Akhir 2026

Pakar Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi lapisan es yang berada di Puncak Jayawijaya diperkirakan hilang total pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027.

Menurut BMKG, hal ini disebabkan oleh kombinasi perubahan iklim global dan El Nino yang membuat suhu semakin panas dan cuaca lebih kering di Indonesia. 

Baca selengkapnya di sini!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More